DODI SYAHPUTRA MM

CATATAN JURNALISTIK DAN PERSONAL

PAYAKUMBUH GREEN CITY

DODI SYAHPUTRA

JURNALIS DI PAYAKUMBUH


Awal Ramadhan 2010 lalu, seorang konsultan marketing, teman saya, kami berdiskusi panjang lebar. Sumatera waktu itu belum demam dengan konsep green yang kini mendunia. Tidak ada salahnya, aku teman itu kalau Kota Payakumbuh mengambil sebuah ikon dan konsep nyata perubahan iklim, menjadi kota yang memotori perubahan.

 

Kami berdiskusi panjang lebar. Saking lebarnya tak termuat lagi layar chat di FB yang kami pakai. Kawan saya itu, kala itu staff konsultan marketing kota di Hermawan Kertajaya Company, sangat tertarik dengan Payakumbuh. Kawan saya orang Padang asli, kini di Jakarta. Kini, ia menjadi Asisten Direktur di Grup Eka Tjipta.

 

“Payakumbuh Clean and Green City.” Konsep ini kemudian kami rumuskan bersama. Penguatannya, selain Payakumbuh kini menjadi Kota Sehat, juga individu di Payakumbuh masih mampu digenjot SDM nya untuk memahamkan konsep ini di hidup keseharian.

 

“Payakumbuh kamu masih perawan. Masih orisinal. Meski tak ada lahan hutan khusus, tetapi dilihat dari satelit, masih kota hijau,” kata teman saya itu.

 

Memang benar. Ketika saya membuka google.map, di sana Payakumbuh terpampang sebagai kota yang green sehijaunya. Bayangkan, oksigen dunia ikut disumbangkan oleh Payakumbuh. Hijaunya Payakumbuh bukan oleh tanaman hutan, justru areal pertanian dan pertamanan serta perkebunan menarik hati. Dilihat dari luar angkasa.

 

Lalu, kami berdiskusi kembali. Tiga hari tiga malam, sambung menyambung sampai di rumah di Suliki, pun kami chatting FB. Meski sinyal susah, kami ekspresikan niat bersama untuk branding Payakumbuh mendunia.

 

Ini baru ceritanya. Kawan saya siapkan konsep matang. Konsep ide yang sungguh luar biasa menurut saya. Tidak terpikir atau terbetik di kepala para kepala organisasi pemerintah yang pintar-pintar di Payakumbuh. Idenya simpel, namun menggugah minat saya yang letih, masih berpuasa.

 

Sayang, konseptor ulung hasil didikan Marketer Asia, Hermawan Kertajaya ini dipandang enteng. Dua pejabat yang selama ini berurusan dengan wartawan dan media diutus Walikota untuk menerima teman saya ini. Saya hanya diam. Harusnya, ya kami harus terima presentasi ide yang kami sebut luar biasa ini di hadapan pejabat yang biasa saja.

 

Masalahnya bukan yang mendengarkan dan melihat presentasi itu. Tetapi, kedua pejabat ini juga bukan penentu kebijakan, bukan pula yang mau menjembatani kebijakan. Keduanya dikenal main aman. Nah lo?

 

Teman saya sempat frustasi. Sengaja, dari Jakarta, untuk ide kami ini datang ke Payakumbuh. Tapi, disambut untuk presentasi ide di ruang paling sudut, lengang tak bertuan. Memang luar biasa. Kawan saya, makin lama makin lemah hati, lalu permisi. Ia kembali.

 

Inikah mimpi? Ternyata tidak, ternyata meski tidak kami berikan tanda hak cipta apa-apa, meski baru di baliho besar luar biasa ‘gadangnya’ di berbagai kawasan di Kota Padang, telah terpampang sebuah ikon. “Padang Green City,” Oktober 2011. Setahun sejak kami presentasi tak bermakna itu.

 

Barangkali, pendapat pejabat di Payakumbuh, kami presentasi di hadapan orang yang kurang tepat. Atau, kami yang tidak tepat. Memandang saya yang tampil biasa tanpa ada kelebihan apa-apa, lalu teman saya meski parlente dan jenius, telanjur ia datang bersama saya. Mungkin.(***)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.