DINKES PAYAKUMBUH BEKALI MENULIS BAGI INSAN KESEHATAN

— PAYAKUMBUH —

Menulis itu gampang. Gampangnya, terlihat dari antusias peserta Pelatihan Menulis Buletin Dinas Kesehatan Payakumbuh yang dilaksanakan di Aula Puskesmas Payolansek

Praktisi Media, Dodi Syahputra tengah menyajikan materi tentang Menulis Liputan dan Buletin di Dinas Kesehatan Payakumbuh, Jumat 7 Juni 2012, di Aula Puskesmas Payolansek yang diikuti oleh 26 peserta; kepala Puskesmas, serta tenaga kesehatan lainnya. Tujuan pelatihan ini agar tenaga kesehatan mampu mengisi buletin terakreditasi ISSN yang sebulan lagi akan diterbitkan. Di samping itu web portal www.dinkespayakumbuh.com juga sudah hadir.
Praktisi Media, Dodi Syahputra tengah menyajikan materi tentang Menulis Liputan dan Buletin di Dinas Kesehatan Payakumbuh, Jumat 7 Juni 2012, di Aula Puskesmas Payolansek yang diikuti oleh 26 peserta; kepala Puskesmas, serta tenaga kesehatan lainnya. Tujuan pelatihan ini agar tenaga kesehatan mampu mengisi buletin terakreditasi ISSN yang sebulan lagi akan diterbitkan. Di samping itu web portal http://www.dinkespayakumbuh.com juga sudah hadir.
, Payakumbuh, tiga hari sampai Jumat (8/6) kemarin. Materi terakhir tentang pola menulis liputan dan artikel, diisi oleh pemateri praktisi pers dan konsultan media, Dodi Syahputra.

Para peserta yang terdiri dari kepala-kepala Puskesmas, Tata Usaha, Apoteker, serta insan kesehatan lainnya di Payakumbuh dilatih untuk mempraktekkan menulis. Satu paragraf saja, para peserta diajarkan untuk menulis satu pokok bahasan dalam satu alinea. Semua sudah merangkum isi dan jalur utama 5W+1H.

“Kita praktekkan langsung. Menulis itu dimulai dari yang paling dekat dengan keseharian kita. Simpel, sederhana dan dimengerti oleh yang baru pandai membaca sampai lansia,” demikian Dodi Syahputra memberikan materinya.

Untuk praktek pertama, peserta menulis di secarik kertas tentang kejadian di ruangan itu. 5 menit waktu yang diberikan, ternyata masih ada yang kurang dari sisi isi dan kelengkapan data dasar. Persoalan utama, lupa melampirkan waktu dan tempat kejadian.

Diterangkanlah, bahwa pokok utama liputan adalah tempat dan waktu kejadian. Ini yang sering dilupakan. Penulis atau pembuat liputan harus menempatkan diri sebagai pemberi informasi, bukan orang yang berkomunikasi. Fungsi pemberi komunikasi, seolah-olah bertempat atau berposisi di luar sistem sehingga menuliskan yang ia lihat, ia dengar dan ia simak dengan lengkap.

dr Luthfi, salah seorang peserta dengan antusias menanyakan tentang sistem penulisan dan media terbaik saat ini. Dodi Syahputra menjelaskan, media ada kelebihan dan kekurangan. Antara media cetak, elektronik dan media maya. Faktor waktu, dokumentasi serta kelengkapan data menjadi daya naik dan turunnya pilihan media.

Namun, pada latihan setelah materi bahasa jurnalistik, runtut dan runut dipaparkan, para peserta telah sangat menguasai pola penulisan awal. Paragraf yang dibuat oleh seluruh peserta telah memenuhi prinsip dasar 5W+1H. Kebetulan, hasil diskusi penetapan tema berpusat ke kebijakan Kawasan Tanpa Asap Rokok.

“Semua peserta telah sangat baik. Hasil tulisan Bapak dan Ibu sudah lengkap data dan isi. Tinggal, bagaimana kita mengemas menjadi tulisan yang komplit, kaya fakta dan berargumentasi positif, jika itu ingin ditampilkan menjadi artikel,” papar Dodi Syahputra yang didampingi Dadang Esmana, wartawan Harian Haluan.

