GambarGambarGambar

 

 

Bisa jadi melihat perawakannya sepintas, kita akan setuju dengan tindakan polisi di Polres Bengkulu tengah Maret lalu yang menangkap Syawali yang sedang menjaja bunyi pupuik sarunai balon empat lubang nadanya di perempatan jalan di Kota Bengkulu. Saat itu, Syawali baru kembali setelah merantau sejenak 3,5 bulan di Jakarta.

Bagi polisi, Syawali yang mengamen bunyi pupuik yang dihembus balon sebagai sumber kekuatan nadanya itu, dianggap sebagai pengganggu kelancaran lalu-lintas. Ia kemudian digelandang ke Mapolres Bengkulu. Besoknya, 13 Maret, ia keluar foto dan berita di koran lokal di Bengkulu. Ia dikatakan gelandangan dan pengemis yang tertangkap sedang mengamen di lampu merah. Potongan koran masih disimpannya.

Bagaimanapun, Syawali putra Jorong Lakuang, Simpang Sugiran Limapuluh Kota ini punya kelebihan lebih dari bunyi pupuiknya yang mendayu, lengking. Ia punya kesabaran. Usia 62 tahun yang sudah dijalaninya, bukan usia yang pendek. Ia berkata bahwa sampai hari ini masih diberi kesehatan dan nikmat oleh Allah SWT.

”Modal bersyukur, berusaha dan tawakkal menjadikan saya selalu sehat. Kuncinya, makan yang biasa kita makan, jangan makan makanan orang, jangan mencoba menjadi orang lain. Biarlah orang dengan makanannya,” kata Syawali di kadai sate Nanak Pasar Payakumbuh yang terkenal itu.

Kata-kata Syawali penuh makna. Sungguh dalam dan bermakna. Ia mengaku sampai hari ini tidak punya rumah yang dibangun dari hasil kerjanya keliling bapupuik. Tapi, Insya Allah, katanya tabungannya sudah Rp280 juta, punya istri sudah 12 orang. Semuanya didapat dari hasil badendang dan bapupuik.

Bersama Rival, bocah 13 tahun yang ia pungut sebab tidak lagi punya ibu, Syawali yang dulu senantiasa tampil di radio ternama di Luak Limopuluah, kini menjojo bunyi pupuiknya sampai ke negara rantau. Ia sudah ke Malaysia, Brunei, Batam, Singapura, Kalimantan, bahkan Ibukota Jakarta.

Di Jakarta, di Monas baru-baru ini ia mengaku bersalaman langsung dengan Presiden SBY. Wajahnya dari dekat terlihat bersih. Tak ada tampang gepeng seperti yang dialamatkan Polres Bengkulu. Syawali bercerita bahwa ia pulang dari Jakarta, kembali dari rantau 3,5 bulan, kehabisan bekal. Ia berhenti di Bengkulu, mencari tambahan modal pulang kampung di kota itu.

Berbaju Deta

Kemana-mana baju deta warna merah menyala selalu dikenakannya. Warnanya masih merah terang. Rival pun demikian. Ditambah ikat kepala khas Minangkabau, pantas saja ia kenal dengan pengusaha emas di Tanah Abang sekalipun. Sebab, Urang Awak di sana pasti langsung mengenalinya. Pakaian dan gerak-geriknya memang cerminan urang awak.

Di kedai sate Nanak, Syawali pun banyak mendapat respon baik dari para pembeli. Sebab, caranya yang santun, memainkan musik pupuik sarunai yang khas bunyinya ditambah kekhasan memakai balon sebagai perantara tiupnya. Sungguh sebuah keunikan bagi yang melihat.

Pupuik sarunai balon, 4 lubang, itulah yang dipakainya. Lagunya lagu pelayaran alias nada irama anak rantau yang tengah berlayar menuju ke sebarang. Sesekali Rival berjoged dan bergerak seperti orang bersilat. Sungguh memberikan hiburan khas Minangkabau lengkap dengan atributnya.

Di Penjara

Berdasar pengakuan Syawali, sejak mulai keluar pinjaro (penjara) setelah membunuh 2 orang akibat perkelahian di Bukittinggi, ia mendekam di balik terali besi selama 12 tahun. Di Lapas Bukittinggi ia menghuni di sana. Ia kenal dengan nama-nama pentolan dunia hitam di sana; Siamang, Sihitam, Sijoko serta Sigaduik Biaro.

Apak tukang pupuik nan banyak bini, telah sampai pula ke Malaysia. Memainkan pupuik sarunai balonnya yang menghentak negara jiran. Ia mendapat apresiasi di sana, sebab tidak dianggap sebagai pengamen, justru sebagai duta musik tradisi Minangkabau. Wah!

Syawali mengaku bisa pupuik, dendang sebab belajar dari randai dan silat. Randai dan pencak silat mengajarkannya dekat dengan dunia seni. Di sinilah hidupnya, kemudian berubah dari kota ke kota, negara ke negara, negeri ke negeri berkelana.

Di kampung sendiri, di Payakumbuh ini, bukannya Syawali tidak mendapat respon. Katanya, dengan mimik wajah tak dibuat-buat, paling sedikit Rp250 ribu sehari ia peroleh dari membunyikan pupuik sarunainya keliling dari kedai ke kedai, dari keramaian ke keramaian.

”Di Jakarta, kami main di Tanah Abang, itu Rp500 ribu sehari. Di Jakarta itu, berkali-kali saat kami di Monas, disorot TV Nasional. Sayang, nggak ada yang tayang. Entah sebabnya, tak ada relasi di dalam barangkali,” ujar Syawali.

Tahu-tahunya, sudah keluar saja berita Syawali dan Rival di koran lokal Bengkulu. Bunyinya tak enak lagi, gepeng tertangkap ngamen di lampu merah. Namun, Syawali yang tetap sabar, akhirnya mendapat berkah. Ia pulang tidak berat di ongkos. Ada anggota polisi yang orang Minang, menolongnya.

Selamat pula sampai pulang ke kampung halaman. Modalnya cuma pupuik sarunai dan keyakinan, Allah SWT selalu menyelamatkan umatnya yang tawakkal, berserah diri sekaligus ikhtiar atau tetap berusaha. Bagaimana dengan kita?(***)