Kadai Icun, Nan Kodok, Payakumbuh - Kumpulan warga konsumen lopau mulai dari tokoh politik sampai masyarakat biasa. Identitas Komunitas Kota Bernuansa Tradisional.
Kadai Icun, Nan Kodok, Payakumbuh – Kumpulan warga konsumen lopau mulai dari tokoh politik sampai masyarakat biasa. Identitas Komunitas Kota Bernuansa Tradisional.

Lopau, Arena Politik yang Bermasyarakat

Karakter politik di Kota Payakumbuh memang sungguh berbeda. Dibandingkan dengan daerah lain, nuansa kultural dan kedekatan emosional langsung secara hirarki kekeluargaan menjadi homogenitas yang dukung mendukung. Namun, hasil dukungan itu tetap dipengaruhi oleh pamor dan sikap para politikus bermasyarakat.

DODI SYAHPUTRA

Kadai ka kadai, lopau ka lopau. Istilah Payakumbuh ini secara khas mengibaratkan bahwa kedekatan ekosional dibangun dengan bertatapan langsung. Artinya, baliho dan gambar yang terpampang di tepi jalan seberapapun besarnya, seberapapun gagah dan cantiknya, namun jika estetika bermasyarakat sudah turun pamor, menjadikan tingkat keterpilihan atau elektabilitas menjadi rendah.

Ota lopau di Kadai Icun di Nan Kodok, Payakumbuh Utara, malam tadi serasa gigih. Meski untaian ungkapan bernada semarak kampung, namun para politisi dan warga saling berbaur mengungkapkan nada irama politik, mulai dari yang skeptis sampai optimis.

Iskandar, Nasrul Tuanku Beringin, Rio, serta beberapa tokoh politik Payakumbuh lainnya melemparkan lontaran-lontaran ungkapan politiknya. Sementara, para warga mulai dari yang muda usia sampai tua menyambut dengan lontaran cerdas bertatakan kata-kata sederhana.

”Begini, kalau nanti di jelang Pemilu 2014 ini, kita kumpulkan semua caleg kemudian kita rembukkan saja siapa yang akan menang, gimana?” lontaran kata salah seorang warga menyeruak.

Lopau Icun malam kemarin memang sedang hangat. Berita televisi cukup heboh. Televisi yang tergantu di atas pintu masuk lopau membuat suara pengunjung dan televisi campur aduk. Televisinya pun diberi nama TV Riza Falepi, sebab memang dibelikan oleh Walikota Payakumbuh semasa anggota DPD RI dulunya.

”A, ndak bisa baitu sajo. Politik harus jalan cermat. Nan ka monang, tontu nan bajuang. Samo-samo kito bajuang, juang ka manang, juang satalah manang. Untuak masyarakat kito koha,” ujar Ketua DPC PBB Kota Payakumbuh Nasrul Tuanku Beringin bersemangat.

Awal kata itu sambung-menyambung. Lopau sudah identik sebagai tempat berkumpul, bercerita, membahas persoalan sampai mendudukkan putusan bersama non formal. Payakumbuh punya keunikan, di bidang politik pun punya kekhasan tersendiri.

Meski larut malam, lopau kian ramai. Kopi, roti dan teh susu menjadi santapan para pengunjung. Hampir tak ada yang menguap. Semuanya serius dengan bahasan pengunjung lainnya dan bahasan televisi. Kekinian dibahas di lopau. Arena politik yang bermasyarakat.(***)