Panpel mengatakan, waktu tinggal sebulan bagi Dinkes untuk menerbitkan tabloid kesehatan. Makanya, pelatihan ini digunakan untuk memacu semangat peserta menulis dan menertbitkannya di buletin tersebut. Sementara, Dinkes Payakumbuh sendiri sudah punya websitewww.dinkespayakumbuh.com yang kini mulai diperbarui dengan tulisan dan berita serta foto.(***)

POLITEKNIK PERTANIAN PAYAKUMBUH PUN GELAR PELATIHAN JURNALISTIK

KAMPUS PUN GELAR PELATIHAN JURNALISTIK

PAYAKUMBUH —

Usai Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, Jumat lalu, Sabtu (9/6) Politeknik Pertanian Payakumbuh di Tanjung Pati juga menggelar pelatihan jurnalistik dan sistem informasi yang diikuti puluhan mahasiswanya, sampai Minggu (10/6).

Pelatihan yang dibuka oleh Pembantu Direktur III Yudistira ini diikuti dengan penuh semangat oleh para
mahasiswa. Pemateri pertama, praktisi dan konsultan media, Dodi Syahputra memaparkan tentang fotografi jurnalistik, aplikasi fotografi dan multimedia fotografi. Sesi ini sungguh bersemangat, sebab umumnya peserta pelatihan berasal dari pers kampus Sicred, pers mahasiswa Politeknik Payakumbuh.

Pelatihan ini dilengkapi dengan penyampaian modul dan tanya jawab. Di sesi tanya jawab, timbullah beragam pertanyaan dan pernyataan mahasiswa dengan kritisnya. Apakah alat berpengaruh, lalu foto bagaimana yang masuk syarat jurnalistik? Dijawab oleh narasumber bahwa alat itu nomor sekian, yang penting momen dan pentingnya nilai foto. Foto yang aktual, faktual dan hidup serta bercerita menjadi syarat utama.

Materi fotografi jurnalistik ini menjadi menarik saat disimulasikan beberapa peserta untuk mengambil momen. Dua orang peserta ditampilkan sebagai polisi dan tersangka pencurian. Si tersangka kemudian dibekuk polisi. Saat inilah muncul fotografer memfoto kejadian tersebut.

Nah, usai kejadian ini, hasil foto dikoreksi. Sudut pengambilan, focus of interest, serta kelihaian membaca peristiwa dikoreksi ulang. Kejadian ini kemudian menjadi bahan bagi peserta yang lain untuk membuatkan caption atau keterangan foto dengan kaidah 5W+1H, lengkap.

Terakhir di sesi siang, disampaikan bahwa multimedia fotografi dijalankan dengan sistem editing foto berdasarkan kegunaan dan medianya. Bahkan alat secanggih Blackberry atau handphone Android, kini telah dilengkapi software Instagram untuk hasil foto dengan pallete terbaru.

Setelah pelatihan di dalam ruangan Aula itu ditutup, para peserta dibawa diskusi ke luar. Di lapangan rumput, para peserta diajak diskusi dan mengambil foto jurnalistik. Hidup dan dekat.

Minggunya, narasumber yang Direktur Utama Harian Rakyat Sumbar Firdaus, menyampaikan materi khusus tentang jurnalistik dan etika profesi jurnalistik. Para peserta yang berasal dari Pers Mahasiswa Sicred Politeknik Pertanian Payakumbuh bertekad setelah pelatihan ini menerbitkan tabloid bagi kinerja jurnalistik mereka.(***)Gambar

PELATIHAN JURNALISTIK – Para mahasiswa Politeknik Pertanian Payakumbuh mempelajari tentang Teknik Fotografi Jurnalistik. Antusias mereka terlihat di Kampus Politeknik di Tanjung Pati, Sabtu – Minggu pekan ini.

CACING, OBAT MUJARAB DI PASIR ADAT

CACING, OBAT MUJARAB DI PASIR ADAT

Oleh: Dodi Syahputra

 

Panas dingin. Badan ini. Mulai dari ujung kuku jempol kaki sampai ubun-ubun. Meriang, dingin, tapi kata istri panas alang kepalang. Kepala saya seperti diremas dengan mesin pres kelapa yang menumbuk keras 2,5 meter. Badan letih. Tak ada daya.

Ini bukan lagi gelaja. Ini sudah kumat kedua kalinya. Di dua tahun lalu, saat masih bolak-balik Payakumbuh-Padang dengan sepeda motor. Meski derunya menyingkirkan debu dan rintik hujan, tapi yang membawa motor tidak diisi bensin. Saya yang membawa roda dua dengan motor bakar itu harus membagi fisik, pikiran dan stamina agar perjalanan 126 km itu jadi lancar.

Malam Jumat, jaket tebal anti hujan dan ransel telah tertempel di badan dan bahu. Deru mesin pun makin kencang. Ingat rumah di Payakumbuh, rasanya telah sampai saja. Meski baru satu meter dari rumah di Siteba. Ah, dinginnya malam bukan lawan hati rindu keluarga.

