Blitz Band, Rendah Hati dan Terus Bermusik

(Terbit di Harian Rakyat Sumbar Utara, Edisi Senin 10 April 2011)

BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU
BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU
BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU ---
BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU ---
BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU ----
BLITZ BAND DI JUMPA PERS DAN TEMU PENGGEMAR DI RAMAYANA PAYAKUMBUH - SABTU 9 APRIL LALU ----

Wujudkan Payakumbuh Berlevel Nasional

Pantas saja, kini Payakumbuh menasional. Salah satu peran band kenamaan negeri ini, Blitz Band beraroma rock alternatif memperkenalkan kayanya Payakumbuh dengan kreativitas dan potensi musisi kenamaan yang mampu berbicara di Indonesia.

DODI SYAHPUTRA, PAYAKUMBUH

BAND dengan lima personil, Randi (vocal), Ribon (Gitar), Pujien (Guitar), Lycko (Bass), Rudy (Drum) benar-benar aseli Payakumbuh. Kota sedang dengan lima kecamatan berpenduduk kira-kira 106 ribu jiwa ini mampu menelurkan band muda yang tampil menasional. Album keduanya yang bertajuk “akhir penantian” diluncurkan khusus.

Khusus? Ya, sebab di depan Kantor Pos & Giro Payakumbuh dimula album dengan 11 lagu ini dipentaskan di kampung sendiri. Album kedua yang direkam di Pekanbaru ini berlabel indie alias diproduseri sendiri oleh Blitz Band.

Di Ramayana Payakumbuh, Sabtu (9/4) lalu, dikomandoi Dana Surya dan diundang khusus oleh Walikota Josrizal Zain, dihelat jumpa pers dan penggemar. Blitz Squad, demikian nama khas bagi para penggemar Blitz Band.

Kelima personil Blitz bercerita tentang bandnya ini. Awalnya, mereka kerap dianggap sebelah mata. Juara I Regional Bukittinggi di ajang A Mild Live Wanted 2007 ini, dari pertemanan Ribon dan Lycko saat mereka duduk di bangku SMP di Payakumbuh.

Awalnya memang hanya untuk gembira, khas layaknya anak sekolah ketika itu. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan personil lain hingga akhirnya memutuskan untuk serius bermusik. Band ini mulai serius. Kompak mereka yakin inilah jalan hidup mereka.

Solid menjadi kata sulit bagi sebuah band. Blitz juga pernah bongkar pasang personil. ”Untungnya, pergantian itu tidak sampai mempengaruhi kekompakan kami,” kata Ribon personil kelahiran Payakumbuh 15 April 1985 itu.

Untuk ukuran Sumatera Barat, Blitz punya penggemar yang cukup fanatik. Meski mereka menyadari, itu bukan satu-satunya keuntungan ketika mereka masuk ke industri musik sebenarnya.

”Blitz sudah dikenal di Sumatera Barat. Kami berharap, kami juga bisa diterima di daerah lain di seluruh Indonesia,” ujar Da’i, vokalis yang seorang dokter.

Mencoba menerobos ke nasional dengan menyorongkan single ‘Masih Ada Aku’ sebagai pendobrak telinga penikmat musik Indonesia. Pertemuan dengan musisi kawakan Ully Dalimunthe, yang kemudian menjadi music director band ini, menjadi titik awal BLITZ untuk meyakini pilihan bermusiknya.

Lagu ‘Masih Ada Aku’ yang diciptakan oleh Da’I ini bercerita soal hubungan cowok dan cewek yang putus, tapi keduanya sebenarnya masih saling mengharapkan. Digarap dengan sentuhan pop altenatif yang tidak ribet, lagu ini punya karakter musikalitas yang tidak bisa dipandang remeh.

Kekuatan Da’i dengan range vocal tinggi dan lebar, memberikan ciri yang mudah dikenali, selain lagunya yang memang enak di telinga. Album kedua ‘akhir penantian” ini menampilkan lagu ini di lagu pamungkas.

Blitz bukan kebetulan muncul. Mereka sadar, jika tampil sepenuhnya, niscaya hanya numpang lewat.

”Kami tidak ingin jadi band numpang lewat saja,” celetuk Pujie, gitaris kelahiran Payakumbuh, 11 Mei 1986. Harapan yang pasti mereka sadari betul resikonya.

Kini, BLITZ sudah bergerak ke tanah yang mereka impikan. Merangkul Blitz Squad (sebutan bagi fans Blitz ) yang loyal juga impian mereka. So, bersiaplah menyambut letupan baru dari band asal Payakumbuh ini.


PAYAKUMBUH BANGGA

Pentas besar bersoundsystem luar biasa kuenceng dipasang di Sudirman, pusat kota. Cek suara saja membahana.

Penampilan Blitz Sabtu malam lalu betul-betul menghebohkan. Albumnya yang dijual di sekitar lokasi laku keras.

Memang, album ‘akhir penantian’ merebakkan musik-musik yang enak dan mengikuti selera pasar anak muda terkini.

Aroma cinta ditebar di ‘Tak Bisa Tanpamu’, ‘Dinda’ serta pamungkas ‘Masih Ada aku’. Menurut Blitz Band sendiri, telah dua tahun lamanya materi lagu ini direncanakan. Soal garapan, mereka fokus di sebulan terakhir.

”Memang melelahkan. Tapi kami bangga dan bahagia dapat membawakan nama Payakumbuh ke level nasional,” ujar Randi sang vokalis.

Soal penampilan kelima personil Blitz jangan ditanya lagi. Hampir seluruh kota besar di Jawa sudah dipapar oleh mereka. Khusus di Jakarta, berbagai iven dan penampilan mereka lakukan.

Tapi, memang band asli Payakumbuh ini tak ingin tinggi hati. Mereka justru meluncurkan album keduanya di kampung sendiri. Soal penggemar, ikuti saja halaman FB mereka; blitz band.

17 thoughts on “Blitz Band, Rendah Hati dan Terus Bermusik

  1. sayang g bisa hadir saat launching, padahal pengen tau lebih bnyk ttg blitz band, anak payakumbuh yang berjiwa seni dalam bidang musik ini . ..

  2. agiah da…jan patah samangaik……da ribon dkk….bilo2 main futsall wak liak….wak kalahan band uda liak..hahahah

  3. jngan cma blitz doank. . . mna nak pyk laen. . .

    blitz ajha bsa. . . knpa kta nggak. . .

    smngat truzz bwat blitz. . moga suxces cllu. . amien

  4. mgga blizt band jdi band blantika music indonesia papan atas,,
    aminnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s