RAMAI LUAR BIASA, KALAHKAN JOSS

SISI LUAR PELANTIKAN WALIKOTA PAYAKUMBUH


PAYAKUMBUH

 

Pelantikan Walikota Payakumbuh Riza Falepi-Suwandel Mukhtar berlangsung penuh bahana. Rapat paripurna DPRD Payakumbuh, yang melantik keduanya menjadi pimpinan Kota Batiah ini dihadiri banyak pejabat. Selain RI 7 alias Ketua DPD RI Irman Gusman, Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, disertai pula oleh para pejabat daerah dari Sumbar dan Riau.

 

Pelantikan di dalam GOR M Yamin kemarin Minggu (23/9) memang luar biasa. Ramainya, bahkan melebihi pelantikan Josrizal Zain-Syamsul Bahri, walikota sebelumnya, 2007 lalu. Terbukti, dari foto-foto pelantikan Joss yang dipampang di pameran foto dan kliping koran di jalan masuk GOR.

 

“Kali ini lebih ramai. Dulu, kami yang datang pakai dilarang merokok segala. Lihat saja, fotonya, tribun terlihat lengang,” ungkap seorang warga yang datang menyaksikan dari luar.

 

Banyaknya pejabat yang datang, juga diramaikan oleh tetamu dari Padang, Bukittinggi, Pesisir Selatan serta daerah lainnya. Terlihat di sana juga ada BM 2 A alias Ketua DPRD Kota Pekanbaru. Sungguh ramai, luar biasa. Inilah pelantikan yang membuka ruang segala unsur masyarakat.

 

Di gedung samping kiri, tenda dan kursi disediakan. Ada pejabat juga, ada niniak mamak, ada bundo kanduang dan pemuda. Semuanya bisa menyaksikan acara lewat layar televisi yang menayangkan kegiatan di dalam gedung.

 

Terlihat pula mantan Sekda Kabupaten Limapuluh Kota, Resman Khamars, pengacara Rusdi Zen, Anggota KPU Payakumbuh dan Limapuluh Kota, mantan Plh Gubernur Sumbar Mahmuda Rivai serta tokoh-tokoh tidak asing lainnya.

 

Lainnya, anggota DPD RI yang datang dengan alasan Kunjungan Kerja terlihat sibuk bolak-balik di dalam dan luar gedung pelantikan. Para ajudan pejabat juga duduk di tepi, bersamanya para wartawan cetak dan elektronik sambil merokok santai mengobrol di luar gedung.

 

MINGGU CERAH

 

Pelantikan di hari Minggu ini dirasakan banyak pihak cukup menguntungkan. Karangan bunga, terlihat diurut berdasar kepentingan dan jabatan. Dari pintu masuk GOR, sampai ke rumah dinas Walikota diurut berbagai karangan bunga.

Sayang, masyarakat biasa tidak banyak yang hadir menyaksikan. Mereka menikmati hari libur.

 

“Toh, yang dilantik itu Walikota. Kita hanya menunggu gebrakannya saja lagi,” ujar Mak Tan Mudo di kedai kopi tak jauh dari gedung pelantikan.

 

Pelantikan walikota Payakumbuh memang luar biasa. Tapi, tentu kita menunggu keluarbiasaan tindakannya dalam memimpin. Banyaknya orang dekat, partai dan tokoh jangan menghambat laku kebijakan dan pola kepemimpinan walikota.

 

Masyarakat tetap menunggu sikap pemimpin yang dipilih mayoritas masyarakat ini. “Jangan nanti seperti ‘nan taralah’ banyak pula yang berkantor di kantor Walikota,” tukas Mak Tan Mudo menyindir.

 

Sementara itu, tokoh petani Payakumbuh Astra Santayana meminta agar Walikota yang baru dilantik betul-betul jumawa memberikan ruang bagi petani. Selama ini, akunya petani hanya dijadikan komoditi politik saja. Ke depan, petani harus dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan pertanian di Payakumbuh.

 

“Janganlah kami ini dijadikan alat atau objek penderita saja. Saat kami butuh bantuan, bimbinghan dan kebijakan, walikota harus mampu menjadi pemimpin yang membimbing petani yang jumlahnya juga mayoritas di kota Payakumbuh ini,” ujar Astra Santayana yang aktif di organisasi petani.

