Kreatif Itu Harus Berjiwa Seni (1)
An Denitral Bangun Zoom Studio Foto dan Video

“Jika identik kreatif, harus ada jiwa seninya. Hanya dipelajari saja, ditiru saja, tak akan berkembang. Yakinlah, itu!”

GambarGambar

DODI SYAHPUTRA, PAYAKUMBUH

An Denitral pemilik Zoom Studio meyakinkan penulis. Bahwa memulai usaha kreatif, harus dibarengi dengan nafas seni. An Denitral memulai usaha foto dan video ini dengan usaha panjang seusai menamatkan kuliah di seni musik.

Ya, An Denitral adalah lulusan Jurusan Pendidikan Seni Musik Universitas Negeri Padang. Ia kini, tetap menjalankan usahanya, sembari menjalankan “hobi” lainnya, selaku Kepala Seksi Olahraga di Pemerintah Kota Payakumbuh.

Asli dari Kota Galamai, Payakumbuh, Sumatera Barat, An Denitral, dengan dukungan ‘spirit of art’ yang dipunyainya kisah perjalanan usaha video dan foto yang terkenal di Sumatera Barat ini begitu mengapung.

“Masih kuliah, saya bersama rekan sudah mengisi acara di hotel-hotel. Spesialisasi musik saya, saxophone. Uniknya alat musik ini jarang yang pandai. Di akhir 90-an, penampilan kami di Hotel bintang 4 di Padang, sampai saya pasca kuliah, sekitar lima tahun tampil,” aku An Denitral bangga.

Tak hanya bermain saxophone, An Denitral juga selaku vokalis di musik sudut Lounge hotel itu. Lima tahun dilakoninya dengan penuh semangat. Tak hanya bisa membiayai diri dan kuliahnya saja, bahkan keluarga dan adik-adiknya bisa dibantunya.

Ada juga batas kepuasan itu. An Denitral yang punya saudara sepupu yang bekerja di PT Caltex (sekarang PT Chevron), ditawari untuk ikut seleksi guru kesenian. Selaku sarjana Pendidikan Kesenian, An Denitral merasa tertantang. Nilai dan ujiannya mencukupi, bahkan di atas rata-rata yang disyaratkan, di usia 29 tahun, ia mulai mengajar di Yayasan Pendidikan Caltex di Duri, Riau.

Selaku orang baru di Caltex, terutama bergelut di dunia pendidikan, An Denitral tidak tinggal diam. Saat itu, baru setahun ia beristri. Istrinya di Padang.

Mulai Usaha

Selaku guru kesenian, An Denitral justru mendapat beragam kemudahan. Mulai dari peralatan dan perlengkapan seni yang lengkap, hingga fasilitas pendukung; studio, komputer, alat render video, sampai kamera pun komplit. Ini enaknya bekerja di Yayasan Pendidikan Caltex yang kaya raya itu.

Mulailah An Denitral di sekolah internal anak-anak pekerja di perusahaan tambang minyak itu mengajar. Sekitar Oktober 2003, ia mencobai seluruh peralatan studio dan alat rekam serta lainnya. Bahkan, katanya, sebab di sekolah itu semua tersedia, ia rela untuk menginap di studio yang juga dilengkapi dapur dan alat masak itu.

”Maklumlah, istri saya waktu itu masih bekerja di Padang di sebuah bank syariah swasta. Makanya, saya bujangan di Duri. Meski saudara banyak yang berumah tinggal di komplek Caltex, meski saya pun diberikan rumah di sana, saya memilih tinggal lebih banyak di sekolah. Jadi, semua ilmu videografi dan fotografi kembali saya asah secara praktikal sendiri. Makin tajam.

Semangat seoramg guru yang kreatif inipun menjadi-jadi. Bermodal alat yang kemudian dibelinya sendiri, ia kemudian membuka penawaran bagi keluarga karyawan, kontraktor PT Caltex serta masyarakat sekitar yang membutuhkan dokumentasi foto dan video.

”Kalau yang buka usaha pengambilan foto dan video editing di Duri, Riau, kala itu sudah ada beberapa. Namun, kelemahan mereka di desain dan seni mengolah foto dan video. Di sini sisi kreatif dan seni kita uggulkan,” ujarnya di sela rehat di kawasan Ngalau Indah Payakumbuh, dekat kantor dinasnya selaku Kasi Olahraga di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Mulailah, satu-satu permintaan bantuan editing. Kala itu, An Denitral mengaku dihargai kerjanya Rp50 ribu per project. Kecil memang, untuk hasil yang berseni tinggi. Ia padu-padankan musik dan video step sehingga menjadi cerita dan bernuansa alami di hasil olahannya.

Video An Denitral kemudian dikenal makin ramai. Hampir setiap kegiatan di sub bidang sampai kegiatan pimpinan di PT Caltex mengharapkan foto dan videonya. Akhirnya, An Denitral turun tangan sendiri. Saat ada dokumentasi safe rescue & fire atau regu pemadam kebakaran, scenario disusunnya. Hasilnya, presentasi PT Caltex pun kian dipandang bernilai tinggi oleh kalangan pusat dan rekanan.

