DODI SYAHPUTRA MM

CATATAN JURNALISTIK DAN PERSONAL

KETUA LKAAM: SEJARAH ITU TAK LEPAS DARI DISTORSI

ALEK BATU PARTAMO BENTENG PERLINDUNGAN DI LUBUAK BATINGKOK

Sabtu siang (26/2). Lepas Zuhur. Rombongan Malaysia disambut pasambahan serta musik tradisi Minangkabau.

DODI SYAHPUTRA —


 


Gonjong Limo, band kesayangan Limapuluh Kota memainkan paduan musik berseirama dengan gendang, talempong dan rebana. Sajian makan siang di rumah dinas Bupati di Labuah Silang terasa nikmat disantap.

Tuanku Raja Besar, Ahmad Husaini yang keturunan asli Tuanku Ahmad Tunggal dari Koto Tangah, Bukik Barisan itu terlihat senyum menampilkan senang hatinya dengan sambutan kian bersahaja itu. Telah kali ketiga ia datang ke kampung halamannya ini.

BA 1 HS dipakai Tuanku Raja Besar. Sejak dari Bandara Internasional Minangkabau, sampai ke Pagaruyung, bergegas menuju Labuah Silang. Untuk bertemu dengan penyambutan Datuak Sori Marajo, Ketua LKAAM Limapuluh Kota sekaligus Bupati kini.

Lengkap bersama Kapolres dan Dandim, Bupati dan Wakil Bupati menyambut kedatangan rombongan saudara yang tinggal di jiran ini. Lepas itu, berkonvoi beserta rombongan pejabat daerah menuju ke Aur Baduri, Tigo Balai, Lubuak Batingkok, Kecamatan Harau.

Di sana telah menanti ribuan masyarakat. Dunsanak serta niniak mamak serta undangan resmi lainnya. Tiga tenda besar, satu tenda podium dipasang sengaja menghadap ke selatan tepat ke view Gunuang Sago. Matahari terik menambah semangat suasana.

Saat sambutan dibacakan satu per satu. Ketua LKAAM Sumbar, Yulizar Yunus Datuak Rajo Bagindo menyebut bahwa saat ini di Malaysia tradisi tulis tengah menguat. Di Minangkabau tradisi lisan harus diiring juga dengan kekuatan tradisi tulis.

Alis Marajo Datuak Sori Marajo yang Ketua Dewan Pertimbangan Adat LKAAM Sumbar, kemudian berpamungkas mengatakan bahwa adat dan budaya Minangkabau di Negeri Sembilan harus terus dipelihara. Kedekatan kedua daerah harus dijadikan sisi positif yang saling memperkuat.

Memang, seperti ungkapan Ketua LKAAM, proses menemukan sejarah asal kembali Ahmad Husaini Tuanku butuh waktu yang sangat panjang. Sejarah pasti selalu ada distorsi. Tidak selalu bisa tepat ditemukan. Hanya, berkat adanya tekad bersama, kini ditemukan ranji dan disahkannya gelar adat Tuanku Raja Besar.

Tuanku Raja Besar, sebelum meletakkan dan memasang batu pertama, Benteng Perlindungan Tuanku Ahmad Tunggal dan Tuanku Nan Garang, mengatakan, ternyata niat baik serta ketulusan para saudara dan dunsanak di kampung halaman, khususnya di Limapuluh Kota, sangat tinggi. Teruslah membangun, jika nanti ada peluang, maka Ahmad Husaini berjanji akan ikut serta membangun kampung halamannya ini.

Meriahlah tepuk tangan dan semangat orang-orang tua, ibu-ibu, sampai kanak-kanak yang hadir di Lubuak Batingkok. Di atas bukit Tigo Balai yang baru saja terhubung jalan tanah atas Gerakan Pembangunan ber Gotong Royong (Gerbang GORO) yang dicanangkan Alis Marajo-Asyrwan Yunus.

Tuanku Raja Besar berpakaian raja berselempang khas Negeri Sembilan. Bersama istri yang berbaju kebaya kuning, serta rombongan lain bersutra Malaysia. Disebut-sebut H Jeffri Datuak Rajo Lubuak Sati yang berjasa besar menemukan sejarah dan menjadi sumber berita sejarah Minangkabau-Negeri Sembilan.

Batu demi batu disusun dan disemen. Berturut-turut Ahmad Husaini Tuanku Raja Besar, Alis Marajo Datuak Sori Marajo, Ketua LKAAM Sumbar, Datuak Pucuak serta lainnya. Usai seremoni adat ini, segera akan dibangun tugu benteng Ahmad Tunggal di atas bukik Tigo Balai Lubuak Tingkok.(***)