 

DODI SYAHPUTRA

PORPROV KIAN DEKAT, PANPEL MENUNGGU ANGGARAN PROVINSI


LIMAPULUH KOTA

 

“Tuan rumah siap, benar-benar siap. Tak ada halangan lagi. Maunya kita, komit tetap di 12 Desember. Seluruh bidang pun tak ada kendala lagi.”

 

Ungkapan Sekretaris Panpel Pekan Olahraga Provinsi XII 2012, Zulhikmi Datuak Rajo Suaro beberapa waktu lalu, di H-53 pelaksanaan ini dibenarkan Bidang Humas dan Publikasi M Siebert di Kantor Bupati, Senin (24/9) kemarin. M Siebert mengatakan, Panpel dan Pemkab saat ini hanya sedang menunggu kebijakan anggaran bantuan dari provinsi dan daerah lain yang dikatakan sejak awal akan membantu pelaksanaan Porprov.

 

“Sekda telah berkoordinasi ke provinsi. Namun, untuk penegasan ada atau tidaknya anggaran bantuan dari provinsi serta kabupaten dan kota lain yang dijanjikan sejak mula, dengan jumlah sekitar Rp3,4 miliar kita perjelas dulu,” ujar M Siebert.

 

Layaknya pelaksanaan Sea Games dan PON Riau lalu, panitia pelaksana kini menunggu betul kejelasan sikap pemerintah provinsi tentang bantuan anggaran pelaksanaan POR provinsi ini. Soal kesiapan tenaga, perencanaan, sistem dan alat kerja sudah dimaksimalkan semampu tuan rumah.

 

Wakil Ketua II drh. Armen yang membidani bidang Konsumsi, Kesehatan, Pelayanan Tamu, Humas dan Publikasi, Pameran dan Bazaar mengatakan belum duduk kejelasan pembagian pembiayaan. Makanya, secara sistematis, ia mengatakan agar segera pemerintah kabupaten untuk mendudukkan anggaran bantuan yang besar untuk pelaksanaan Porprov ini.

 

drh Armen yang juga Wakil Ketua DPRD Limapuluh Kota, mengatakan bahwa secara pemerintahan belum dilakukan koordinasi aktif dari Panpel kepada DPRD. Dewan sampai hari ini belum diajak bicara soal kesiapan pelaksanaan Porprov. Makanya, persoalan anggaran belum diketahui seluruh anggota DPRD Limapuluh Kota.

 

“Kini, begini saja. Kita tunggulah, di H-53 ini. Kalau benar ada aturan anggaran tentang bantuan kita tunggu. Saya sejak awal sudah janggal, masak SK Gubernur tentang kepanitiaan Porprov dinoticekan bahwa segala hal berkaitan pembiayaan atas SK dibebankan kepada APBD Limapuluh Kota,” ujar drh Armen, politisi PPP ini.

 

DODI SYAHPUTRA

BPBD KOORDINASI DENGAN BALAI WARTAWAN


LIMAPULUH KOTA

 

Luasnya wilayah di 13 kecamatan Limapuluh Kota tidak membuat gentar para punggawa penanganan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selalu memberikan informasi terkini terkait dengan penanganan kebencanaan di Luak nan Bungsu ini.

 

“Daerah kita memang rawan bencana. Longsor, galodo, puting beliung serta ancaman bencana lainnya. Makanya, Limapuluh Kota dengan BPBD nya selalu siaga dan berkoordinasi dengan setiap instansi terkait termasuk wartawan,” aku Edy yang berdialog langsung dengan Koordinator Balai Wartawan, Doddy Sastra di BW, Senin (24/9) kemarin.

 

Edy yang Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Limapuluh Kota menyatakan bahwa alat kerja dan kesiapan tenaga atau personil terus diperkuat. Memang, bencana tak bisa seluruhnya diprediksi. Maka itu, seluruh tenaga yang ada dimaksimalkan kesiapan dan mentalnya.

