Jika saja, Anda pengendara kendaraan angkutan barang atau orang, antar lintas Sumatera, yang akan menuju Pekanbaru melalui Bukittinggi tentu akan paham dengan kondisi terkini di Payakumbuh. Jalur lintas nasional di jalur lingkar Utara Payakumbuh, saat Anda membelokkan kendaraan ke kiri sebagai hutan dan bukit hijau. Tapi itu dulu. Kini, sudah coklat, berdebu, berlumpur dan bertanah.

Gambar

GambarWalaupun telah didirikan Papan peringatan, oknum penggalian tanah di kawasan hutan lindung lingkar Utara Payakumbuh tetap beroperasi (foto: Alex Humas Payakumbuh)

Entah angin investasi apa yang dilekatkan ke kawasan hutan lindung sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh nomor 1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Payakumbuh tahun 2010-2030, Kawasan Hutan Lindung ditetapkan di kawasan Kubu Gadang, Kecamatan Payakumbuh Barat seluas 346 Hektar. Hutan lindung dimana-mana dijaga, dilindungi, menjadi kawasan serapan air, bahkan menjadi taman alam bagi tumbuhan hijau yang merawat alam. Beda sekali kini di sini.

Alat-alat berat, orang-orang bekerja membangun dan membabat pohon-pohon besar di bibir bukit tanah yang curam ini seperti pemandangan biasa saja. Tak ada yang melarang. Hanya plang larangan merusak hutan lindung saja yang mengawasi tak berdaya. Setiap pagi, setiap satu alat berat bertambah. Mobil-mobil besar pembawa tanah urukan hilir mudik membawa hasil tambang kaya uang itu.

Kondisi hutan bukit alam ini kini mulai rusak dan dapat saja seketika menimbulkan musibah. Ada oknum yang mengatasnamakan milik pribadi, mengeruk dan mengambil tanah di lereng bukit, yang diperjualbelikan untuk keperluan pembangunan, entah dimana. Di awal Lingkar Utara saja kini sudah rata, malah dibangun pondasi batu tinggi. Informasinya untuk dijadikan showroom mobil miliknya pengusaha besar di Kota Padang.

”Kita sangat menyayangkan hal ini, masih banyak oknum masyarakat yang malahan dengan seenaknya mengambil tanah di sekitar hutan lindung ini. Padahal sesuai dengan Perda no. 1 tahun 2012, Pemko telah melarang penggalian di sekitar hutan ini,” ujar Plt. Sekko Payakumbuh, Benni Warlis Selasa (26/3) lalu menyaksikan langsung kendaraan alat berat mondar-mandir mengeruk tanah bukit.

Benni meninjau kawasan Hutan Lindung di jalan Lingkar Utara, Payakumbuh Barat itu. Bersama Kadis Tata Ruang dan Kebersihan, Zulinda Kamal, serta Kasat Pol PP, Fauzi Firdaus, Plt. Sekko sangat menyayangkan proses penggalian ini masih terus berlanjut.

Sayang, belum ada tindakan apa-apa. Benni dan rombongan aparat pemerintah hanya melihat-lihat saja.

”Hari ini, kita tidak akan melakukan tindakan ataupun aksi langsung untuk proses penggalian yang sedang berlangsung. Pemko secepatnya akan melakukan koordinasi dengan SKPD dan pihak terkait untuk bisa sesegera mungkin menghentikan penggalian, sebelum musibah datang,” tambah mantan Asisten II ini.

Aksi pemerintah kini dinanti. Aksi pengusaha bebal sudah jalan dan terbukti mampu memapas bukit hutan lindung yang hijau menjadi bukit yang terkoyak dan tercabik. Akankah dibiarkan. Ungkapan Benni Warlis tadi hanya di ujung bibir saja? Koodinasi? Kita tunggu bersama.(***)