Soal perjalanan, tentu ada liku dan sendunya. Saat hujan di Malibo Anai dari Kayutanam, terngianglah Tiar Ramon dengan Hujan. Tak dapat seteru lagi, hujan hanya air yang jatuh menetes, semakin banyak, semakin lebat. Pandangan di kelok Silaiang sudah pupus. Tak ada anak simpang yang biasa mengatur lalu-lintas. Bersandal jepit.

Sampai di Padangpanjang, jaket tebal ini tak ada guna. Tak ada yang bisa menahan udara dingin Merapi dan Singgalang yang kalau sudah senja emas, turun ke bawah, tepat di Padangpanjang. Entah iya, entah tidak, dinginnya mengadu tulang rusuk dengan bahu. Harus kuat-kuat kupegang stang motor yang melaju. Kian kencang, melawan dingin malam.

Bukittinggi terlewat. Sampai lupa, kota wisata sebab saya belokkan motor ke Jambu Air. Air tak lagi turun. Reda entah dimana hilangnya. Payakumbuh terlihat gelap. Sudah larut. Kota berhawa sedang, panas tidak, dingin entahlah. Masih 36 km lagi menuju Suliki. Di atas Bukit Kurai. Sudah di ujung bayang, pintu rumah berwarna biru terang. Kalau malam, tetap terang sebab saya pasang lampu neon merk Inggris. Luar biasa.

Pagi hari. Pandangan ini berkunang-kunang. Jalan sempoyongan. Saya kira biasa, sebab letih atau tak kuasa menahan kantuk. Tapi ini lain, sungguh beda. Semua jaringan tubuh rasa tak bekerja. Gubrak…!

Kulit saya hitam. Namun, kini jadi kekuningan. Kalau lah tak begini keadaan tubuh, barangkali saya gembira. Mata memerah, panas. Ah letih sangat. Saya memilih tidur dari biasanya bermanja dengan Hasnul, anak lelaki saya.

Biasalah, di kampung, Kurai ini jarang sekali obat dokter diapakai. Kalau lah tak sakit benar seperti patah tulang atau batuk darah, akan diobat semampu alam. Daun-daun dan akar-akar pohon di sini banyaknya dan beragam. Ibarat istana obat alam terkembang di ladang, halaman sampai ke tepi bandar sawah dan tabek (kolam) ikan.

Tak ada vonis dokter, dukun, tabib atau bidan. Istri saya langsung ketuk palu. Saya gejala sakit kuning, keletihan atau semacamnya. Istri saya guru di sebuah SMP di atas, lebih di nagari di atas. Tempat PDRI bersejarah.

Sungguh terampil, istri saya layaknya seorang apoteker, kemudian ke kedai di samping bukit. Dibelinya, 12 buah sarang kapsul. Merah hitam. Saya tanya dengan lirih, “untuk apa?” Istri tercinta hanya menjawab pendek, “cacing!”

Ah, yang benar saja. Saya yang sakit kok cacing yang dikasih kapsul kosong. Tapi ternyata tidak. Kapsul kosong itu, rupanya diisi cacing. Cacing-cacing kecil di kecil, seruas jari, itu dikumpulkan istri saya dari bawah balai adat. Di bawahnya itu, berpasir. Kering. Cacing-cacing kecil itu mudah ditangkap sebab memang banyak.

Usai dikumpulkan, lalu dengan cekatan, masih di depan saya yang terduduk letih di ruang tamu, berhadapan dengan teh pahit panas, istri saya membuka tutup kapsul merah hitam itu satu per satu, cacing itu masing-masing kapsul 2 buah. “Ayo, dimakan dulu tiga kapsul, nanti sore tiga, malam mau tidur tiga, sisanya besok pagi,” perintah istri saya yang memang luar biasa ini.

Kalau membayangkan makan cacing, mau muntah dibuatnya. Tapi, saya tidak membayangkan itu, saya makan kapsul berisi obat biasa. Ah, tertelan lemah bersama teh pahit yang mulai dingin. Ah, rasanya pun tak ada. Tak tertinggal aroma cacing pun, yang bau tanah.

Sabtu saya sudah baikan. Nafas sudah mulai lancar, tidak sesak, tidak berat. Naluri saya kemudian bertanya banyak ke istri, obat apakah yang saya makan, tanpa saya boleh bertanya saat meminumnya. Cacing?

GEJALA TIFOID

Demam tifoid atau tifus atau gejalanya, sebab fisik lemah atau kecapekan biasanya mudah menyerang. “Apalagi kita yang bepergian jauh ini. Lemah fisik akibat perjalanan memudahkan penyakit apa saja menyerang,” istri saya serius bak dokter mendiagnosis.