 

Menyoal anggaran penanganan dan kesiapsiagaan, Edy mengatakan tengah dibahas di DPRD tentang tambahan anggaran di perubahan 2012 ini. Edy sangat berharap legislatif memberikan kekuatan dari sisi anggaran bagi pelaksanaan dan kinerja BPBD.

 

“Saya kira, wartawan dan medianya punya kekuatan informatif. Sehingga, publik mengerti dan paham bagaimana bencana ditangani, bagaimana bencana perlu anggaran pencegahan, serta kesadaran akan siaga bencana ini,” ujar Edy.

 

Hal ini disetujui oleh Balai Wartawan. Doddy Sastra mengatakan wartawan di Balai Wartawan seluruhnya di Payakumbuh dan Limapuluh Kota selalu siap mendukung kegiatan dan kinerja BPBD. Namun, informasi tentang kebencanaan, hendaknya juga harus makin uptodate, jelas dan rapi.

 

“Sehingga, pemberitaan media mampu mengeksplorasi kejadian sebenarnya di lapangan. Tidak di setiap bencana wartawan mampu datang dan langsung meliput. Karenanya, dibutuhkan jalinan informasi yang akurat dan detail.

 

DODI SYAHPUTRA

PAYAKUMBUH BENTUK TIM MONEV

ATLET YANG BERPRESTASI YANG DIUTUS KE PORPROV XII


PAYAKUMBUH

 

KONI Payakumbuh terus bersiap. Hanya hitungan hari, 61 hari lagi pesta olahraga multi iven ini akan digeber di kabupaten yang telah berusia 171 tahun ini. Selaku wilayah yang berada di dalam lingkup geografisnya, Kota Payakumbuh tetap bersikukuh akan merebut prestasi lebih baik dari Porprov XI Agam sebelumnya.

 

“Sebab itu, siang ini kita bentuk tim monitoring dan evaluasi yang tugasnya mendata kesiapan masing-masing cabang olahraga yang akan berlaga di arena Porprov XII. Jadi atau tidak jadi, pokoknya di tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 ini, kontingen Payakumbuh betul-betul siap tempur!” demikian tekad Ketua KONI Kota Payakumbuh Yunir Yalri didampingi Sekretaris Asril dan Kadiparpora Rida Ananda di Ruang Rapat Disparpora Payakumbuh, Rabu (19/9) kemarin.

 

Peserta rapat yang terdiri dari seluruh pengurus KONI Payakumbuh dan Staf Disparpora mengikuti rapat ini dengan serius. Berargumen beberapa peserta rapat, bahwa monitoring dan evaluasi (monev) dapat membuat terjadi dinamika baru bagi persiapan atlet dan cabang olahraga.

 

Hal ini dijawab oleh Yunir Yalri, bahwa monev bertugas mendata. Sampai di sana. Data lapangan serta data dokumen yang dikumpulkan, nantinya akan dirujuk ke sidang panitia atau kontingen untuk merumuskan atlet yang akan diberangkatkan menuju arena Porprov.

 

Baik Rida Ananda maupun Yunir Yalri, menandaskan bahwa selaku peserta, Kota Payakumbuh kini berebut pengaruh dengan tuan rumah. Limapuluh Kota, menurut keduanya, mempersiapkan diri untuk tampil terbaik. Selaku, daerah tetangga, Payakumbuh tentu mendapat regresi kekuatan tim.

 

Meski tidak disebutkan, regresi apa, namun bisa diterka bahwa kekuatan atlet-atlet yang berkualitas akan diopsi oleh atlet itu sendiri. Atlet akan memilih untuk bergabung di tim tuan rumah atau Payakumbuh.

 

Makanya, tim monev ini disegerakan. Kurang waktu dua bulan lagi, multi iven olahraga prestasi Sumbar ini akan digelar. Raihan 15 emas di Porprov 2010 Agam lalu, hendaknya makin meningkat.

 

1,6 MILYAR

 

Disebutkan Yunir Yalri, bahwa dana hibah di APBD 2012 untuk persiapan Porprov oleh KONI berjumlah Rp1,625 miliar. Dijelaskannya kembali, bahwa untuk rinciannya, dianggarkan buat operasional sekretariat sebesar Rp225 juta, Rp525 juta dana pembinaan, Rp900 juta utk cabor yg bertanding terjadwal.