———————

BENTENG AHMAD TUNGGAL DIBANGUN
TUANKU RAJA BESAR KUATKAN SEJARAH ASAL
LUBUAK BATINGKOK —
Tuanku Ahmad Husaini bin Hamzah, Tuanku Raja Besar dari Seremban, Negeri Sembilan Malaysia, beserta 11 anggota rombongan lakukan kunjungan ke Kabupaten Limapuluh Kota. Disambut Bupati Limapuluh Kota dr Alis Marajo Dt. Sori Marajo dan Wakil Bupati Drs Asyirwan Yunus, Sabtu (26/2) di rumah dinas Labuah Silang, Payakumbuh.
Ahmad Husaini bin Hamzah, Tuanku Raja Besar beserta istri Snalawate binti Mohd Taib, meletakkan batu pertama pembangunan monumen Benteng Perlindungan Tuanku Ahmad Tunggal dan Tuanku Nan Garang di kawasan Aur Baduri Gunung Bungsu, Jorong Tigo Balai, Nagari Lubuak Batingkok, Kecamatan Harau.
Ikut juga dalam rombongan Mohommad bin Nordin, Jamilah binti Samsudin, Mohd Zairi Abdul Razak, Mhd Ismail bin Isnin, Ahmad Najib bin Hamzah, Baharuddin bin Dahalan, Mohammad Rusdhan bin Mazlan dan Norah binti Mohammad.
Dalam catatan informasi di Koto Tangah Nagari Lubuak Batingkok yang diceritakan oleh Dt Pobo, Tuanku Ahmad Tunggal adalah anak raja ke-5 Yamtuan Imam Negeri Sembilan yang ibunya berasal dari Koto Tangah, Kabupaten Limapuluh Kota, pada saat datang mengunjungi Limapuluh Kota dan Pagaruyung pada tahun 1827 M. Tuanku Ahmad Tunggal bersama Tuanku Nan Garang terlibat peperangan Pidari dan melawan Belanda.
Pada tahun 1838-1839 Tuanku Ahmad Tunggal ditawan oleh orang Simalanggang yang pro Belanda. Kemudian Tunku Nan Garang menyelamatkan Tuanku Ahmad Tunggal dari penjara Belanda. Kemudian Tuanku Nan Garang bersama Dt.Siamang Gagok, dan Dt.Magek Malintang mengantar Tuanku Ahmad Tunggal kembali ke Seri Menanti Negeri Sembilan.
Tuanku Ahmad Husaini bin Hamzah, Tuanku Raja Besar mengatakan, kedatangannya ke lokasi benteng perlindungan Tuanku Ahmad Tunggal dan Tuanku Nan Garang, dengan penuh rasa haru bernostalgia dalam alam pikiran terhadap kakek buyutnya yang pernah berjuang melawan Belanda di Limapuluh Kota.
“Kami rasa terharu terhadap sambutan masyarakat Limapuluh Kota tempat tanah asal kami dahulunya, dan berjanji akan memberikan kebaikan kepada masyarakat tempat tanah lelehur kami ini, dan akan memberikan bantuan dalam pembangunan benteng perlindungan Tuanku Ahmad Tunggal dan Tuanku Nan Garang,” ujar Tuanku Raja Besar.
Bupati Limapuluh Kota dr Alis Marajo Dt. Sori Marajo, kedatangan Tuanku Ahmad Husaini bin Hamzah, Tuanku Raja Besar ke Limapuluh Kota merupakan kedatangan anak kemenakan dan berhasil merantau ke negeri Seberang Malaysia.
“Peristiwa ini merupakan sejarah antara Limapuluh Kota khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya dengan Negeri Sembilan yang senantiasa berusaha mempererat kembali hubungan silaturahim masyarakat serumpun antara kedua Negara,” ujar Alis Marajo
Tuanku Ahmad Tunggal

Pada zaman Belanda Simalanggang menjadi pusat perniagaan emas dan kopi .Tuanku Ahmad Tunggal dan Tuanku Nan Garang, menentang kebijakan Van Den Bosh dari pihak Belanda dan kemudian berpihak kepada perniagaan Ingris yang ketika itu berpusat di Pulau Pinang.
Di Luak Lima Puluah Koto ada nama nagari Tiga Batur, Sarilamak, Batu Balang, Mungka, Batu Hampar, Payakumbuh, Tigo Nenek (Tigo Balai) yang menjadi nama suku bagi masyarakat Negeri Sembilan dan di Melaka yang berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota. Sedangkan nama nagari Sungai Naniang, Koto Baru, Pakan Rabaa menjadi nama daerah di Negeri Sembilan.
Tuanku Ahmad Tunggal, adalah ayah dari Tuanku Besar Burhanuddin di Srimenanti, ialah kakek dari Tuanku Ampuan Najihah adik beradik. Tentu saja adalah kakek dari Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan ketika ini. Setelah 150 tahun terlena, maka kesilapan itupun terkuak ketika seorang muda di Negeri Sembilan, bernama Ahmad Husaini Bin Hamzah bin Muhammad Illyas bin Jamin bin Ahmad Tungga ternyata tak rela ketika nama kakeknya yang jelas bermakam di komplek makam raja-raja di Serimenanti tiba-tiba hilang tak berimba.

Ahmad Husaini Bin Hamzah bin Muhammad Illyas bin Jamin bin Ahmad Tungga pun kembali ke Tanah Pangkal Minangkabau menelusuri tapak rumah sang kakek yang dulu ditinggalkan dengan membawa duplikat kebesaran yang dulu dipakai sang kakek, ia pulang menyerahkan kembali kepada ninik mamak di Limapuluh Kota.

Pada 27 Desember 2009 , gayung-pun bersambut. Sepakat Ninik Mamak dan pemuka adat di Balai Adat Situjuh Banda Dalam, sepakat ninik mamak di Balai Paranginan Koto Tangah, sepakat pula ninik mamak di Balai Nan Panjang Koto Laweh.

Tak kurang pembenaran sejarah dan pengukuhan dari pembenaran penelusuran yang dilakukan dan dibenarkan oleh ketua LKAAM Limapuluh Kota Dr.Alis Marajo Datuk Sori Marajo, dan di hadiri dua Bupati sekaligus, ialah Bupati Tanah Datar Ir M Shadiq Pasadigoe SH dan Bupati Kabupaten Limapuluh Kota Drs Amri Darwis kala itu, bertempat di Balai Nan Panjang Koto Laweh, Ahmad Husaini Bin Hamzah bin Muhammad bin Jamin bin Ahmad Tungga resmi kembali memakai gelar Tuanku Raja Besar.

Dikukuhkan bersama seorang Montinya Rangkayo Bosa Batuah untuk dibawa kembali ke Negeri sembilan Malaysia. Sampai kini, Tuanku Raja Besar telah menemukan sejarah lama yang telah 1,5 abad dicari leluhurnya di Malaysia.

Ribuan masyarakat menyaksikan kegiatan di lereng Gunuang Bungsu berhadapan dengan Gunuang Sago ini. Meski panas, masyarakat mengaku hendak menyaksikan langsung alek besar dua negara ini.

“Kami pun hendak melihat dan bersalaman langsung dengan Pak Alis Marajo,” aku Nek Timah yang datang dari Tigo Simpang.

TEDY S: KITA AWASI DENGAN SEKSAMA

KUNJUNGAN LAPANGAN, PROYEK DITINJAU KOMISI B

LAREH SAGO HALABAN —



Turun langsung ke lapangan. Lima titik proyek fisik bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) ditinjau oleh Komisi B DPRD Kabupaten Limapuluh Kota bersama Sekda Resman dan Kadinas PU Yusdianto Yuswar, Selasa (22/2).

DODI SYAHPUTRA —

Proyek bencana yang santer diributkan itu, seluruhnya dalam status Penunjukan Langsung (PL) seluruhnya berjumlah Rp4 miliar. Dikerjakan di 37 titik bencana.

