Gambar

Aribus Madri: Tak Tertutup Kemungkinan Akan Buat Perhitungan Hukum 

PAYAKUMBUH

Heboh peristiwa penendangan meja yang dilakukan anggota Badan Anggaran DPRD Kota Payakumbuh, kasusnya  sempat disorot sejumlah pihak, akhirnya memaksa Ketua DPC PDI Perjuangan, Aribus Madri, angkat bicara.

Di

sela-sela kunjungan kerja Komisi A dan C ke Denpasar, Bali, Aribus Madri mengelar temu bicara dengan sejumlah tokoh rang awak yang ada di Bali,  Selasa (26/11).

Rekan wartawan Doddy Sastra menyampaikan informasi tentang hal ini usai pertemuan via handphonenya.

 

Dalam diskusi terbatas dengan sejumlah perantau Luak Limopuluah itu, Aribus yang belakangan namanya santer dibicarakan media massa dan disebut sebagai anggota dewan  berlagak koboy itu, secara terang-terangan mengaku tidak pernah melakukan aksi penendangan meja seperti yang dihebohkan itu.

“Perlu saya tegaskan, tidak pernah saya menendang meja. Yang terjadi hanyalah bahagian dari kekesalan kami terhadap Sekretaris Dewan yang diduga mempecundangi hasil voting 11 orang anggota Banggar, dengan cara memutarbalikan hasil perolehan suara dalam voting waktu menggelar rapat di Hotel Pusako Bukittinggi,” sebut Aribus Madri.

Didampingi sahabatnya, Teguh Setyawan, orang dekat Gubernur DKI Joko Widodo, Aribus Madri, membeberkan kronologis yang terjadi di Hotel Pusako tersebut.

” Setelah dikecam banyak pihak, Saya sudah lama diam. Hari ini saya terpaksa angkat bicara. Sebab, ada sebahagian rekan-rekan yang saya nilai sudah keterlaluan memojokan pemberitaan tentang saya. Ini sangat merugikan pribadi dan partai saya,” aku Aribus yang akrap disapa Ar itu.

Diungkapkan Aribus,, rapat Bnggar memanas setelah adanya usulan penganggaran untuk mengundang grup band Wali.

“TAPD mengusulkan penganggaran uang senilai Rp.80 juta untuk mengundang Wali Band. Dana sebanyak itu belum termasuk rodies dan pekerja lainnya. Totalnya, dana yang dialoksikan untuk kepentingn mentas Wali Band  itu  mencapai Rp300 juta. Yang sangat kami sesalkan waktu itu adalah, mata anggarannya diduga tidak sesuai dengan kedatangan grup band wali,” kata Aribus.

Adapun nama mata anggaran yang diajukan melalui Dinas Pariwisata ialah Promosi Kebudayaan Wisata Dalam dan Luar Negeri’. Memangnya, Wali Band dari luar negeri? Makanya, kami menolak anggarn untuk itu dan akhirnya untuk mendudukan masalah tersebut terpaksa dilakukan  voting.

Diakui Aribus, kalau memang memeriahkan HUT Payakumbuh itu diadakan kegiatan seni, kawan-kawan di Banggar lebih setuju menggelar pekan seni dengan melibatkan pelaku seni lokal. Artinya, buat apa mendatangakn grup band jauh-jauh, kalau anggarannya tersedot banyak. Lebih baik memberdayakan  pelaku seni lokal.

Kalaupun diperlukan benar kegiatan religius berbau kepentingn agama, kawan-kawan di Banggar lebih setuju  mengundang buya kondang untuk menggelar tabligh akbar. 

Masih menurut Aribus, penolakan Wali Band itu belakangan dia nilai bermuatan politis. Pasalnya, kasus tersebut dibesar-besarkan dan malah dia dituding  melakukan aksi tendang meja  dihadapan TAPD.

” Itu jelas berita bohong. Rapat saat itu hanya diikuti 11 anggota Banggar dan Sekwan Atur Satria serta 11 anggota Banggar. Kesebelas anggota Banggar itu antara lain  Aribus Madri,  Adi Suryatama, Isa Aidil, Syaiful Anwar, Mustafa, Tri Venindra, Alhadi Hamid, Nasril Suri, Suhaimi Biran, Zul Amri, YB Dt Parmato Alam dan Khairul Kayo.” ulas Aribus.

Dikatakan Aribus, karena waktu itu pembahasan soal Band Wali itu mengalami kebuntuan, maka dilakukan voting. Hasilnya, 6 orang menolak, 5 setuju. Tapi, Sekwan yang menghitung perolehan suara, justru mengumumkan 5 menolak dan 6 orang menyetujui. Ini salah besar dan menjadi pangkabala hebohnya rapat Banggar tersebut” katanya.

Aribus balik bertanya, Siapa yang tidak akan emosi dengan kenyataan  ini. Sudah jelas 6 menolak dan 5 menyetujui, malah disebut sebaliknya. “Saya memang kecewa dengan sistim reformasi Sekwan. Waktu itu saya sempat memukul meja dan mendorong meja. Bukan menendang. Selain saya, Adi Surya juga marah dan memukul meja,” tegas Aribus.

Dirinya merasa heran, rapat tertutup itu, sengaja  dipolitisir oleh pihak tertentu terutama beberapa pekan terakhir. “Saya dibilang tidak setuju dengan kegiatan religius. Kesannya, sengaja diciptakan seolah-olah saya itu anti agama. dan berprilaku preman. ” Tindakan sebagian pihak yang ingin merusak pribadi saya dengan maksud mencemarkan nama baik saya termasuk partai saya, jujur saya tidak dapat menerimanya” sebut Aribus.

Tegasnya, aku Aribus, terhadap adanya usaha pihak tertentu terindikasi mmelakukan pencemaran nama baiknya,  saat ini dia mengku  tengah  melakukan kajian hukum. ” Tidak tertutup kasus tersebut akan saya limpahkan kepada penegak hukum, karena tudingan itu sangat merugikan nama baik saya dan partai PDI Perjuangan”  ujarnya.