Hari ini, sejak 3 tahun yang lalu berlalu, di banyak rumah obat modern dan herbal banyak dijumpai kapsul cacing. Tinggal dibeli, tinggal mengeluh tentang sakit kelelahan ini, bayar maka dapatlah kapsul cacing ini. Kabarnya, kapsul cacing ini isinya sudah ditumbuk dan plus-plus dengan racikan lain yang terdiri dari vitamin dan sejenisnya.

Dokter praktik sendiri tidak merekomendasikan obat ini. Sebab tidak tercantum izin legal apa-apa. Namun, memang cacing berprotein tinggi yang bernama latin Pheretima aspergillu atau cacing kalung ini saya makan, dan Insya Allah sembuh. Saya sehat kembali. Sampai hari ini.

Ternyata dari 1800 spesies cacing hanya ada dua cacing yang sering dijadikan obat tradisional, cacing eropa atau introduksi (Lumbricus rubellus) dan cacing kalung atau long (Pheretima aspergillum). Gejala dan penyakit tifus ini diserang dari dua arah, dibunuh bakterinya sekaligus demam diturunkan. Berkat cacing kalung.

Faktor kelelahan ternyata menjadi utama. Tentunya soal kebersihan tangan, lalat dan debu yang bisa menyebarkan bakteri tifoid yang penyebab utama penyakit tifus. Bakteri tifoid memang berasal dari tempat-tempat kotor hasil pencernaan kita. Sayang, jika fisik atau pertahanan tubuh sedang jatuh, keletihan, maka demam tifoid gampang sekali menyerang.

Kebiasaan warga Payakumbuh, khususnya di arah Mudiak ini patut menjadi perhatian. Sebab, ternyata pengobatan tradisional ini sudah menyebar sampai ke mancanegara. Bahkan, tak jarang di apotek resmi pun dijual pil cacing yang terkenal manjur mengobat tifus dan gejalanya ini. Sekali lagi, pengobatan ini tidak direkomendasikan oleh dokter manapun. Maka resep pil cacing tentu tidak perlu resep membelinya, bebas di pasaran.

Sampai hari ini hanya disakwasangka bahwa cacing kalung atau dikenal di kampung istri saya, dengan sebutan “sisuruik”, sebab jalannya yang beringsut mundur, mengandung protein berkadar sangat tinggi. Bahkan pernah, kawan saya yang juga tipus, dibawakan secerek air panas-panas kuku yag sudah dicampur sekaleng susu, gilingan cacing kalung ini. Baunya, entahlah, tapi saya pun ikut mencicipi. Setelah itu, badan saya segarnya minta ampun.

“Masih untung Uda tidak sakit parah betul. Hanya kelelahan, gejalanya saja. Kalau sudah tifus betul, susah sembuhnya. Biasanya, Bapak, sampai Atuak (kakek) juga minum cacing sisuruik ini kalau sudah letih betul dari sawah dan ladang,” ujar istri saya saat kami diskusi ringan di beranda rumah.

Rumah mertua saya yang kami miliki satu kamarnya saja itu memang sangat asri. Di halaman depan, lapang dan tepat di sebelah kanan depan balai adat itu berdiri. Entah sudah berapa usianya, tapi istri saya belum lahir 30 tahun lalu, balai adat itu sudah ada.

Lalu, di samping kanan, ada deretan tanaman limau sangkis, sedang ranum banyak buahnya. Anak-anak sekolah di dekat rumah sering mengambil satu-satu. Sambil menyetorkan Rp500 rupiah sebagai penukarnya ke mertua perempuan. Anak-anak sekolah di kampung saya yang lincah-lincah ini setiap jam istirahat sekolah selalu ribut di kebun limau sangkis, “Amak!” panggil mereka memanggil mertua saya.

Suasana ini jadi hiburan penenang jiwa di kampung yang tak ramai tetapi beragam potensi ini. Bayangkan, sejak herbal jadi pilihan utama obat-obatan saat ini, apa saja macamnya telah ditanam mertu sejak lama. Ada “ampadu tanah” yang asli. Maksud saya asli, asli pahitnya. Direndam air panas dua lembar saja utk satu gelas serasa setahun baru hilang. Pahitnya!

Di kebun belakang seribu satu macam daun obat tersedia. Segar-segar. Saya baca buku obat-obatan herbal, semua jenis daun ada, akar-akar, sampai ranting-ranting kayu beraneka rupa meski berbeda namanya dengan sebutan di Jawa sana.

Ternyata, obat-obatan atau ramuan tradisi atau pun resep kampung semacam cacing kalung berkhasiat. Ini tidak mengada, sebab saya sendiri merasakannya. Tentu tidak semua penyakit, keluhan kesehatan, ataupun opname lainnya hasil diagnosis akan mampu diatasi oleh solusi alam ini saja.

