PANGKALAN

Penemuan mayat Ujang Labuak (60) tahun menjadi catatan kinerja
tersendiri bagi Camat Pangkalan Koto Baru, Yatmiko. Camat yang
dilantik baru 1 Februari lalu, ini mengungkapkan bahwa kondisi Batang
Mahat memang Minggu lalu saat korban menyeberang sungai sedang deras
arus. Cuma, derasnya di aliran bawah, pertanda di hulu sungai sedang
dilanda hujan atau aliran air kencang.

”Makanya, saat korban yang sudah puluhan tahun menyeberang sungai
pergi ke ladangnya, barangkali tidak menyadari bahaya arus deras ini.
Layaknya orang dalam kondisi yang biasa saja, ia menyeberang sungai
yang lebarnya 25 meter ini tanpa ada was-was,” ujar Yatmiko, SSTP,
Camat penuh semangat kerja ini.

Mantan Camat Lareh Sago Halaban ini sejak awal memang memiliki karir
yang gemilang. Makanya, di kecamatan Pangkalan Koto Baru yang memiliki
enam kenagarian lulusan STPD ini makin serius melaksanakan tugasnya. 2
hari lamanya, Ujang Labuak dicari menyisir Batang Mahat bersama aparat
TNI, Polri, BPBD dan aparatau kecamatan serta nagari, jorong dan
masyarakat.

Selasa lalu, menjelang siang, sekitar pukul 11.00 di antara petugas
yang menyisir sungai, menemukan kepala terapung di atas air. Kepala
Ujang Labuak rupanya mengapung, sementara badannya terendam dan
terkubur pasir dan lunau. Yatmiko bersama aparat lainnya segera
mengangkat tubuh korban. Dilarikan ke Puskesmas untuk tindakan
selanjutnya.

Ujang Labuak yang bertempat tinggal di Jorong Mudiak Pasar, Kenagarian
Manggilang, menurut Yatmiko adalah petani yang ulet. Setiap pagi
berangkat ke ladang di seberang sungai. Sebab jauhnya berjalan
melewati jembatan, maka petani ini menyeberang sungai. Sudah biasa
memang.

”Tapi, ya namanya ajal, tidak bisa kita terka. Sebenarnya Ujang Labuak
ini ahli berenang. Namun, ajalnya sudah menjemput di Batang Mahat,”
ujar Camat Pangkalan Yatmiko SSTP.

PANGKALAN MAJU

Enam kenagarian itu; Nagari Koto Alam (42,75 km2) dengan 4 jorong,
yaitu: Simpang Tigo, Koto Tangah, Koto Ranah, Polong Duo. Nagari
Manggilang (58,75 km2) dengan 4 jorong, yaitu: Pasa, Mudiak Pasa,
Subarang Pasa, Lubuak Jantan. Nagari Pangkalan (124,3 km2 ) dengan 11
jorong, yaitu: Sopang, Pauh Anok, Tigo Balai, Pasar Baru, Pasar Usang,
Koto Panjang, Kampung Baru, Lakuak Gadang, Lubuk Nago, Lubuk Tabuan,
dam Banjaranah.

Nagari Gunung Malintang (249,43 km2) dengan 8 jorong, yaitu: Batu
Balah,  Koto Lamo,  Bancah Lumpur, Balik Bukik, Koto Mesjid, Bukit
Talao, Sungai Pimping, Lubuk Ameh.    Nagari Tanjung Balik (124,57
km2) dengan 3 jorong; Koto Lamo, Kulangan, Panang.    Nagari Tanjung
Pauh (112,26 km2) dengan 3 jorong; Pasa Buyuah, Koto Lamo, Pulau
Panjang.

Luasnya wilayah yang berbatas langsung dengan Kabupaten Kampar Riau
ini membuat Yatmiko dan seluruh aparatus kecamatan harus bekerja keras
setiap hari membenahi dan menjalankan administrasi kecamatan.
Pangkalan Koto Baru sendiri kini menjadi kecamatan yang digaungkan
menjadi sentra bisnis di Limapuluh Kota.

Masyarakat Pangkalan sudah sejak lama terkenal suka bertani,
berladang, berbisnis dan punya ribuan angkutan barang yang membawa
produksi pangan dan hasil ladang ke provinsi tetangga. Pangkalan maju
menjadi harapan bersama warga dan perantaunya. Pangkalan Koto Baru
daerahnya disayat jalur lintas Sumbar-Riau. Potensi yang luar biasa
besarnya bagi bisnis di Sumatera Barat.(dsp)