 

Makanya, KONI Payakumbuh telah menerapkan sistem tidak memberikan anggaran bagi cabor yang pengurusnya tidak lagi definitif. Ditambah anggaran pembinaan tahap kedua, tidak akan diberikan bagi cabang olahraga yang belum menyerahkan pertanggungjawaban tahap pertama.

 

25 cabang olahraga awalnya dibantu untuk persiapan menuju Porprov XII. Namun sebab cabang biliar tidak dipertandingkan, ditambah dua cabang; motor dan terbang layang juga mengusulkan atletnya, maka kini sedang dipertimbangkan.

 

“Kedua cabang ini telah mengajukan proposal. Cabang motor dan terbang layang (aerosport) masing-masing mengajukan ruangan Rp38 jutadan Rp80 juta,” aku Yunir Yalri kepada seluruh peserta rapat pembentukan tim monev KONI Payakumbuh.

 

428 kontingen di 2010 lalu menjadi pelajaran berharga bagi KONI Payakumbuh. Ditekadkan, di 2012, meski lokasinya dekat, namun harus lebih tepat sasaran dan tepat prestasi. Juga dibahas tentang bonus atlet yang meraih emas, jika Porprov sebelumnya Rp8 juta setiap emas.

 

“Membatasi, menakar kemampuan dan kemungkinan emas berdasarkan prestasi. Porprov kali ini tidak boleh asal-asalan. Demi prestasi Kota Payakumbuh,” tukuk Yunir Yalri.

 

DODI SYAHPUTRA

 

 

 

 

IPUAH DAN CORAN RINGSEK AKIBAT ANGIN

TERNAK WARGA TERTIMPA POHON, MATI

 

LIMAPULUH KOTA

 

Terjangan puting beliung kembali menghantam Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Situasi terberat dihadapi oleh Kecamatan Lareh Sago Halaban. Angin kencang saat hujan, Selasa (18/9) sore lalu menghantam. Masyarakat ketakutan dan berlarian ke luar rumah yang royong dihantam angin kencang.

 

Jelang maghrib. Warga Jorong Sungai Ipuah dan Jorong Coran, Nagari Sitanang Kecamatan Lareh Sago Halaban kelimpungan.

 

“Kalaulah hujan saja tak mambuat kami ketakutan seperti ini. Angin kencang menghantam keras, kami sangat cemas,” aku salah seorang warga kepada Rakyat Sumbar sore kemarin.

 

Diperoleh informasi sementara bahwa 10 rumah rusak berat, dua ternak sapi warga tertimpa pohon dan mati. Cuaca yang gelap, hujan yang sangat derasnya ditambah dengan angin kencang sungguh membuat warga ketakutan.

 

Pagi tadi, bantuan telah berdatangan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Belum dilaporkan ada korban jiwa.

 

DODI SYAHPUTRA

Menaja Negeri, Minang Dukung Sukses PON

 

Tersiar kabar bahwa akan banyak pergolakan selama PON berlangsung. Ada kelompok masyarakat di Riau yang menolak pelaksanaan PON, menggugat persiapan yang katanya penuh korupsi. Apa pasalnya ini?

 
 

Selaku tamu, kontingen Sumbar tidak memperhatikan hal ini. Sebab, ini di luar tujuan utama. Utamanya adalah raihan 12 emas. Minimal 12 emas. Selayaknya, apapun persoalan hukum dan politik yang terjadi di negeri tuan rumah tidak menganggu konsentrasi atlet dan kontingen untuk memenangkan juara di tiap lomba dan laga.

 
 

Ikatan Keluarga Minang Riau dan Ikatan Mahasiswa Minang Riau Kamis kemarin bersepakat. Puluhan anggota kedua organisasi keluarga Minang itu menaja spanduk dan berorasi di depan kantor PB PON Riau. Tekad rang rantau ini agar PON terus dilangsungkan dengan sukses. Sukses bersama masyarakat Riau.