Paduan dan kombinasi saling mendukung akan menciptakan kondisi kesehatan, penanganan spesifik obat yang sesuai. Seperti di Cina, tempat belajar orang Islam sejak Nabiyullah memberi petunjuk, kini telah banyak profesor kedokteran obat tradisional. Manjur. ***

 
 

Dodi Syahputra

Penulis

Kini menekuni bisnis EO di Payakumbuh dan Pekanbaru

MELIHAT 2013, MENYAKSIKAN PEMBARUAN RIAU

MELIHAT 2013, MENYAKSIKAN PEMBARUAN RIAU

Oleh: Dodi Syahputra

DODI SYAHPUTRA
DODI SYAHPUTRA

Provinsi kaya energi, kaya sumber daya dan kaya akan masalah. Inilah Riau dengan sekelumit persoalan yang menapak berbagai ragam kerumitan pemerintahan. Sulit berjujur diri mengatakan Riau telah sangat adil dan berbuat demi masyarakatnya. Sebab, 4,6 triliun rupiah APBDnya belum sebanding dengan kesejahteraan publik yang kini setiap hari dipekikkan berbagai kalangan. Masih banyak yang miskin papa, yang berumah kayu, berlantai tanah, masuk 14 kategori keluarga miskin di Indonesia.

Bicara tentang Riau tentu tak lepas-lepasnya kita bernyanyi, bahwa banyak perusahaan multinasional, nasional dan lokal yang sejahtera luar biasa. Luar biasanya, sebab tercermin dari mengkilaunya fasilitas dan dermawannya perusahaan itu kepada seluruh pejabat dan karyawannya. Sementara, di luar lingkungan atau yang dekat bersinggungan, jauh panggang dari api. Masyarakat hanya menikmati sisa limbah, asap hasil kerja atau bahkan hanya debu kendaraan pengangkut hasil tambang dan hasil hutan Riau di depan pekarangan mereka.

Akan sangat berat bagi pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur Riau 2013-2018 mendatang, kalau ikonisasi mensejahterakan masyarakat Riau masih menjadi iming-iming yang utama. Sebab, mensejahterakan masyarakat masih dengan sikap dan pola berpemerintahan yang seringkali menafikan kepentingan masyarakat, akan kembali jauh dari niat dan promosi besar-besaran saat Pilkada datang sebentar lagi. Jangankan besok, hari ini saja sudah banyak tokoh yang mengiming-imingkan kesejahteraan masyarakat Riau jika duduk di kursi BM 1.

Semudah itukah? Tentu kaitan visi dan misi seorang bakal calon gubernur akan sangat ritmik. Banyak korelasi keinginan dan khayalan perbuatan di rangkaian kata yang akan diumbar itu terjalin erat dengan tim berpemerintahannya nanti. Sebab, di era otonomi daerah yang dimantapkan dengan posisi provinsi sebagai regulator dan penyeimbang kebijakan daerah kota dan kabupaten saat ini, jelas tidak sepenuhnya berkuku tajam.

Ada kalanya provinsi terbentur dengan opsional daerah yang telah digariskan di tingkat nasional. Ada kalanya pula provinsi sebagai penampung program dan langsung menjalankannya ke daerah. Kayanya Riau dengan segala persoalan membutuhkan pimpinan daerah, sepasang yang akur, ulet, merakyat dan berwibawa tinggi. Wibawa yang dimaksud, mampu menyatukan persepsi antara kebijakan provinsi dengan kabupaten dan kota, sehingga masyarakat Riau yang dibawahi oleh kebijakan daerah mampu disejahterakan sesuai harapan bersama.

KEMISKINAN

Minimal 14 kriteria keluarga miskin di Indonesia mampu dientaskan. Kriteria yang dinasionalkan ini memang ada sisi kelemahan. Namun, kriteria ini sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan ada yang sangat lemah tidak mencapai atau lolos dari satupun kategori ini. Ialah; Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang, jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu/ kayu murahan, jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester.

Berikutnya, tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah, hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam satu kali dalam seminggu, hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun, hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik, sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp.600.000,- per bulan, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ hanya SD, tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp.500.000,- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Boleh jadi, kriteria ini banyak yang tidak sinkron dengan kondisi masyarakat. Ada kalanya, masyarakat berumah permanen tapi susah makan. Ada pula, yang mengkredit sepeda motor, namun hasil pendapatannya sebulan kadang sangat kecil sebab motornya untuk berusaha. Maka definisi keluarga miskin jika disandarkan saja pada kriteria ini maka tentu akan sangat menipis jumlahnya. Miskin materi, miskin optimisme, miskin kegembiraan, miskin harta, miskin kekayaan atau miskin yang mana? Kita harus formulasikan bersama di Riau ini. Tak cukup hanya pemerintah saja.

