Gambar

WAKIL KETUA BIDANG HUMAS KONI PAYAKUMBUH, DODI SYAHPUTRA, DI KONI JABAR

 

HUMAS KONI PAYAKUMBUH KUNJUNGI KONI JABAR (1)

2016, PON JABAR KAHIJI, LAKUKAN PELATDA SENTRALISASI

Sport dan Forensik Intelijen ternyata benar-benar menjadi titik temu kesuksesan Jawa Barat dalam membina prestasi atletnya. Setiap kebijakan dan latihan dilakukan dengan kajian dari berbagai sisi. Sehingga, keputusan yang diambil betul-betul akurat. Meski sedikit melenceng.

Laporan Dodi Syahputra, Bandung

Kunjungan dan diskusi dengan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat, Selasa sepanjang pagi hingga adzan Zuhur membatasi begitu padat akurat. Penulis yang Wakil Ketua Bidang Humas KONI Kota Payakumbuh bersama Wartawan Editorial terbit di Sumbar, Yusrizal datang bersama persetujuan surat permohonan audiensi yang telah dilayangkan dengan faksimile minggu sebelumnya.

Ketua I KONI Jabar Djumara Frasad, Jendral yang pernah berdinas ketentaraan di Sumbar itu, bersama Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Ir Verdia Yosep, Kepala Urusan Administrasi Bidang Media dan Promosi Zulkarnaen, dan Sekretaris I Dra Hj Lily Rolina sungguh di luar sangkaan. Para pejabat tinggi di tubuh KONI Jabar itu tetap antusias menerima kedatangan tamunya nan jauh dari Payakumbuh, kota sedang di Sumbar.

Olahraga mempersatukan semua. Prinsip inilah yang menjadikan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat begitu terbuka dengan setiap tamu yang datang. Untuk persiapan Jawa Barat menuju tuan rumah PON XIX tahun 2016 saja, sudah 8 kabupaten dan kota dan 6 provinsi yang beraudiensi dengan KONI Jabar. Kota Payakumbuh adalah yang ke-8 itu.

Djumara Frasad, sang Brigjen TNI, ternyata memiliki pandangan dan visi pembinaan olahraga prestasi yang mumpuni. Betapa tidak, KONI Jabar sejak menjabat 2010 lalu sudah mengganyang pembinaan prestasi dengan sistem yang terisntegritas. Sebuah Badan Sport Intelijen juga dibentuk, diketuai oleh Ir Verdia Yosep melibatkan 7 orang perwira TNI, tim informasi dan teknologi andal, serta mendata, mengalisa, mengevaluasi serta menajamkan keputusan KONI secara presisi. Hampir tidak ada kesalahan.

Membuka diskusi, tanpa sempat banyak bercerita tentang kondisi pembinaan prestasi olahraga di Kota Payakumbuh, Djumara Frasad sudah duluan bersemangat. Dirinya yang pernah bertugas di Korem Sumbar, ketika itu berkantor di Lapangan Kantin Bukittinggi, hafal betul dengan raihan 50 medali Sumbar di PON XIII tahun 2012 di Riau.

”Pesaing Jabar sebenarnya, provinsi DKI dan Jawa Timur. Sebab itu, kami bersedia membantu tim yang tidak akan merugikan raihan emas kami di PON. Apalagi, Sumbar memiliki atlet yang berbakat,” ujar Djumara Frasad yang masih berwajah tegas itu.

Saat ini, Jawa Barat tengah memfokuskan Pelatda Sentralisasi bagi atlet dari 9 cabang olahraga. 6 cabang olahraga dan 3 cabang olahraga permainan dibina atletnya secara fokus di Sentralisasi ini. Para atlet dibina, dikawal, didampingi, sampai tidak ada lagi beban yang harus dipikirkan atlet, selain latihan dan latihan. Itu tugas mereka.

Bukan tanpa penghargaan dan hukuman. Disampaikan oleh Verdia Yosep bahwa para atlet ini dilatih dan dibina dengan baik. Jika ada yang tidak sesuai dengan konsep latihan atau melanggar sistem, mereka akan dihukum dengan tegas. Hukuman tegas ini diberikan sebab di tubuh Pelatda Sentralisasi ada 7 perwira TNI yang bertugas sebagai pengawas para atlet selama 24 jam.

Letnan I Fathur yang berhasil dikonfirmasi, membenarkan hal ini. Tim Jawa Barat untuk PON 2016 tidak main-main. Bahwa, pembinaan tersentralisasi sementara baru untuk 9 cabang olahraga, tentunya dengan mudah akan ditambah. Selain Pengurus Provinsi masing-masing cabor tetap melakukan pembinaan atlet lainnya.

”Mulai dari hal yang kecil sampai sifat atlet kami telah tahu. Setiap akhir Minggu laporan kami input dan laporkan untuk amatan per hari. Tugas pengawas juga termasuk menjatuhkan hukuman bagi atlet yang melanggar aturan yang dituangkan di pakta integritas,” ujar perwira TNI AD ini.

Lawan bagi atlet itu, bukan lawan di arena. Justru, menurut Letnan I Fathur yang sehari-hari juga menginap dan hidup di tengah atlet ini, lawan terberat itu adalah rasa malas yang ada dalam diri. Itu! (bersambung)