Kunci: Sabar

JIKA kita ingin banyak tahu tentang dunia, tentu kita akan bertanya, mendengar dan melihat beragam fakta tentang dunia. Semua yang kita temukan itu tentu saja tidak selamanya membuat pertanyaan-pertanyaan kita terjawab usai.
Sebabnya, dunia ini, meski bukan tujuan akhir tetapi memiliki rahasia teramat besar. Hidup yang diawali dengan lahirnya seorang anak manusia ke dunia sudah merupakan proses keilmuan dan pengetahuan hasl pandang dan pengalaman. Jika tidak, bagaimana mungkin proses yang seharusnya selalu alami itu kini diberikan opsi kemudahan, sesar.
Memulai tidak harus menunggu. Sebab menunggu adalah hal yang paling menjemukan. Tetapi, banyak yang seolah tak mau sadar terus menunggu dan menunggu. Tunggulah. Sampai kesadaran tentang apa yang ditunggu itu habis, tak bersisa.
Menjadi pribadi sendiri dan normatif sangat sulit. Pribadi yang mengerti dunia dan segala bentuk keduniawiannya. Prnak-pernik dunia yang penuh kehangatan, penuh dinamika dan penuh dengan atraksi kehidupan segala jenis makhluk Tuhan. Secara sadar kita tahu bahwa semua yang hidup ini ikut memainkan peran di dunia. Peran yang tidak akan hilang dari konsep menghidupkan dan hidup di dunia.
Jika kita terus bertanya. Setidaknya akan bertemu dengan berbagai gagasan, syukur-syukur jawaban terbaik atas setiap pertanyaan yang kita sampaikan. Percaya atau tidak yang kini dipercayai oleh manusia sebagai ilmu pengetahuan dengan bertera-tera bit file tersimpan itu hanya setitik air di tengah lautan ilmu Tuhan. Betapa kita begitu kecil dengan kehebatan ini.
Meski begitu manusia begitu pongahnya. Manusia-manusia begitu naifnya. Meski sebenarnya mereka tahu ilmu masih sedikit mereka berani berjalan dengan kepala tegak setinggi langit.
Diam. Hening. Takjub alam kepada Tuhan selama ini perlu kita sadari. Secara hakikat alam ini bisa segalanya. Alam bisa mendengar, alam bisa bicara dan alam bisa menghakimi kita seizin-Nya. Alam memiliki kuasa jika Dia menghendakinya.
Kalaupun tak semua, paling tidak kita mencoba untuk paham dan mengerti akan isyarat Tuhan. Bahwa ilmu kita masih sedikit perlu kita akui. Bahwa kita baru mencari jawaban setelah tiba kejadian-Nya tak perlu lagi kita ingkari sebagai bentuk kebodohan kita. Kelebihan-kelebihan kita hanya secuil.