Secara kebijakan telah mulai berjalan sistemasi pengayaan keluarga kian sejahtera. Seperti kita dengan di Kampar, dicanangkan program zero rumah kumuh. Program ini menampakkan bahwa komitmen kepala daerahnya disesuaikan dengan kebutuhan awal pensejahteraan masyarakat. Tidak ada lagi rumah kumuh, artinya kesejahteraan di segala bidang harus ikut meningkat. Persoalannya, apakah seluruh kepala satuan pemerintahan sepakat dengan program kerja nyata mendukung hal ini?

Walau bagaimanapun inilah terobosan. Belum daerah lain dengan segudang inisiasi dan ide cemerlang pembangunan ekonomi kerakyatannya. Ya, sebuah kultus ekonomi yang mengedepankan masyarakat. Jika jeli, tentu banyak sekali peluang program bisa ditelurkan. Tak heran, kini makin keras tempaan pemerintah agar menumbuhkembangkan ekonomi kerakyatan. Berbagai sektor ekonomi kerakyatan mulai dari kerajinan, usaha mandiri, sampai ke perdagangan mikro harusnya sudah mulai sejak lama menjadi fokus pemerintah provinsi.

Sayang, kalau ekonomi kerakyatan ini kembali menjadi tugas pemerintahan baru nantinya. Kembali menjadi visi dan misi para bakal calon kepala daerah di Riau mendatang. Pastinya, ekonomi kerakyatan menjadi komoditi primer setelah mensejahterakan masyarakat. Sayang, masih di angan, belum juga menjadi fokus keberhasilan. Harusnya memang jika mengkritisi, sudah zamannya pemerintah mau berendah hati, beringan tangan, bekerja demi kesejahteraan masyarakat. Sejak dulunya, pemerintah adalah pelayan masyarakat, bukan penghisap darah rakyat.

Sila kelima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan pasal 33 UUD 1945, seluruh kekayaan bumi, air, dan udara dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat, akankah hanya jadi ikon tumbal pencitraan pemerintah saja. Jika memang tidak, tidak pernah ada kata terlambat, saat ini pun bisa dilesakan lagi menjadi kebijakan serius. Melihat Riau kini, memang sudah jauh maju. Jauh meninggalkan citra provinsi tertinggal, hanya terkuras sumber daya alamnya saja. Sudah banyak anak Riau yang kini cerdas dan menjadi pemuncak di nasional dan internasional. Namun, sekali lagi, ini persoalan kebijakan dan realisasi ke hadapan publik. Benarkah sudah pro rakyat?

Tak ayal, yang dibutuhkan Riau kini, calon pemimpin yang berasal dari masyarakat bawah, bersemangat kerakyatan dan paham benar apa keinginan rakyatnya. Tak ulah tim sukses lagi yang mengumpulkan data-data linier kemudian menjadikannya visi dan misi semata. Tak ada lagi itu. Jangan lagi ada yang seperti itu. Sebab, Riau kini butuh semangat, kekuatan sikap dan penampilan nyata di pembangunan kemiskinan masyarakat menjadi kekayaan semua, Riau. Siapa bilang Riau kaya? Kaya bagi sebagian yang bisa cerdas memanfaatkan. Miskin bagi masyarakat yang tak tersentuh kebijakan pencerdasan sehingga mereka bisa sejahtera.

Soal peta-memeta kemiskinan tentu pemerintah lebih paham. Titik-titik mana yang harus diselesaikan, mereka mengerti sangat. Sayang, untuk menyelesaikan simpul kemiskinan ini perlu keikutsertaan seluruh elemen publik, tak hanya pemerintah. Nah, pemerintah sediakan saja kebijakan dan anggaran, siapkan pertanggungjawabannya, kemudian ajak serta elemen publik, kampus, pemuda, kaum adat, simpul ekonomi, perusahaan-perusahaan dengan CSR yang mengena, maka akan terhimpun kekuatan besar ekonomi pro rakyat itu. Namun, kalau seperti selama ini, masih jalan sendiri-sendiri, ya tunggu saja, alamat makin tumbuh kemiskinan di sela kekayaan yang di Riau ini. Entah kalau iya? ***

*Dodi Syahputra, Panam Pekanbaru, Riau, Mei 2012

PAYAKUMBUH SEGERA RUBAH FUNGSI KUBU GADANG

JOSRIZAL: BANGUN STADION SEPAKBOLA BERTARAF NASIONAL


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum usai membuka Musorkot KONI Payakumbuh, Sabtu, 21 April 2012.


