PEJUANG UNTUK GURU

 

OLEH: DRS. HANDRIANTO*

 

Gambar

SEKALI guru tetap guru. Begitu penulis mengilhami puluhan tahun mengajar di kelas, mendidik siswa, sekaligus mengerjakan tugas negara, selaku guru yang pegawai negeri sipil. Suka dan duka, menjadi guru telah mematangkan saya. Memahami dengan mendidik, jelas berbeda dengan memahami dengan mengamati. Mendidik ada interaksi dengan jiwa guru-siswa sehingga capaian tugas dan pemahaman materi ajar dapat tercapai.

 

2013 lalu, penulis pensiun. Sebagai bentuk komitmen hendak menginfiltrasikan kepentingan dunia pendidikan lewat kebijakan kenegaraan. Luapan emosi seorang pendidik, saat membandingkan kualitas, bukan kuantitas para subjek belajar (siswa dan guru), tentunya kini terasa benar kesenjangan antara dalam dan luar negeri.

 

Mari kita kembali ke belakang, sejenak. Ketika Hirosima Jepang hancur berantakan setelah kena bom atom, yang pertama ditanya oleh Raja Jepang, “Berapa orang guru kita yg tersisa (masih hidup)? Pertanyaan ini akan sangat aneh, ketika bukan berapa orang pintar, bergelar, atau Jenderal Perang, atau profesional lainnya yang ditanyakan.

 

Kaisar Jepang, hari itu, bertanya, berapa guru yang tersisa. Rehabilitasi Jepang dengan warganya yang ulet bekerja, bersemangat tinggi, serta memiliki kapasitas pemikiran dan kecerdasan yang luar biasa, sangat singkat. Tak lama, Jepang, meski dinyatakan kalah perang dan angkat tangan dengan sekutu, berkat para Sensei di berbagai bidang ilmu, mampu menegakkan kepala kembali.

 

Sekarang, kita saksikan bersama, Jepang malah menguasai dunia. Namun, tidak dengan senjata. Tidak dengan prajurit yang pemberani dan siap mati. Jepang, justru tanpa egoisme kakunya, mampu merambah hingga mesin cuci, televisi, mobil, pendingin udara, komputer, kabel rumah, dan sebagainya. Cobalah kita berhitung, berapa banyak Jepang telah menguasai kehidupan semua orang di dunia. Banyak.

 

Nah, kacamata berfikir kita, tentang negara yang mementingkan pendidikan, kita layangkan ke era 1970-an. Negara jiran Malaysia, sedang getol-getolnya mengimpor para guru dari Indonesia. Pertimbangan Malaysia, jelas, sebab negara itu sedang mengkibarkan Melayu cerdas. Lewat berbagai fasilitas, dimanjakan, gaji yang tinggi, dan lainnya para guru Indonesia ini menetap dan mendidik Malaysia menjadi negara yang cerdas.

 

Ini bukti, bahwa profesi guru sangat penting dan berada di posisi puncak kejayaan. Negara lain, masih banyak yang lainnya, umumnya negara yang berkategori maju dan memiliki manusia berilmu, terampil, terdidik, sangat menghargai peran penting guru di negara mereka. Guru, adalah manusia terhormat, didahulukan melangkah, jadi tauladan.

 

Nah, kita tinjau Indonesia saat ini. Profesi guru yang disandang terjadi pandangan kontradiktif atau berlawanan. Guru tidak dihormati, pun tidak menjadi panutan dan idola masyarakat. Ini, bisa saja dibantah, tetapi penulis merasakan langsung perlakuan dan penilaian terhadap profesi ini dibanding profesi lainnya jauh dari yang kita contohkan di atas.

 

Guru, sebenarnya, baik yang sudah memiliki fasilitas sertifikasi, golongan yang tinggi, maupun guru yang baru merintis karir atau honor sekalipun punya kesulitan yang tak jauh berbeda. Meski, secara jarak pendapatan dan fasilitas jelas berbeda. Kesulitannya jamak, masih sulit untuk mencukupi kebutuhan keluarga secara standar profesi yang sungguh tauladan ini. Jangankan guru berpakaian necis, menjadi idola dan tauladan masyarakat, guru masih disusahkan dengan tetek-bengek kebutuhan keluarga yang harus tidak dipikirkannya saat ia mengajar di depan muridnya.

 

Di Indonesia saat ini, khusunya di Sumatera Barat, nilai sejahtera guru masih dibandingkan dengan gaji buruh di pabrik, atau karyawan di toko baju. Jelas, tidak akan sinkron dan tepat acuan. Tak heran, jik guru kemudian memperbanyak jam mengajar demi sertifikasi, atau memperbanyak tempat mengajar demi honor per jam ajar yang dia terima.

 

Agustus 2013 lalu, penulis mengambil langkah berani. Penulis memutuskan pensiun dari guru berstatus pegawai negeri sipil. Keputusan yang cukup berat, jika tujuan penulis berharap gaji, tunjangan, dan sertifikasi. Namun tidak demikian. Saya, berniat berjuang atas nasib guru di Sumbar khususnya agar diperhatikan pemerintah secara harkat, martabat, dan imbalan kerja yang sesuai.

 

Meski tidak lagi menjadi guru yang pegawai negeri sipil, namun saya tetap guru. Guru bagi keluarga, bagi murid-murid saya di kelas-kelas olahraga prestasi, juga menjadi tauladan masyarakat. Insya Allah, bagi saya menjadi guru untuk seumur hidup. Hidup saya untuk mendidik, tidak hanya sekadar mengajar.

 

Sertifikasi

 

Sebab sertifikasi, yang nilainya sama dengan gaji pokok itu, banyak guru yang keteteran. Jam mengajar harus 24 jam minimal di bidang studi yang sama. Guru harus membuat laporan lengkap kerja, dan sebagainya. Bicara kualitas, kini target kurikulum yang harus dituntaskan, bukan lagi tuntas pemahaman siswa. Sebab ini yang disyaratkan oleh pimpinan di pusat sana, guru harus patuh dan taat. Soal siswa paham dan mengerti hakikat yang diajarkan, itu sudah jadi soalan penyesalan pendidikan saja.

 

Pemerintah belum serius dengan hakikat pendidikan, mencerdaskan bangsa. Hakikat yang dipahami, baru sebatas kerja selesai sesuai target dan anggaran saja. Itu persoalan utama. Bahwa dana sertifikasi itu tidak pula penuh diterima guru, sudah jadi rahasia umum. Dinas yang tamak pun merampas secuil dikali sekian puluh ribu guru. Secuil yang berharga itu.

 

Penulis bertekad, sudah saatnya guru berjuang dari dalam pengambilan kebijakan. Harus ada wakil guru di tubuh pemerintahan, sehingga terjadi pengambilan keputusan, pengawasan, dan koreksi yang mumpuni. Tidak sekadar dengar pendapat, namun menghasilkan ketok palu keputusan. Demi harkat guru dan pendidikan. Insya Allah berkah!

*Penulis       : Drs Handrianto

Jabatan     : waketum II KONI Sumbar

: Ketua Pengprov TI Sumbar

: Sekum Pordasi Sumbar