Tedy Sutendi, sang Ketua Komisi B memimpin peninjauan. Senin, sehari sebelumnya telah digelar rapat kerja antara eksekutif dipimpin Sekda dengan Komisi B.

Raker yang mendengarkan penjelasan proyek bencana ini, mulai dari proses Perbup BPBD sampai dicairkannya dana bencana ini ke Limapuluh Kota.

Makanya, seluruh titik proyek bencana akan ditinjau secara maraton. Kemarin, di Daerah Irigasi Lurah Bukik, Balai Panjang Lareh Sago Halaban ditinjau secara seksama. Komisi B yang diketuai Tedy Sutendi, Indra Nofrianto yang Wakil Ketua, bersama anggota Dedi Harianto, Wardi Munir, Wendi Chandra Dt. Marajo, Muzanif, Dt. Paduko Sindo, Marnidawati, Ridho Ilahi, E. Dt. Junjungan, Alisman, H. Nur.

Di titik ini proyek bendungan senilai Rp99.134.000,- ini telah bisa dikatakan selesai. Saat turun lapangan kali ini, telah terpampang plang proyek lengkap. Sedang, saat turun lapangan sebelumnya, belum ada plang keterangan proyek apapun.

Dari bincang lapangan, diketahui bahwa di temnpat yang sama, 2009 lalu juga telah dikerjakan pekerjaan bendungan. Sama persis.

Sekda dan Kadinas PU menjelaskan, bahwa proyek ini belum seluruhnya dibayarkan. Saat finalisasi nanti akan dihitung komposisi kerja. Misalnya, di titik ini, pasir dan air tidak perlu diadakan.

“Sebab sudah ada bahan-bahan ini lokasi proyek. Semen saja, nih, modalnya dibeli,” ujar Tedy Sutendi.

Yusdianto Yuswar menegaskan, bahwa bendungan air yang sedang dikerjakan ini belum PHO atau serah terima kepada PPTK. Saat nantinya di PHO, maka akan ada verifikasi alat dan bahan kerja yang berhubungan dengan pembayaran berkesuaian.

Di dekat lokasi itu, juga ditemukan titik kerja bendungan. Sampai ke Sungai Kamuyang juga ditinjau tiga titik kerja.

Komisi B masih bersikeras adanya pemaksaan dikatakan titik bencana. Sebab di beberapa lokasi hasil peninjauan sebelumnya, (7/2) lalu ditemukan pengerjaan yang asal-asalan sebab tidak ada plang yang menyebutkan volume kerja.

Terlepas dari hal ini, disebutkan Yusdianto, sejak mula proses mendapatkan dana bantuan bencana ini telah formal dan sesuai aturan. Makanya, dana tersebut dimasukkan list bantuan untuk Limapuluh Kota dan kini telah dilaksanakan 37 titik proyek bencana.

BERLUMPUR

Jalan menuju Lurah Bukik memang sulit. Belum beraspal. Jalan batu keras dan menyulitkan kendaraan angkut L-300 milik DPRD, Inova Sekda dan Ford Dinas PU.

Tetapi, saat mendaki ke Sungai kamuyang justru lebih berat lagi. Jalan tanah terjal di atas bukit yang sempit dibasahi hujan semalam membuat jalan berlumpur.

Inova Sekda terpaksa harus tergelincir. Sebelumnya, L-300 DPRD yang terpaksa didorong bersama Komisi B

sebab terjebak lumpur.

Saat Inova Sekda terbenam inilah insiden terjadi. Resman yang mendorong kendaraan saat menikung dan mendaki itu, melawan lumpur. Rodanya menggelinding kencang tapi mobil tak bergerak.

Staf PU ikut membantu. Namun, akibatnya, gelindingan roda menyebabkan baju dinas Sekda dan staf serta seorang wartawan yang ikut meninjau lokasi berlumpur.

Resman terpaksa bersabar dengan keadaan. Arena yang berat di Limapuluh Kota telah dipahaminya. Ia mahfum.

Sungai Kamuyang, harus ditempuh berjalan kaki. Arah bawah bukit. Jalannya pun kecil dan harus bertitik peluh. Di bawah bukit itu, baru tampak tiga titik proyek bendungan dikerjakan.

Tedy Sutendi kemudian mengatakan pelan.

“Pak Sekda dan Kadinas PU. Salah satu permintaan kami ya ini. Kalau bisa pembinaan kontraktor lokal digiatkan. Jangan malah, mayoritas proyek dikerjakan kontraktor luar daerah,” tukasnya.

Memang, umumnya proyek bencana ini dikerjakan oleh pemborong luar daerah. Sistem penunjukan langsung membolehkan. Sesuai dengan Perpres 54 Tahun 2010.

Komisi B tidak hanya hari itu saja meninjau. Hari ini, ke Maek akan ditinjau pula kondisi yang sama. Akankah, peninjauan ini berbuntut dibentuknya Pansus BPBD?

“Tentunya kita kumpulkan data lebih lengkap. Kita lihat langsung dan kita amati benar-benar. Soal proses formalnya pun tengah kami bahas di dalam. Selaku fungsi pengawasan, kami bekerja di bidang ini. Soal teknis, tentunya kita tidak ikut campur,” aku Tedy Sutendi yakin.

Saat ke lapangan lalu, ke lokasi-lokasi ditemukan ada proyek tanpa plang, tanpa volume kerja, ada pula yang menggunakan bahan pasir yang tidak standar. Menemui kejanggalan ini, Senin (14/2) dilanjutkan rapat kerja komisi di DPRD bersama eksekutif.

Memang, secara proses kerja BPBD atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah memperoleh bantuan pusat. Namun, pengerjaan dan proses kerjanya dipandang banyak kecurangan.

Sementara itu, sejak dijelaskan oleh Kadinas PU tentang proses mendapatkan bantuan fisik bencana, rehab/rekons senilai Rp5 miliar, 677 juta, 440 ribu ini belum dijelaskan kembali tentang proyek tanpa tender

atau penunjukan langsung senilai Rp4 miliar.

37 proyek ini, nilainya hampir serupa di kisaran Rp98 juta sampai Rp99 juta. Memang menurut Perpres 54 tahun 2010 tentang Pangadaan Barang dan Jasa Pemerintah, nilai ini ditunjuk langsung kepada kontraktor pelaksana.