 
 

Perantau ini adalah warga Riau. PON atau Pekan Olahraga Nasional sudah sejak bertahun-tahun lalu dikomitmenkan dilangsungkan di Bumi Lancang Kuning. Sejak digemakan dengan keras, terakhir di PON XVII 2008 lalu di Kalimantan Timur, Riau seakan jadi magnet nasional. Dari Aceh sampai Papua semuanya menyebut Riau.

 
 

Bumi Melayu yang tak ternama dulunya, kini dikenal dan diagungkan di Indonesia. Pantas saja, setiap minggu ada saja pertemuan olahraga dilakukan. Diikuti pertemuan bisnis dan ekonomi. Tak terbayangkan, Panam yang dulu ladang rumbia itu kini menjadi ladang beton yang berwarna-warni.

 
 

Kontras sekali dengan Yogyakarta, yang warganya mempertahankan tradisi khas warna tradisi yang non kecerahan. Riau kini, telah diwarnai oleh aneka warna. Mobil-mobil mewah bukan lagi pandangan yang aneh di Riau. Bahkan, ketika sampai ke Sumbar, kita hanya melongo dan mendehem. “Ada ya?”

 
 

Komitmen Riau sempat dilanda demam hukum. Meski ini masalah di Riau tetapi telah menasional. KPK bagai telah berkantor di Riau. Telisik yang dikemas pun sampai membuat para pejabat Riau resah. Inilah yang menjadikan pelaksanaan PON banyak tertunda beragam persiapan.

 
 

Laksana Sea Games lalu, waktu itu Presiden RI ambil alih kebijakan dengan Keppres, sedang di PON pencairan dana bantuan pusat dan APBD Rp260 miliar baru disolusikan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Kementerian dan Lembaga dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) tentang Percepatan Persiapan Penyelenggaran PON XVIII tahun 2012 di Riau.

 
 

Tindakan IKMR dan IMMR terhadap keberlangsungan PON Riau patut diapresiasi. Sebab, jika tidak demikian helat akbar olahraga prestasi ini akan dilecehkan dengan beragam tuntutan yang berdasar lain itu. Sukses PON harus memang menjadi fokus utama Riau. Sebab, persoalan personal yang terjadi di ranah hukum tidak bisa menjadi penghalang alek akbar nasional ini.

 
 

PON sendiri boleh jadi milik Riau. Namun 240 juta warga Indonesia berharap sangat untuk menyaksikan, melihat, mendengar dan mengetahui prestasi atlet daerahnya. Termasuk Sumbar yang tetangga 6 jam saja dari Riau. Kini, mau kontingen atau tidak kontingen, banyak warga Sumbar yang bergerak ke Riau hendak menyaksikan perkembangan prestasi atletnya.

 
 

Inilah olahraga. Sebuah desain hidup yang menyehatkan, memprestasikan dan menghidupkan ekonomi. Olahraga kini telah menjadi sistem hidup yang tak bisa dipisahkan. Biar hanya menonton saja, namun eksplorasi emosi di tepi lapangan dan spirit suporter menjadikan banyak orang bersedia begadang sampai pagi demi menonton tim sepakbolanya di depan televisi.

 
 

Makanya, tidak disangsikan lagi yang dilakukan IKMR dan IMMR itu bagian spirit olahraga yang harusnya juga didukung oleh seluruh masyarakat Sumbar. Organisasi rantau ini secara haq pun telah menginstruksikan untuk mendukung kontingen Sumbar di setiap arena. Insya Allah, Sumbar Emas di tangan kita.

AKREDITASI, SIBUKKAN KONTINGEN

 

PEKANBARU

 

WAKIL KETUA UMUM I KONTINGEN PON SUMBAR, SYAIFUL SH MHUM BERAKTIFITAS DEMI SUKSES KONTINGEN DI RIAU


 

2012, tampaknya tahun baru bagi otomatisasi data atlet, pelatih, ofisial dan kontingen seluruh provinsi di Indonesia. Termasuk tuan rumah Riau, harus mendirikan Kantor Bidang Akreditasi sendiri yang mengurus kesahihan kepesertaan atlet, pelatih, ofisial dan kontingen. Seluruh kontingen provinsi se-Indonesia, belum lagi wartawan media dan pengurus KONI Pusat sampai daerah, cabang olahraga serta tamu ditangani di kantor ini.