”Bertubi-tubi,” itulah ungkapan An Denitral mengibaratkan banyaknya permintaan kepadanya. Langkah berani kemudian, ia merekrut 4 orang karyawan. Dua di foto dan dua di video. Dua kali pengambilan ia masih menemani. Selanjutnya, ia sudah lepaskan tanggung jawab ke karyawannya ini.(bersambung)

 

 

Kreatif Itu Harus Berjiwa Seni (2-Habis)

Kisah An Denitral Kuatkan Zoom Studio Foto dan Video

Rasanya janggal jika paket foto dan video pernikahan, aqiqah, sampai ke wisuda kini masih dikerjakan sendiri. Memang tidak salah dan bisa, namun dari sisi profesionalitas dan hasil cipta tentu berbeda level. Inilah yang menjadikan An Denitral terus bersemangat menjalankan studio foto dan video Zoom Studionya yang berkantor rapi di Simpang Bunian Payakumbuh.

 

Dodi Syahputra, Payakumbuh

 

Keputusan untuk pindah kembali ke kampung halaman segera diambil An Denitral setelah lima tahun mengajar di Yayasan Caltex. Saat kembali ke ranah, ia tidak gagap. Ujian PNS ditempuhnya mulus di usia 35 tahun. Bekal ilmu kependidikan seninya masih di tangan.

Awalnya memulai studio foto dan video yang sudah jadi itu di rumah mertua. Di Sicincin. Mertua, memang punya Hotel yang ditumpangkan usaha jasa foto dan video ini. Memang tak lama, di sana terjadi sedikit kerancuan usaha ini. Antara resepsionis hotel dan urusan pelanggan foto dan video jadi campur aduk.

Maka, diambillah keputusan oleh An Denitral untuk menyewa sebuah ruko di Bunian. Tepat di depan kantor Pegadaian Payakumbuh. Pola studionya apik rupa. Studio foto yang lebih tepat disebut kantor itu, ditempatkan karyawan di sana.

Tarif foto itu kesepakatan. Nah di sinilah, mulai kini banyak ’pengganggu’ bukan ’pesaing’. An Denitral banyak menemukan order foto dan video yang batal di tengah jalan, sebab ada yang menawarkan dengan harga murah. Ini yang menyedihkannya.

”Saya, tidak kecewa. Tetapi, justru sedih. Banyak pemula yang potong kompas menawarkan di tengah kesepakatan. Umumnya, profesionalitas hasil dari para pemula ini jauh dari standar studio. Namun, Zoom Studio tidak mengapa, kalau banting harga, Zoom malah rugi besar, sebab kami harus bayar karyawan dan studio. Jelas sulit,” ujar An Denitral.

Sebenarnya, selaku pemilik, An Denitral tidak menunggui studio atau mengawal kerja karyawannya. Sebab, selaku pegawai negeri sipil, ia fokus di tugas dan kinerjanya. Namun, jiwa seni dan kreatifnya tidak lantas hilang. Banyak relasi yang mengenalnya, hasil kerjanya, dan inovasi yang dilakukannya. Sumbar dan Riau.

Sebab itu, kawan-kawan di komunitas foto dan video amatir yang profesional menetapkan jarak harga kerja yang sesuai untuk taraf masyarakat dan peralatan yang digunakan. Untuk foto dan video, misalnya Rp2 juta, lalu jarak harga terendah Rp1,5 juta. Zoom Studio juga melaksanakan kesepakatan tidak tertulis itu.

Nah, di sinilah kadangkala, saat kesepakatakan sudah tercapai, ada saja yang kemudian membatalkan kesepakatan, sebab ada yang menawarkan lebih murah. Harga dibanting bin banting harga. Namun, sebab konsep penjualan para pemula, yang kadangkala juga tidak mamakai alat sendiri, pinjam sana-sini, harga hasilnya justru lebih mahal. Jaminan hasil olah foto dan video juga tidak terjamin. Ini yang kemudian merusak nilai tawar studio profesional.

Meski asli Payakumbuh, namun usaha Zoom Studio dipandang sebagai pendatang, alias baru. Walau sudah menguasai banyak relasi, Zoom Studio tetap mengikuti aturan main dan standar harga yang dipakai di Payakumbuh dan sekitarnya. Unggulnya Zoom Studio, sebab hasil jepretan dan videonya sudah menggunakan peralatan terbaru, tenaga dan mesin pengolah terbaik. Bahkan, di setiap rekam kegiatan, Zoom Studio sudah menyediakan penyewaan alat layar besar plus video mikser yang menampilkan scene ke scene lainnya.

Hasilnya, Zoom Studio telah dipercaya dalam iven-iven besar, laksana konser-konser music, game lapangan, sampai baralek pejabat dan kepala daerah. Teknologi dan tipikal Zoom Studio hasil kreasi An Denitral mengundang decak kagum pelanggan serta pengunjung pesta. Makanya, Zoom Studio tak habis orderan, meski tidak harus berkejar-kejar.

”Dulu, kita di Zoom, saat awal di Payakumbuh kembali, memang sudah seperti event organizer dan wedding organizer. Namun, saat ini tipikal yang punya pesta, tidak mau lepas tangan. Dipartisikan, dibagi-bagi setiap peralatan pesta yang dibutuhkan. Jika dulu, Zoom Studio mau memberi harga murah dengan sistem lobi rekanan penyedia perlengkapan pesta, sebab untuk foto dan video kita yang handel,” jelas An Denitral santai.

Sore makin mengkilatkan suasana di luar gedung kolam renang Ngalau Indah Payakumbuh sore itu. An Denitral yang sengaja ’diculik’ dari tugasnya, menjelaskan kembali bahwa teknologi dan kreasi seni foto dan video terus maju. Kita harus ikut arus itu. Alat dan perlengkapan terus diperbarui oleh Zoom Studio.(***)