Namun, Komisi B di lapangan hari itu, menemukan kejanggalan nilai proyek dengan ketidaksesuaian volume kerja serta bahan yang digunakan. “Kita akan usut tuntas tentang hal ini. Terlihat banyak yang dikondisikan,” ujar Tedy Sutendi.

Tedy Sutendi yang Ketua Komisi B, bersama Indra Nofrianto yang Wakil Ketua, bersama anggota Dedi Harianto, Wardi Munir, Wendi Chandra Dt. Marajo, Muzanif, Dt. Paduko Sindo, Marnidawati, Ridho Ilahi, E. Dt. Junjungan, Alisman, H. Nur, turun ke lapangan melihat langsung proses kerja dan hasil proyek bencana ini.

I’m Confused

Sehari ini, hanya berputar-putar tak menentu. Kalut, bingung, entah apa yang terjadi.
Memang, soal fisik sudah renta walau masih muda. Sudah terpupus zaman yang makin hela.
Sehari ini, sedari pagi sampai senja, hanya berputar-putar tak punya tujuan.
Entah kemana. Kalaupun berita, hanya bersandar pada mukjizat saja.

ALEK SYUKURAN ALIS-ASYIRWAN DI TAEH BARUAH

PESTA PENUH PEJABAT, 100 HARI MEMERINTAH

Di rumah di sudut jalan di Taeh Baruah itu, Alis Marajo dan timnya sejak berbulan-bulan lalu menyusun strategi. Ya, strategi pemenangan Pemilu Bupati. Kini, telah 100 hari Alis Marajo-Asyrwan Yunus jadi Bupati, baru diperingati di rumah Ibu Lisni.

DODI SYAHPUTRA, TAEH BARUAH

TARI ALANG BABEGA, SMAN 1 GUGUAK, LIMAPULUH KOTA

TARI ALANG BABEGA, SMAN 1 GUGUAK, LIMAPULUH KOTA

syukuran di taeh baruah

syukuran di taeh baruah

Aleh Nagari Taeh, yang dikemas rapi ala modern itu digelar. Minggu (20/2) lalu, seluruh pejabat tinggi daerah, pegawai, tim sukses dan tim relawan telah datang. Alis Marajo, sang Bupati Limapuluh Kota siap menanti tamu di depan tenda paling ujung dari delapan tenda besar yang beriringan di jalan.

Mobil-mobil berplat polisi berwarna merah telah terparkir rapi di luar jalan. Para Satpol PP pun banyak berseragam, mengatur tamu yang datang disamping para petugas perhubungan yang berpakaian dinas lengkap.

Iring-iringan tamu yang dinanti lalu datang. Kendaraan dinas berplat polisi BA 5 C masuk ke lokasi. Wakil Bupati Limapuluh Kota, turun bersama istri.

Musik dan tari pasambahan dimulai dengan rapi. Panantiang siriah jo pinang lalu menghantarkan sembah dan bawaannya itu ke Asyirwan Yunus. Siriah dicabiak, pinang digatok.

Rombongan tamu yang datang pun dipersilakan duduk di areal tamu di halaman rumah. Tamu bak raja, disambut tuan rumah, sipangka, Alis Marajo dan keluarga.

Bupati, kali ini memang tuan rumah. Rang Taeh Bukik nan baralek di Taeh Baruah.

100 HARI

Selain makanan dan santapan yang tersedia di tiga tempat prasmanan yang tersedia, memang prosesi pun berlangsung biasa.

Luar biasanya, justru ungkapan Asyirwan Yunus yang didaulat berpidato jelang siang itu. Akunya, 100 hari bersama Alis Marajo memimpin Limapuluh Kota tidak ada keretakan kepemimpinan.

”Jangan ada yang mencoba merusak akurnya kepemimpinan kami. Maaf, tak akan bisa!” ujarnya yakin.
Seakan melihat ke daerah lain yang kini antara pimpinan dan wakilnya pecah belah. Sedang di Limapuluh Kota, akur-akur dan satu semangat.

Sebelumnya, Bu Lisni yang adik Alis Marajo selaku penyelenggara Alek Syukuran mengatakan memang terlambat pelaksanaan alek ini. Tetapi, ini didasarkan kesepakatan keluarga untuk memperingati pada 100 hari pemerintahan.

”Doa kami mohon diiringi, agar Bupati dan Wakil Bupati sehat selalu. Setianya, keduanya bekerja demi cita-cita mula, menyudahkan nan tabangkalai,” ujar Ibu Lisni berpidato.

Intan Citra Dewi, Rosa Meliana, Kurnia Ilham, Rifatul Aini, empat siswi SMA 1 Guguak dengan apik menarikan tari Alang Babega. Tarian yang bercerita tentang Elang di ranah Minang yang terbang berkeliling, memantau darat dari langit. Hops!

Hampir seluruh tetamu dan undangan berbaju batik. Ada Kasdim, Kabag Ops Polres, Ketua Komisi B DPRD, Para Anggota DPRD, para Kepala Dinas, Kepala Badan, Bagian dan pejabat lainnnya.

Masih ada pula, sebagian tim relawan AA (Alis Marajo-Asyrwan Yunus). Niniak mamak Taeh dan Bundo Kanduang, sampai kepada tokoh-tokoh muda Limapuluh Kota.

Dari Pangkalan sampai Koto Tinggi. Semuanya hadir mengikuti alek Rang Nagari Taeh yang bersyukuran di 100 hari pemerintahan Alis Marajo-Asyrwan Yunus.

PAMUNGKAS

Lamang tapai ternyata lebih diminati tetamu. Ketan hitam berkuah dan lemang dicampur di piring kecil. Digatok (dikunyah) kecil-kecil.

Pamungkas kata disampaikan oleh Asyirwan Yunus di pentas. Ini pula kiranya yang dinanti para pejabat Limapuluh Kota dengan harap-harap selama ini.

”Doa dan kesabaran semua pihak sangat kami harapkan. Meski telah 100 hari, kami tak mau gegebah bekerja. Makanya, apapun kebijakan kami lakukan dengan seksama,” ujarnya.