 

Terbayangkan, bagaimana kesibukan di hari-hari terakhir pengurusan legalitas pemegang identitas diri (ID). Termasuk Sumbar, harus berkali-kali dicocokkan ulang, dijemput dan dikirimkan data ulang, direvisi, diimbuh dan dikurangi. Kesibukan ini dilakoni oleh Wakil Ketua Umum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum dan Anggota Bidang Humas Dodi Syahputra. Memang, antrian tak beraturan, petugas akreditasi yang sibuk alang kepalang, server data yang loading lama alias lola menjadi kendala.

 

“Menghimpun dan mempersiapkan penyambutan perantau, serta upacara di Pekanbaru telah kita selesaikan. Urusan akreditasi ini jika kita biarkan tanpa kita kawal, akan membuat seluruh persiapan kita menjadi hancur. Sebab, atlet untuk berlaga harus memiliki ID Card agar teregistrasi di lapangan. Ofisial dan kontingen pun demikian,” ujar Syaiful SH MHum menanggapi persoalan kesibukan tambahan yang melelahkan ini.

 

Teknologi dan sistem baru. Sistem ID Card teregistrasi ini tampaknya masih baru bagi beberapa daerah. Sehingga, banyak yang harus mengulang data, melampirkan kelengkapan dan sebagainya. Bukan tidak dipungkiri juga di Akreditasi Panpel sendiri terlihat petugas belum memuaskan kinerja dan kemampuannya.

 

Inilah yang membuat Sumbar ikut terbawa rumit. Untungnya, keuletan dan gigihnya Wakil Ketua I Kontingen Sumbar Syaiful SH MHum mengawal langsung proses akreditasi ini membuat petugas ikut sigap bekerja.

 

“Kalau tidak dikawal, akan lambat urusan kita ini. Kalau lambat lagi, akan tidak bisa berlaga. Tidak ada yang salah, yang salah hanya komunikasi dan eksekusi kita dan panpel yang belum matching sempurna,” ujar Syaiful SH MHum dengan bijaksana.

 

SUMBAR JUMAT PAGI

 

Rencana awal tidak berubah. Kabar dari ranah Sumbar menyebutkan pukul 7 pagi hari Jumat, kontingen akan berangkat bersamaan. Sementara itu, ada beberapa bagian kontingen yang telah berangkat duluan ke arena. Seperti futsal dan sepakbola. Masing-masing telah tiba di Tembilahan dan Kampar.

 

Seluruh kontingen direncanakan dilepas Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dipimpin Wakil Gubernur Muslim Kasim. Bus-Bus dan mobil itu akan rehat siang di Rumah Makan Sederhana Pangkalan, Limapuluh Kota.

 

Di rumah makan yang baru milik Datuak Aco itu akan dilayani seluruh kontingen dengan menu makan siang Rumah Makan Sederhana yang khas dan enak.

 

Sampai di Pekanbaru, gandang tasa dan silek galombang menanti. Hup ta, hup ti, Muslim Kasim akan dinanti Basrizal Koto. Basko yang Ketua IKMR ini telah mempersiapkan segenap persiapan di kediamannya yang luas di jalan Diponegoro, Pekanbaru.

 

Adismar Amnur ditunjuk bersama oleh seluruh keluarga Minang di Riau untuk menjadi ketua penyambutan urang Awak di rantau Riau. Sekreris panpel penyambutan Marjoni Hendri mengatakan Riau akan menjadi rumah sendiri bagi para atlet dan kontingen Sumbar.

 

DODI SYAHPUTRA

Riau Membangun dari bawah, Sumbar dari Atas


Oleh Dodi Syahputra

 

Jika saja penafsiran kita singkat, barangkali judul di atas akan asal bunyi. Tetapi, penulis memaksudkannya bahwa pembangunan yang biayanya dibebankan ke anggaran negara, sugguh berbeda bumi dan langit antara dua provinsi jiran ini. Riau terus memburu beragam bentuk pembangunan infrastruktur dari APBD yang dipenuhi asal bagi hasil kekayaan daerahnya, sedangkan Sumbar dari DAU dan DAK nya.

