Gambar

20 PENGELOLA HOMESTAY, DILATIH PEMKAB

 

LIMAPULUH KOTA

Tak salah jika pariwisata dituntut rapi, intelek, dan bersih. Dua pembicara di Workshop Manajemen dan Pemasaran Homestay/Penginapan dan Restoran yang berlangsung di D’Harau Resto, sepakat menyatakan bahwa seluruhnya harus dikelola maksimal.

”Sampai toilet pun harus bersih dan rapi. Sebab, pengunjung daerah wisata, ingin bermanja dan mengistirahatkan tubuhnya. Tidak untuk pusing sebab bau apek di toilet,” ungkap Abdullah Rudolf Smith di ruangan pertemuan D’Harau Resto memulai hari pertama workshop yang berlangsung tiga hari itu, mulai Selasa (26/11).

Penuturan pembicara Abdullah Rudolf Smith dan Ifra Yunaldi sepakat bahwa yang pertama harus bersih meski tidak terlihat langsung adalah toilet. Fasilitas pariwisata, seperti hotel, penginapan, tempat rekreasi, hingga restoran.

Sementara, Ifra Yunaldi, di depan 20 orang peserta yang pengelola homestay dan restoran ini berbicara di hari pertama menyoal destinasi manajemen pariwisata. Direktur Akademi Pariwisata Bunda ini mendapat apresiasi dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan para peserta di saat sesi diskusi.

Dukungan Pemerintah

Kabid Pariwisata, Ali Hasan terlihat mengawal kegiatan ini sedari awal. Ali Hasan yang lulusan ilmu kepariwisataan serta sempat selaku praktisi perhotelan, ikut berdiskusi. Pembahasan sampai ke luar sesi, dengan menggagas kebersamaan visi kepariwisataan Sumatera Barat.

”Sumatera Barat, jika ditanya di luar, apa sih ikonnya? Atau, ketika kita sebut sebuah ikon, orang akan langsung terjejal ke Sumatera Barat atau Minangkabau. Ini misi yang harus sama-sama diperkuat pemerintah daerah,” sela Ifra yunaldi kepada Ali Hasan.

Oleh sebab itu, menurut Ali Hasan, kepariwisataan di Limapuluh Kota, untuk ke depan memakai Harau sebagai labor pariwisata. Di sinilah tempat bagi dunia kepariwisataan menemukan tempatnya berkembang dan bertumbuh.(dsp)