Tampak beberapa pejabat menghela nafas. Kecemasan akan segera di-reshufle kabinet pemerintahan, kini kembali harus bersabar. Alias menunggu. Tidak sporadis seperti di daerah lain pasca Pemilu.

Alis Marajo, tidak diam. Duduknya berpindah-pindah. Awalnya di belakang tetamu kehormatan. Pindah ke dekat niniak mamak. Lalu, duduk dekat wartawan Singgalang, Edward.

Alek Syukuran itu ditutup dengan makan siang ala prasmanan Prancis. Modern sangat.

”Dari Pangkalan sampai ka Taeh/ Singgah sabanta di Lubuak Bangku/ Kalau ado nan maraso alun pueh/ Mari mambangun bahu-mambahu/” pantun pengakhir kata dibacakan Asyirwan Yunus terasa menyejukkan hati para tetamu dan tuan rumah.

Sebab, artikulasi yang dipahami oleh yang hadir sendiri-sendiri, tepuk tangan mereka sahut-menyahut. Alek Syukuran pun berakhir sudah.

Senin ini, 101 hari pemerintahan Alis Marajo-Asyirwan Yunus. Meski telah 20 Peraturan Bupati yang disahkan, Perusahaan Daerah Gonjong Limo Sakato telah baru Direksi dan Manajemen, nan tabangkalai masih menunggu disudahkan.(***)

KOMISI B TURLAP KE PROYEK BENCANA

TEDY: BANYAK YANG DIKONDISIKAN

LAREH SAGO HALABAN —



Komisi B DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, mengunjungi lima lokasi proyek bencana alam, yang ditangani BPBD di Lareh Sago Halaban, Senin (7/2) lalu. Komisi B yang dipimpin Ketua Komisi B, Tedy Sutendi menemukan berbagai kejanggalan di 37 proyek bencana yang kini ditangani.

Saat ke lapangan, ke lokasi-lokasi ditemukan ada proyek tanpa plang, tanpa volume kerja, ada pula yang menggunakan bahan pasir yang tidak standar. Menemui kejanggalan ini, Senin (14/2) akan dilanjutkan rapat kerja dengan seluruh komisi di DPRD.

Memang, secara proses kerja BPBD atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah memperoleh bantuan pusat. Namun, pengerjaan dan proses kerjanya dipandang banyak kecurangan.

Sementara itu, sejak dijelaskan oleh Kadinas PU tentang proses mendapatkan bantuan fisik bencana, rehab/rekons senilai Rp5 miliar, 677 juta, 440 ribu ini belum dijelaskan kembali tentang proyek tanpa tender atau penunjukan langsung senilai Rp4 miliar.

37 proyek ini, nilainya hampir serupa di kisaran Rp98 juta sampai Rp99 juta. Memang menurut Perpres 54 tahun 2010 tentang Pangadaan Barang dan Jasa Pemerintah, nilai ini ditunjuk langsung kepada kontraktor pelaksana.

Namun, Komisi B di lapangan hari itu, menemukan kejanggalan nilai proyek dengan ketidaksesuaian volume kerja serta bahan yang digunakan. “Kita akan usut tuntas tentang hal ini. Terlihat banyak yang dikondisikan,” ujar Tedy Sutendi.

Tedy Sutendi yang Ketua Komisi B, bersama Indra Nofrianto yang Wakil Ketua, bersama anggota Dedi Harianto, Wardi Munir, Wendi Chandra Dt. Marajo, Muzanif, Dt. Paduko Sindo, Marnidawati, Ridho Ilahi, E. Dt. Junjungan, Alisman, H. Nur, turun ke lapangan melihat langsung proses kerja dan hasil proyek bencana ini.

Hasil catatan dan dokumentasi proyek ini akan menjadi bahan khusus yang akan dibawakan di Rapat Kerja Senin depan. “Tunggu saja, kami selaku fungsi pengawasan kinerja pemerintah tengah bekerja,” ujar Tedy Sutendi usai melihat ke lokasi.

KOMISI C: LISTRIK SEGERAKAN DI TPA DAN LAMPOSI

KUNJUNGAN LAPANGAN DPRD PAYAKUMBUH

KAPALO KOTO —


Komisi C DPRD Payakumbuh menemukan banyak kekurangan di pembangunan Kantor Camat Payakumbuh Barat. Dua hari sejak Rabu (16/2) sampai kemarin, Komisi C meninjau irigasi di beberapa lokasi, Kantor Camat Payakumbuh Barat, Kantor Camat Lamposi Tigo Nagari sampai ke proyek Tempat Pembuangan Akhir di Kapalo Koto.

Di Kantor Camat Payakumbuh Barat, ditemukan beberapa kejanggalan. Wakil Ketua DPRD H Suhaimi Birran, Ketua Komisi C H Abdul Khair, Sekretaris Ir Zul Amri, Y.B.Dt.Parmato Alam, Erlindawati, Aribus Madri, Hurisna Jamhur, Efri, Adi Suryatama, minus Mustafa yang tak hadir tanpa pemberitahuan, melihat langsung lokasi-lokasi tersebut.


“Wastafel bocor, banjir ke ruangan, loteng banyak yang tiris, plafon bocor. Ini kami minta kepada pemborong dan pengawas untuk segera memperbaiki ini,” ujar Sektretaris Komisi C Zul Amri dan Aribus Madri.

Hari pertama juga meninjau ke lokasi-lokasi irigasi di Kota Payakumbuh. Utamanya ke Sungai Pinago dan Limbukan. Umumnya tak banyak persoalan.

Namun, ketika Kantor Camat Lamposi Tigo Nagari ditemukan belum teraliri listrik. Kantor Camat yang telah diresmikan ini belum beraktifitas dengan normal.

“Segerakan listriknya. Ini kan satu tubuh dengan kerja kontraktor yang harus diselesaikan,” ujar Ketua Komisi Abdul Khair.

Hari ketiga, di TPA Kapalo Koto, Payakumbuh Selatan ditemukan telah baik pengerjaan dan pelaksanaan. Hanya saja, persoalan listrik juga mengganjal. TPA belum bisa dioperasionalkan sebab belum tersedianya aliran listrik dari PLN.