 

Barangkali ini akan menjadi wajar saja tidak perlu dikedepankan, kalaulah tidak kita kaji soal kemauan dan kenyataan bahwa masyarakat Riau sekarang justru berpandangan lebih maju. Masyarakat Riau kini setiap hari selalu mengkritisi pemerintahnya menyoal pelayanan publik yang timpang. Maka itu, pelayanan publik segera menjadi acuan pembangunannya.

 

Kalau di Sumbar, jika boleh membandingkan, saya saja ditekan agar jangan banyak menuntut dan menukilkan tuntutan warga saya. Sebab, pembangunan di Sumbar rupanya, lebih porsi dari iba pusat, lewat program bantuan ini dan itu. Janggal sekali kiranya membandingkan presentase pembangunan antar dua daerah yang berdekatan, bersinggungan dan hampir sama tipe masyarakatnya ini.

 

Riau kini jangan dipandang dua tahun lalu, atau bernostalgia dua puluh tahun lalu. Jauh sangat. Karena, masyarakat Riau kini sudah begitu partisipatif terhadap setiap bentuk perubahan. Jika dulu kita sebut, warga Sumbar itu kritis, kini kritisnya warga Riau lebih kental dan padat berisi. PON yang mau dikembang saja, rumitnya minta ampun, sampai-sampai mengantar pejabat dan anggota dewan ke kursi pesakitan.

 

Anjing menyalak, kafilah tetap jalan. Pelaksnaan PON tidak terganggu oleh derap langkah aparat penegak hukum di Riau. KPK datang, PON tetap jalan. Inilah hebatnya, prosedur tetap sudah ada, tinggal dijalani saja. Meski dalam aplikasi banyak hal yang tersendat, namun dianggap bukan kendala berarti.

 

Bicara Kota Pekanbaru saja, marawa merah-kuning-hijau khas Melayu diletakkan di setiap rumah, kedai, toko, ruku, kantor, bahkan rumah sakit jiwa. Semua mawara ini, setiap hari tiga kali sehari dijagai oleh petugas khusus yang bolak-balik, mondar-mandir di Pekanbaru memperhatikan dan memperbaiki letak yang jelek. Luar biasa.

 

Setiap penyusunan anggaran dilakukan di DPRD, tentu jumlah rupiah APBD yang akan dibagi menjadi program publik terjadi ketimpangan. Bedanya, di Riau ketimpangan bahwa ada proporsi pembagian program dan program pembangunan fisik yang harus dipatuhi.

 

Sedang di Sumbar, anggaran selalu berstrategi defisit. Inilah beda yang harus kita sadari bahwa Riau membangun dari bawah, dari hasilnya sendiri, bahkan kurang. Sumbar membangun dari atas, lebih banyak program bantuan pusat yang artinya bergantung kepada bantuan hasil daerah lain, termasuk Riau.

 

Tidak baik membanding-bandingkan. Namun, kalau terus dibiarkan akan menjadi bumerang tersendiri. Coba saja, nostalgia lama bahwa Malaysia berguru ke Indonesia, kini malah jadi pameo bahwa Indonesia menjadi pemasok buruh ke negeri jiran ini. Malaysia terus belajar dan berubah, sedang kita seperti tak berubah-ubah.

 

Membandingkan Riau dengan Sumbar agak menyakitkan hati. Pertumbuhan pembangunan yang luar biasa, disentil oleh perantau, ada yang bilang saat pulang Lebaran lalu, tak banyak yang berubah. Sumbar masih hijau, belum terberdayakan.

 

Lalu siapa yang salah? Tak ada. Mungkin nasib Sumbar untuk menjadi tuan rumah PON hanya akan tersimpan di buku besar aspirasi rakyat. Sumbar akan terus menjadi peserta PON dengan memboyong kontingen ratusan orang kemana-mana di Indonesia, Sabang sampai Merauke, tanpa pernah menjadi tuan rumah multiiven nasional ini. Entah kalau tidak?

 

DODI SYAHPUTRA