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama (ki-ka): Wakil Ketua DPRD Payakumbuh H Sudirman Rusma SIP, Drs Maidison, Syaiful SH MHum, Jorizal Zain, Dodi Syahputra, Drs Rida Ananda, Drs Indra.


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama Dodi Syahputra.

 

Lapangan Pacu Kudo Kubu Gadang Payakumbuh, segera berubah fungsi jadi Stadion sepakbola bertaraf nasional. Lalu, gelanggang pacuan kuda akan dipindahkan ke kawasan Payakumbuh Selatan. Planningnya sudah disiapkan oleh Pemko Payakumbuh.

Namun, di Musorkot KONI Payakumbuh, Sabtu pekan lalu itu, Walikota Payakumbuh meminta kepada Ketua KONI Payakumbuh Yunir Yalri serta pengurus yang akan terbentuk nantinya untuk membicarakan ini lebih intens dengan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Payakumbuh.

“Saya pikir tanpa adanya stadion sepakbola yang representif lagi, tentu anak-anak muda Payakumbuh susah untuk menghidupkan sepakbola sebagai olahraga prestasi. Kita paham, sejak lama, dulu Gasliko lalu berkembang di Payakumbuh Persepak adalah ranah pembibitan atlet sepakbola andal,” ungkap Josrizal yang segera meninggalkan jabatan Walikota beberapa bulan mendatang ini.

Tak dapat dipungkiri, lulusan Persepak Nil Maizar, kini telah menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia. Betapa, putra Nunang, Payakumbuh ini berhasil dan mampu menaikkan harkat Sumatera Barat di pentas Indonesia. Pelatih yang bermoto,”Memanusiakan Pemain Sepakbola” ini begitu dihargai tinggi. Lulusan Persepak Payakumbuh.

“Saya, akui, saya berasal dari gemblengan Persepak Payakumbuh. Meski saya lahir di Tanahdatar, saya tumbuh dan besar di Payakumbuh. Payakumbuh telah menjadi kampung dan kebanggaan saya. Jika ada rezeki, saya berniat membangun rumah dan tanah untuk hari tua saya kembali di Payakumbuh,” ujar Nil Maizar usai Shalat Maghrib awal tahun lalu di Wisma Semen Padang, di Indarung.

Nil Maizar juga sangat menyayangkan, Lapangan Poliko kini diubah fungsi. Namun, menurutnya, kepentingan pemerintah dengan keinginan masyarakat kadang harus berseberangan. Solusinya, memang harus dipercepat pembangunan stadion baru di Payakumbuh.

Josrizal Zain sendiri sangat bersemangat saat menyampaikan bahwa olahraga kini telah menjadi trend dunia. Jangan lagi, Payakumbuh hanya nonton bareng di televisi. Sudah harus, stadion representatif didatangi penonton dari luar Payakumbuh, menjadi income daerah dan berguna bagi PAD.

Di hadapan Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum, pengurus KONI Sumbar lainnya, Ketua DPRD Payakumbuh, Ketua dan pengurus cabang-cabang olahraga di Payakumbuh, serta pengurus KONI Payakumbuh, Josrizal kian bersemangat.

“Ya, begitulah. Di Eropa sana, sepakbola telah menjadi lahan hidup dan kayanya berbagai bentuk usaha. Stadion, kaos, bola, sekolah sepakbola, penyewaan lapangan, serta kepelatihan dan berbagai bentuk usaha sepakbola lainnya. Payakumbuh harus bisa!” Josrizal Zain bersemangat.(dod)

SENAM MASIH MENUNGGU DINAS PU

PORPROV DIPACU, SEKRETARIAT HADIR

 
 

— DODI SYAHPUTRA —

 


 
 

Limapuluh Kota terus bersiap. Alek Porprov XII kian dekat. Tak heran, kini, persiapan demi kesiapan dilakukan. Tak hanya panitia inti, para pengurus cabang olahraga pun dilibatkan untuk kematangan.

 

Ketua Umum Panpel, Asyirwan Yunus memimpin kembali rapat di ruang sidang Bupati Limapuluh Kota, Rabu (18/4) pagi kemarin. Asyirwan Yunus, menyebut selaku tuan rumah, harus berbenar-benar.

 

Lima cabang olahraga; panahan, menembak, senam, sepak takraw dan dayung menjadi pembicaraan intens. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama peserta rapat persiapan Porprov yang juga dihadiri Wakil Ketua I Don Ardonis, Wakil Ketua II drH Armen, Wakil Ketua III Emrizal Hanas dan Wakil Ketua IV N Ben Yuza, diperoleh kata sepakat.