Syamsurial yang Kabid Kebersihan dan Pertamanan Dinas PU mengatakan soal listrik masih terus dalam proses. Pihak PLN belum merealisasikan aliran listrik sehingga peralatan dan teknis TPA yang menampung dan mengolah sampah dari lima daerah ini belum tercapai.

RTH Segerakan

Menyoal masalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ibuah yang telah jadi dan siap namun belum bisa dimanfaatkan, Komisi C berharap sekali agar Pemko bisa menyegerakan penyelesaian dengan warga setempat.

Jembatan penyelesaian yang diminta oleh Komisi C agar dapat dilaksanakan dengan cara kekeluargaan.

Duduak basamo
baliak, selesaikan secara kekeluargaan. Opsi jalur hukum jelas opsi terakhir yang ditempuh nantinya,” ujar Aribus Madri dari Komisi C.

LIMAPULUH KOTA, MAJU LAH!

Oleh : Teddy Sutendi*

Ketua Komisi B, DPRD Kabupaten Limapuluh Kota


2011 ini, Limapuluh Kota punya semangat baru untuk maju. Lebih maju. Sebab, digdaya kepemimpinan telah beralih. Kini Bupati Alis Marajo dan Wakil Bupati Asyirwan Yunus menduduki tampuk kepemimpinan daerah.

Sejalan dengan itu, ada persoalan penting yang mestinya pun segera diperhatikan. Bahwa Limapuluh Kota ternyata tumpul lobi dan koneksitas ke pemerintah pusat.

Benarkah. Kita kaji saja yang terkecil. Ada persoalan yang tengah mengemuka di kalangan masyarakat Limapuluh Kota yang masih rural atau tinggal di pelosok nagari dan jorong-jorong.

Beberapa waktu lalu, saya datang langsung ke sebuah Jorong. Miris, di sana bahkan ada masyarakat yang rela uang masuk kuliah anaknya diganti dengan harapan listrik masuk ke rumahnya. Betapa menyedihkan, uang lesap listrik tak kunjung datang.

Beginilah nasib masyarakat kita di daerah batas provinsi menuju Riau yang terus menanjak maju kian jauh meninggalkan kita. Ternyata, sebab lemahnya koneksi daerah ini ke pusat, dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, saya akhirnya tahu bahwa hanya Limapuluh Kota yang tak dapat program listrik.

Program itu bernama nasional PLN, listrik masuk desa, ditambah program air bawah tanah atau sumur bor. Kedua program itu diberikan lewat APBN 2011. Sayang, hanya Limapuluh Kota yang tak kebagian.

Inilah yang memiriskan kita. Daerah yang miskin sumber daya alam, miskin pula sumber daya manusia yang cerdas dan mau berbuat untuk daerahnya.

KAGUM

Meski begitu, masih tersisa sedikit kagum saya. Salut buat korps PGRI yang tanpa kenal lelah terus berjuang untuk mendapatkan haknya. Selamat dari saya yang mantan Sekretaris Pansus Tunjangan Daerah kepada seleruh elemen PGRI yang telah memenangkan banding di PTUN Tinggi di Medan.

Rasanya tidak ada lagi alasan bagi Pemkab untuk tidak membayarka Tunjada bagi para guru. Saya sangat berharap tidak ada lagi upaya hukum yang diupayakan oleh Pemkab Limapuluh Kota untuk tidak membayarkan Tunjada ini.

Cukuplah kita berpolemik tentang ini, kalau tidak teranggar di APBD 2011, mari sama sama kita carikan solusinya. Kapan perlu kita lakukan pinjaman daerah.

Selamat kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Bravo guru Limapuluh Kota!(***)

ANGGARAN BENCANA, HASIL PERJUANGAN

PENJELASAN KADINAS PU: DIKERJAKAN SESUAI ATURAN

SARILAMAK —

KADINAS PU 50KOTA - YUSDIANTO DAN KABAG HUMAS SAIFUL SP

KADINAS PU 50KOTA - YUSDIANTO DAN KABAG HUMAS SAIFUL SP

Teka-teki tentang proyek BPBD atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah Limapuluh Kota, Jumat pekan lalu dijawab gamblang oleh Kadinas PU Limapuluh Kota, Yusdianto Ruzwar. Di hadapan para wartawan yang dijamu makan siang di salah satu rumah makan di Ketinggian, Sarilamak, Yusdianto bersama timnya mengatakan tidak ada yang salah dalam mekanisme dana BPBD.

15 Milyar, 677 juta rupiah anggaran untuk penanggulangan bencana diberikan kepada Limapuluh Kota. Tentunya, tidak terlepas dari kecermatan proposal serta lobi ke pusat yang dilakukan oleh Pemkab Limapuluh Kota. Yusdianto mengatakan saat itu, sejak 2009, daerah-daerah diminta untuk mengusulkan anggaran rehab-rekon pasca bencana ke pemerintah pusat.

“Pertimbangan waktu itu. Syarat yang pertama disebutkan, harus ada Perda atas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Tentu ini berat,” ujar Yusdianto yang berpakaian putih bersih kala itu.

Di samping Yusdianto ada Kabag Humas Limapuluh Kota, Saiful SP ikut mendampingi penjelasan kepada wartawan itu. Beratnya, diterangkan Yusdianto bahwa jika harus diperdakan tentu memakan waktu yang panjang. Konsekuensi lainnya, setiap pejabat yang ditempatkan akan langsung menjadi beban daerah dengan beragam tunjangan.

Syukurlah, kemudian datang SE Sekjen Mendagri nomor 61/2380/SJ, bulan Juli 2009 tentang dibolehkannya lewat Perbup dibentuk BPBD ini. Segera kemudian Perbup diterbitkan. Bupati kala itu, masih Amri Darwis.

Memang, dengan keluarnya Perbup nomor 5 April 2010 mempercepat kinerja tim BPBD Limapuluh Kota kembali ke Jakarta. Diserahkannya Perbup menjadikan Limapuluh Kota lolos di tahap pertama, masuk listing bantuan dari dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang sepenuhnya dipegang oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di pusat.

Juni 2010 hanya 160 daerah dari 528 provinsi, kabupaten, dan kota yang mendapat dana bantuan. Ini menggembirakan Yusdianto. Sebab, dari Rp36 milyar usulan masih disetujui Rp15 milyar lebih itu.

