”PULANGLAH, BAPAK DAN IBUMU MENCARI”

Gambar

 

Menyesal dan berharap. Dua isi hati ini berkecamuk di dada Al Makmur (38). Warga Durian Gadang, Akabiluru yang mencari anaknya, Hidayat (15) yang dikabarkannya telah hilang selama 12 hari lamanya. Akankah, Hidayat bertemu kembali dengan Ayahnya ini? Berikut cerita kehilangan Hidayat yang lari dari rumah neneknya di Surantih, Pesisir Selatan.

DODI SYAHPUTRA

Ceritanya begini. Al Makmur yang bekerja serabutan, kadang membawa mobil angkutan sayur ke Muaro Bungo, Jambi dan daerah-daerah di Riau ini, punya istri bernama Lena. Usia Lena tak terpaut jauh darinya. Sama-sama kelahiran 1975. Mereka punya tiga orang anak. Lelaki semuanya. Nan jolong, bernama Hidayat. Hidayat kini bersekolah kelas 1 SMP di Surantiah, Pesisir Selatan.

”Lo, kok jauh?” Ya, Al Makmur, aslinya keturunan orang Surantiah. Di sana Amaknya tinggal kini. Sebab, sayang dengan Hidayat, Amaknya kemudian meminta agar Hidayat dibesarkan di Surantiah saja. Sebab, keluarga kurang mampu, Al Makmur mengiyakan. Hidayat besar dan tumbuh di Surantiah.

Minggu, 19 Juni lalu, sebenarnya kulminasi atau puncak sebab hilangnya Hidayat sampai hari ini. Hidayat, bocah jolong gadang yang terbawa arus. Di Surantiah ia gemar sekali main Playstation. Al Makmur memang tidak lupa berkirim uang belanja untuk si sulung sebisanya. Sayang, sebab, anaknya ini menggunakan uang untuk keperluan sewa Playstation setiap waktu, sehingga kiriman sang ayah tak pernah cukup.

Al Makmur dan Lena bersama dua adik lelaki Hidayat berdomisili di Durian Gadang. Kabar tak mengenakkan tentang perilaku sang anak sampai juga ke telinganya. Sebagai orang tua, Al Makmur merasa kecewa. Apalagi, laporan dari Surantiah, Hidayat sudah mulai berperilaku jahat dengan menjual ayam peliharaan Amak untuk keperluan main Playstation.

Terang saja, ditegur dengan lunak, Hidayat tak mau mendengarkan. Amak kemudian marah besar. Minggu, dinihari, puncaknya. Entah si Amak mengusir atau Hidayat yang tak tahan lagi dimarahi, ia kemudian berangkat meninggalkan Surantiah. Ia naik travel ke arah Padang.

Sampai di situ masih ada komunikasi dengan Al Makmur. Sebab laporan sudah macam-macam sampai ke telinganya, Al Makmur mengaku naik pitam. Sambil matanya memerah, menahan sedih, ia bercerita bahwa ia sempat kasar kepada sang anak lewat komunikasi hape. Ia memaki sang anak. Hidayat, tetap bersikeras untuk naik travel menuju Padang.

”Padahal, seminggu setelah saat itu, ibunya, Lena, berniat untuk menjemputnya ke Surantiah. Tapi, apa daya, Hidayat tak sabaran lagi,” ujar Al Makmur.

 

Jejak Hidayat dengan travel Avanza yang menurut informasi yang didapatnya dari beberapa rekan sesama sopir bernomor polisi 1202 BT, entah apa di depannya, ia mengaku lupa, terus diikutinya. Sudah seluruh nomor handphone sopir travel dan kantor di Padang dan Painan dihubunginya. Jejak Hidayat seperti raib.

Handphone Hidayat tak hidup lagi. Ia menjadi menyesal, saat dinihari Minggu itu, Hidayat dimarahinya. Ia pikir, anaknya tak akan menghilang jejak. Sebab, Hidayat sudah berjanji sesampai di Padang akan meneruskan naik angkutan umum ke Payakumbuh.

Al Makmur menunggu sampai senja dan malam datang di simpang Terminal Koto Nan Ampek Payakumbuh. Sampai hari ini. Namun, Hidayat yang ditunggu tak kunjung sampai. Bapak tiga anak ini terlihat sedih alang kepalang. Anaknya, ubek jariah palarai damam, nan gadang paubek ibo, sudah hilang 12 hari lamanya.

Al Makmur menahan untuk tidak menangis. Ia lalu mengeluarkan foto sang anak dari sakunya. ”Ini Hidayat sewaktu SD. Tolong kami Pak. Anak saya ini tidak jahat. Takutnya, ia terbawa orang jahat di Padang itu. Telponlah saya, kalau bertemu dengannya. Nomor hape saya 085278466684,” ujar Hidayat.

Rusuh hati Al Makmur, bahkan lebih rusuh lagi Lena. Kata Al Makmur, ibu Hidayat sudah tak tahan lagi, ingin bertemu anaknya. Makanya, Al Makmur menghunikan dan melongok setiap angkutan umum dan travel dari arah Padang. Siapa tahu anaknya ada di sana. Terbawa serta.

Luluh juga, Al Makmur tak kuasa menahan sedihnya. Sehabis bercerita, dengan langkah gontai ia kembali menuju simpang terminal. Ia akan melihat dan mencari anaknya di antara penumpang yang diangkut serta.

Sebelumnya, Hidayat sudah ke Padang, Painan dan Surantiah. Ia sudah berkeliling mencari Hidayat. ”Pulanglah, Nak. Bapak tidak marah lagi. Ibumu menangis sedih setiap hari. Kasihanilah kami, yang sayang dan selalu rindu padamu,” ujar Al Makmur hendak berkomunikasi langsung di hadapan anaknya ini.(***)