KUCING AIR

Oleh: Dodi Syahputra

kucing air
kucing air

Belum lagi Bandara Payakumbuh berdiri atau selesai landasan alias runwaynya, sudah ada investor yang menyebut hendak berinvestasi. Ada pulalah seorang perantau, yang namanya minta dirahasiakan, berjanji akan membeli armada pesawat Air Bus edisi terbaru untuk mendarat dan lepas landas membawa penumpang dan barang ke Bandara Payakumbuh. Saat ini, katanya, sedang mempersiapkan perhitungan belanja modal dan keuntungan rigit yang akan diperolehnya, jika armada itu dioperasikan di Bandara Payakumbuh.

Sebab namanya diminta tidak disebutkan, pembicaraan selama 1 jam via telepon genggam ini pun tak semua bisa dituliskan di Liek Galamai. Ada baris-baris yang minta dirahasiakannya. Sebab, katanya, sebagai orang dagang, trik bisnisnya bisa terbaca calon kompetitor, memperbanyak armada yang mampir ke Payakumbuh serta mempermahal ongkos layanan parkir pesawat. Ah, apa iya? Saya juga tidak terlalu tahu.

Begini, calon investor yang kini berkutat di bisnis properti dan otomotif di Jakarta, aseli Payakumbuh ini, mengatakan, soal nama penerbangan ia sudah memutuskan. Putus? Bukan, maksudnya, nama penerbangan yang akan dipakai dan dielekatkan di dinding pesawat, di monitor penerbangan di Bandara serta penamaan di lembaga penerbangan internasional.

Namanya apa? Tunggu dulu. Investor yang akrab dipanggil Haji ini mengatakan, telah banyak di dunia nama-nama penerbangan domestik dan asing yang memakai nama hewan sebagai perlambangnya. Misalnya, Lion Air atau Singa Udara, Tiger Airways atau Penerbangan Harimau, sampai ke Qantas Airline, yang diidentikkan dengan Kangguru di Australia. Tentu, calon investor penerbangan di Kota Payakumbuh yang ’selapik daun’ ini tidak mau ketinggalan soal penamaan.

Lama ia terdiam. Sebentar. Ia bilang tunggu sebentar. 2 menit 13 detik, saya melihat ke arloji digital saya yang berdetak detik demi detik. Ah, ternyata ia kemudian mengaku. Bukan memikirkan kembali nama yang baru. Tetapi, nama penerbangan yang sudah disusunnya ini pantas atau tidakkah disebutkan.

Saya bilang, sebut saja Haji, siapa tahu sesuai. Haji, sang calon investor kemudian sedikit memberi kata pengantar. Entah masih berat hati menyebutnya atau terlalu ringan namanya. Saya, kata Haji calon investor di Jakarta, pecinta binatang. Makanya, ketika Garuda Indonesia memperbarui armadanya, saya langsung membeli tiket ke Singapura. Memang, saya sedang ada misi dagang ke sana.

Lalu, kembali Haji calon investor, terdiam agak semenit. Saya mulai gusar. Saya mulai batuk dibuat-buat. Haji diam. Ah, mikir-mikir nih Haji. Sempat juga rupanya pengusaha besar pikir-pikir. Seperti di pengadilan saja.

”Kucing Air!” Saya kaget. Benar, alang kepalang. Saya pikir Haji mengatakan saya dengan ungkapan ini. Konotasi kucing air dalam dialek pergaulan Minangkabau adalah personifikasi untuk ketidakbaikan seseorang. Pengertian ini dituliskan wartawan senior, guru saya, Eko Yanche Endrie di Singgalang, 6 April 2010 lalu.

Barangkali, Haji tahu saya terpaku dan mulai berpraduga bersalah, ia langsung meluruskan. Katanya, bahwa nama-nama hewan di nama-nama penerbangan domestik dan internasional itu menciptakan ikon sebuah daerah, bangsa dan negara. Saat orang bertanya tentang Indonesia, salah satunya orang-orang di dunia akan menunjuk Garuda Indonesia.

Kucing bagi Haji ini adalah hewan yang dianggap lebih dari peliharaan. Sejak kecil ia tak suka dengan binatang peliharaan. Makanya, ketika si Upik, istrinya yang cantik molek itu memelihara kucing persia ia mulai iri. Iri dengan kucing yang setiap hari disayang dan dielus manja itu, Haji tak mau kalah. Ia lalu memelihara kucing lokal. Bulunya hitam bergaris abu-abu.

Kucing jantan, sementara si Persia betina. Jadilah mereka berkembang biak. Kucing-kucing lokal bertubuh tegap besar, Arab nian. Sejak itu semua investasinya dikemas dengan nama-nama yang dekat dengan kucing. Jika di industri properti ia sempat menamakannya Kitty Gold Garden, tetapi kemudian diganti nama yang menjual. Khusus mobil ia menjual juga mobil bergambar puma di bgian depannya, kabarnya sampai milyaran harga jualnya.

Kucing Air! Yakin. Haji calon investor Bandara Payakumbuh ini seperti sudah bulat tekadnya. Ah, sebulat apakah itu? Apakah nanti tidak diubahnya lagi. Tapi, peduli apa, toh yang investasi si Haji, kita hanya akan melihat saja. Lalu, naluri sebagai wartawan, muncul satu pertanyaan saja, Kucing Air akan mulai beroperasi kapan?

Eh, si Haji balik bertanya? Bandaranya sudah ada apa belum? Ah, resiprok sekali. Kucing Air, Kucing Air. Ah.(***)