“Bandingkan dengan Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman yang telah diperdakan BPBD nya, belum dapat bantuan. Di Sumbar, hanya Limapuluh Kota, Dharmasraya, Solok dan Solok Selatan yang dibantu pusat,” ujar Yusdianto tambah hebat.

Pasca Juni 2010, kemudian di BNPB dibentuklah Satuan Kerja yang membidangi daerah yang 160 itu, per masing-masingnya. DIPA sendiri sudah di BNPB.

Juli 2010, rencana anggaran cair ke daerah sudah ada. Kendalanya, ada proses harmonisasi legislatif dan eksekutif saat itu di pusat. Sampai Alis Marajo, melewati Pj Syafrial, telah tiga kali draft MoU pencairan dana dibuat.

Pada September 2010, kala itu bulan puasa, Plt Bupati sudah akan menandatangani MoU pencairan anggaran. Namun, Pj Bupati mengatakan, biarlah bupati definitif nanti yang tanda tangan. Baru di Draft ketiga, November 2010 ditandatangani oleh Alis Marajo.

TAAT ATURAN

BPBD Limapuluh Kota, secara Perbup telah terbentuk. Pejabat pemegang kendali operasional tertinggi, eks-officio dipegang oleh Sekda. Kuasa Pengguna Anggaran di SK kan oleh Kepala BNPB lewat Pimpro pusat Sekjen BNPB Bambang, pelaksanaan PPK, 50 kota, Ismeth Nanda Mahkota. Pra kontrak, pelelangan, fisik sampai serah terima. Payung kerja Perpres 54/ 2010.

Diterangkan Yusdianto, bahwa BPBD, Dinas PU, Kesbang Linmas, Dinas Sosial, lainnya sebelum bencana bekerja sejajar dengan misi tugas mitigasi, investigasi sebelum bencana. Daftar kekuatan yang ada di daerah didata dan dijadikan alat kelengkapan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Nah, jika bencana terjadi. BPBD jadi komando operasi. Pejabat paling tinggi memimpin, ex-officio adalah Sekda. Kadis PU, pejabat operasional kerja (PjOK) untuk fisik, Kadinas Kesehatan di bidang kesehatan dan seterusnya.

Kini, Rp4 miliar telah mulai ditunjuk pengelolaan dan pengerjaan untuk 37 titik proyek yang penunjukan langsung dan PML. Sesuai dengan Perpres 54 tahun 2010. Anggaran ini, yang diperuntukkan sejak 2010 untuk 160 daerah, dulunya, di 2008 berada di Kementrian Kesejahetaraan Rakyat. Kini sepenuhnya dipegang dan dikelola oleh BNPB di pusat diturunkan ke BPBD di daerah.

Selebihnya, dana proyek BPBD yang kerja fisik ini dilelang sesuai aturan.

SIAP TIDAK SIAP, TOUR DE SINGKARAK LEWAT PIKUMBUAH

BUKIK SIBALUIK, PAYAKUMBUH

25 tim luar negeri ditambah 10 tim dalam negeri siap meluncur di jalanan Kota Payakumbuh. Etape balap sepeda jalan raya yang ketiga kalinya di tahun 2011 ini, Tour De Singkarak (TDS) salah satunya start di Bukitinggi dan finish di Harau.

“Kemudian besoknya yang dalam jadwal lomba 6-12 Juni 2011 ini, start di Ngalau Indah menuju ke Sawahlunto,” papar Kasubdit Promosi Wilayah Sumatera Ditjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Raseno Arya di Ruang Pertemuan Balaikota Payakumbuh di Bukik Sibaluik, Sabtu (12/2) lalu.

Pertemuan yang dilangsungkan dengan Pemko Payakumbuh, Pemkab Limapuluh Kota selaku dua daerah destinasi TDS, juga dihadiri oleh pengurus Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI), Dirlantas Polda Sumbar, KasatLantas Polres Payakumbuh dan Polres Limapuluh Kota itu berlangsung singkat.

Paparan tentang schedule memang masih umum. Namun, jalur hari awal, yang melintasi Kota Payakumbuh, menuju Harau, melewati Limbukan, Kubu Gadang, Simpang Benteng, Sudirman, Kaniang Bukik menuju Harau disepakati. Lalu, hari berikutnya, jalur yang dimintakan oleh Kadinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Ngalau Indah, Aia Tabik, Halaban, Lintau, Sijunjung ke Sawahlunto.

Di pertemuan ini, Wawako Payakumbuh, H Syamsul Bahri terlihat sangat paham dengan kondisi jalur dan penyikapan lapangan. Hanya saja, Kadinas Pariwisata Limapuluh Kota, Afrimars masih menanyakan tentang payung hukum pengambilan anggaran daerah.

“Kalau ini yang Bapak tanyakan, kita akan penuhi seluruh surat-menyurat, dokumentasi dan sebagainya. Ini ivent internasional lo Pak. Diliput oleh media massa nasional dan luar negeri. Multiplier effect-nya ke daerah Bapak,” tukas Raseno yang ternyata di tahun 1981 pernah kuliah kerja nyata di kawasan Pasar Kabau Payakumbuh selama tiga bulan.

TDS ini, menburut Raseno yang fasih berbahasa Minang ini, menjadi kebanggaan dirinya menempuh etape sampai ke Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Sebab, sejak dua kali pelaksanaan sebelumnya, hanya sampai Bukittinggi dan Sawahlunto saja.

Kadinas Pariwisata Kota Payakumbuh Yoherman memimpin pertemuan. Yoherman mengatakan tersedia 240 kamar di hotel-hotel di Payakumbuh, seluruhnya. Kamar-kamar ini semuanya ber-AC meski kelas Melati atau non bintang.

“Bintangnya ntar kita tempel-tempel aja Pak,” tukas Yoherman yang memang senang bergurau ini.

Jika ditotal, saat TDS dilangsungkan, kebutuhan akomodasi untuk 500 orang, wajibnya. Belum lagi tetamu dan pengunjung di luar panitia dan peserta. Tentu saja, opsi Bukittinggi tetap harus ada. Hotel berbintang hanya ada di sana untuk wilayah Sumbar bagian Utara.

Mengejutkan. Ternyata awal Maret mendatang, Kota Sawahlunto meresmikan hadinya hotel berbintang tiga di sana. Sebuah pencapaian dan usaha serius dari Walikota Amran Nur yang berjuang sejak lama serius dan fokus demi masyarakatnya.

