PAYAKUMBUH, HALUAN
Wahyu, dari lantai II Pass Televisi Payakumbuh, terheran-heran. Pagi sampai sore, Jumat (20/1) kemarin telah lima orang gila dilihatnya berkeliaran di jalan Soekarno Hatta. Gila, sebab ada yang tak berbaju, ada yang kumal membawa kantong asoy hitam tak jelas isinya dan tak beralas kaki.
“Obeh dek ambo tu. Iyo Ughang gilo tu mah (Tahu saya, itu orang gila),” kata Wahyu membenarkan ucapannya.
Haluan yang sedang berehat di lantai II Gedung Pass Televisi juga melihat. Satu lagi, orang gila, atau orang hilang ingatan. Masih muda, berambut ikal, berkulit hitam terbakar matahari, tak berbaju. Celananya pendek selutut akibat sobek-sobek dipakai lama. Ada ibu-ibu lewat di sampingnya, sambil menutup hidung. Tanda orang yang lewat itu baunya tak sedap.
Ditanyakan tentang hal ini ke Dinas Sosial Payakumbuh, Adrian, menjawab bahwa di Pemko Payakumbuh tak ada program tentang pengentasan orang gila ini. Pemko hanya bisa mengangkut mereka jika ada permintaan dan konfirmasi dari keluarga yang bersangkutan.
“Jika orang gila atau orang hilang ingatan itu sudah meresahkan, maka tugas dan tanggung jawab Satpol PP lah untuk mengamankannya,” tukas Adrian sore kemarin.
Nah, selain Payakumbuh kini makin bertambah jumlah penduduk, jumlah masalah sosial jelas akan meningkat. Pertumbuhan jumlah penduduk dari 2010 yang 160 ribu jiwa menjadi 124 ribu jiwa saat ini jelas jumlah drastis jika analisis natal atau kelahiran digunakan.
“Kita prediksi Payakumbuh kini dipandang sebagai tempat yang aman dan nyaman berinvestasi. Kita juga siap sedia jika ada masalah sosial datang bersamanya,” ujar Wakil Walikota Payakumbuh H Syamsul Bahri beberapa waktu lalu.
Di Pasar Payakumbuh sudah beragam banyaknya tampang orang gila atau hilang ingatan ini. Para pedagang di pasar susah menghafal wajah-wajah baru itu.
Epi Nanak, pedagang sate di Pasar Payakumbuh, mengaku tak bisa lagi menghafal jumlah orang kurang waras yang berkeliaran di pasar. Sudah banyak. Tinggal penanganannya saja lagi.(dod)
Like this:
Be the first to like this post.