 

Untuk cabang panahan dilaksanakan di lapangan Kompi C Tanjung Pati, Menembak di Lapangan Tembak Komplek PU Koto Panjang, Dayung di Batang Sinamar Taram, Sepak Takraw di lapangan SMA 1 Payakumbuh.

 

Sementara, masih terkendala pembicaraan tentang cabang senam. Menurut informasi, sebab pengurus cabang ini tidak hadir dalam rapat mesti telah diundang, Gedung Serba Guna di Kompleks Kantor Bupati di Payakumbuh memiliki kelayakan luas dan fasilitas dasar.

 

“Hanya saja, Pak Wabup. Sampai hari ini, meski telah disurati oleh KONI Limapuluh Kota, pihak PU belum memeriksa kelayakan sejak setahun lalu. Tentu, tanpa analisa kelayakan dan rehab gedung, tidak bisa kita tetapkan. Sementara, opsi kita di Gedung M Yamin Payakumbuh, sistem sewa,” ujar Sekretaris Umum Panpel Zulhikmi Dt Rajo Suaro.

 

SEKRETARIAT

 

Menunda, sebentar pembicaraan tentang senam, segera setelah Asisten I Don Ardonis menyurati PU, Sekretariat pun diambil putusan. Semula, memang Ketua KONI mengusulkan AlKautsar dengan sistem sewa atau sistem nego. Namun, peserta rapat lainnya berkeyakinan bahwa lokasi Sekretariat harus bebas gangguan, mandiri dan betul-betul memfasilitasi kepanitiaan secara keseluruhan.

 

Memang, awalnya juga diusulkan oleh Zulhikmi, bekas kantor Samsat di Singa Harau. Mengingat lokasinya yang jauh dari akses jalan utama, maka dibatalkan. Akhirnya, simpulan Asyirwan Yunus didukung peserta rapat lainnya, serta kesigapan Don Ardonis, disepakati untuk memindahkan seluruh elemen DPKA ke Kantor Bupati Lama dan Satpol PP ke Kantor Bupati Baru.

 

“Kantor Satpol PP yang di Tanjung Pati kini, segera sampai Sabtu depan, telah menjadi Sekretariat Panpel Porprov Sumbar XII. Kita tidak mau menunggu-nunggu lagi. Ini adalah ajang pembuktian keseriusan Limapuluh Kota,” ujar Asyrwan Yunus.

 

EVENT PROVINSI

 

Secara hakikat dan tubuhnya, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), jelas event olahraga prestasi miliknya provinsi. Limapuluh Kota, tetap selaku tuan rumah dan panitia pelaksana kegiatan. Sampai hari ini pun, tim pengarah tetap adalah KONI Sumbar.

 

Ditanyakan ke Panpel, sampai hari ini belum ada konfirmasi lanjutan dari KONI Sumbar tentang SC yang akan menjadi sandaran setiap matriks kegiatan yang dilakukan oleh Panpel yang memang baru sekali ini sejak 171 tahun umur kabupaten. Limapuluh Kota, punya keterbatasan sumber daya pengetahuan tentang step program yang sesuai dan terkini. Ini harus diakui.

 

Beberapa solusi, dalam rapat panpel diungkapkan oleh pemerhati olahraga, Dodi Syahputra. Menurutnya, yang Ketua Umum Pengprov Triathlon Indonesia Sumbar ini, Limapuluh Kota harus segera mengundang segenap event organizer untuk menawarkan pointer event yang bisa digarap oleh EO.


“Event Organizer, bukan saja penyewaan tenda atau sewa sounsystem. EO itu luas cakupan kerjanya. Misalnya, panpel punya pointer event untuk cabang olahraga pencak silat. Pendanaan ada 10, butuhnya 22. Maka, EO ditawarkan untuk mengelola mencari sponsorship dan donasi serta melaksanakan pointer ini. Panpel memberikan ruang untuk komitmen branding sponsor bagi EO,” ujar Dodi Syahputra memberikan ide.

 

Lalu, tentang pemuda Limapuluh Kota, sebagaimana disampaikan oleh Waka Medprom KONI Sumbar, Agusmardi, seyogyanya Limapuluh Kota, membentuk kelompok-kelompok kerja (Pokja) Porprov. Sehingga, keterlibatan pemuda menjadi sektor andal selaku tenaga pendukung di sukses Porprov nantinya.

 

Apapun itu, panpel ternyata telah siap dengan pemondokan dan akomodasi. Seluruh daftar pemondokan, sekolah-sekolah dan fasilitas pendukung lainnya telah tertata. Tinggal lagi, penyempurnaan fasilitas MCK. Pendanaan untuk ini pun sudah tersedia di Dinas Pendidikan. Syukurlah.(***)