Launching TDS 2011 akan dilakukan di awal Maret di Jakarta. Dirjen Pemasaran Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar meminta untuk diundang seluruh tokoh Minang di Jakarta. Undangan ini dimaksudkan bahwa Sumbar kini didatangi oleh orang luar negeri.

“Makanya, warga Minang yang telah hebat di Jakarta, ikut pulang kampung. Jangan takut-takut lagi,” imbau Raseno.

Start di Matur Agam finish di Harau Limapuluh Kota. Esoknya, start di Ngalau Indah menuju Sawahlunto.


Menurut Eva dari ISSI, TDS 2011 telah didaftarkan sejak 2010 di Asosiasi Olahraga Sepeda Internasional atau U Ci Ai (UCI). Di Indonesia, agenda ini menjadi marwah yang luar biasa, sebab sekali setahun diadakan. Tepat di Sumatera Barat.

“Harus didaftarkan dulu. Sebab di Eropa agenda serupa berlipat dari jumlah hari dalam setahun. Bayangkan!” ujar Eva.

Dijelaskan ISSI, bahwa 1 tim terdiri dari 5 peserta dan 3 ofisial. Penilaian dibagi, beregu dan perorangan. Jumlah poin harian dijumlahkan menjadi klasemen umum. Jadi, sistemnya point to point.

Tak tanggung-tanggung. Total hadiah disiapkan $100 ribu bagi seluruh etape yang diperlombakan. Jumlah ini belum termasuk biaya pelaksanaan yang milyaran rupiah. Kota dan kabupaten yang dilalui, tetap menyediakan anggaran pendukung. Jumlahnya tak seberapa dibandingkan biaya yang dikeluarkan pemerintah pusat untuk terselenggaranya ebent internasional TDS 2011.

SINAMA ADVENTURE CLUB

BERSINAR, TUJUKAN DEMI KEMANUSIAAN

Hobi unik namun bermanfaat banyak. Selain menyegarkan dan menyehatkan, hobi offroad ternyata juga mengamalkan kepedulian sosial ke masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh Sinama Adventure Club (SAC) di Payakumbuh.

 

DODI SYAHPUTRA —


“Sebenarnya kami tidak fokus ke offroad alam, justru ini kami namakan adventure, dalam konteks lintas jalan. Segmentasi kami menempuh jalan-jalan menuju kawasan-kawasan yang jarang disentuh oleh keramaian,” papar Ketua SAC Zal Ahmadi, bersama Supardi, anggota yang anggota DPRD Sumbar aseli Payakumbuh itu.

Lintas alam yang pertama dilakukan 25 Desember tahun lalu. Menempuh jarak 20 km, 30 kendaraan tegap lama, mulai dari Willys, Jeep CJ, Hardtop, Taft, sampai Jimmy menempuh jalur utama Kota Payakumbuh.

Berputar di Limbukan, mereka menuju ke Taram sampai ke Buluah Kasok. Di sana, selain menghirup segarnya udara alam yang masih perawan, juga dibarengi makan nasi bekal bersama.


Tak hanya sampai di situ, mereka kemudian juga bekerja bersama memperbaiki Masjid yang ada di sana. Masjid satu-satunya di Buluah Kasok itu direparasi singkat, lalu dicat ulang.

“Insya Allah berkah,” tukas Supardi bersama anggota DPRD Kota Payakumbuh H Alhudri Dt Rky Mulie dan Mustafa.

SAC memang baru dua kali melakukan iven outdoor. Artinya dua kali menempuh perjalanan alam. Namun, telah banyak pelajaran yang didapat mereka. Para offroader adventure ini menjelajahi jalan sejarah RI sampai ke Koto Tinggi-Pagadih Agam.

“Ternyata, di antara anggota, ada yang baru pertama menempuh jalur ini. Maknya, ketika kami sampai di Tugu PDRI di Koto Tinggi banyak yang takjub dengan sejarah bangsa,” kali ini Alhudri mengatakan.

Jeep usang yang masih terawat baik, seperti yang dipakai Supardi memang sempat mogok. Jeep CJ5 BA 3333 UL yang boros bahan bakar ini, kemudian ditarik oleh Taft putih milik BA 1730 RM Alhudri.


Adventure yang dilakukan SAC kedua kali, Januari lalu betul-betul berkesan. Masyarakat sepanjang Jalan Tan Malaka yang memanjang sampai ke Suliki itu menyaksikan betapa konvoi kendaraan lama terawat itu menempuh jalan di sekitar pemukiman mereka.

“Masyarakat umumnya mengagumi kendaraan offroad yang lewat ini. Mereka berkomentar bahwa konvoi tertib dan teratur ini menjadikan masyarakat bisa menyaksikan dengan seksama aktifitas SAC di alam,” ujar Alhudri lagi.

SAC berposko di Nan Kodok di bengkel UD Motor. Di sana, setiap minggu, para adventurer ini berkumpul dan berbagi cerita dan pengalaman. Klub otomotif satu ini memang mementingkan kekeluargaan. Makanya, Wakapolres Payakumbuh Kompol D Ismail pun tertarik untuk ikut bergabung.

Jika sedang di perjalanan, konvoi kendaraan memang hanya berlaju 30-40 km/jam. Mobil antik khas dan keras ini menarik perhatian mata. Bertambah lagi satu minat SAC, memahami sejarah bangsa. Makanya, sejak touring kedua lalu, mereka berniat menempuh jalur-jalur bersejarah bangsa di masa lalu.

Batang Sinamar yang membelah daerah hulu mulai dari Mungka sampai ke batas Kabupaten Limapuluh Kota. Ilham didirikannya SAC, membuka diri bagi ikut bergabungnya anggota-anggota baru dalam ranah keluarga.

“SAC adalah klub kendaraan yang kekeluargaan. Makanya, dalam touring, boleh saja membawa keluarga ikut serta. Kita ingin menumbuhkembangkan rasa kekeluargaan lebih lekat ke anggota. Tentunya, fungsi pokok ke kegiatan sosial, adventure atau lintas alam dan pembelajaran sejarah bangsa,” demikian tukuk Ketua SAC Zal Almadi.(***)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.141 pengikut lainnya.