MELIHAT 2013, MENYAKSIKAN PEMBARUAN RIAU

MELIHAT 2013, MENYAKSIKAN PEMBARUAN RIAU

Oleh: Dodi Syahputra

DODI SYAHPUTRA
DODI SYAHPUTRA

Provinsi kaya energi, kaya sumber daya dan kaya akan masalah. Inilah Riau dengan sekelumit persoalan yang menapak berbagai ragam kerumitan pemerintahan. Sulit berjujur diri mengatakan Riau telah sangat adil dan berbuat demi masyarakatnya. Sebab, 4,6 triliun rupiah APBDnya belum sebanding dengan kesejahteraan publik yang kini setiap hari dipekikkan berbagai kalangan. Masih banyak yang miskin papa, yang berumah kayu, berlantai tanah, masuk 14 kategori keluarga miskin di Indonesia.

Bicara tentang Riau tentu tak lepas-lepasnya kita bernyanyi, bahwa banyak perusahaan multinasional, nasional dan lokal yang sejahtera luar biasa. Luar biasanya, sebab tercermin dari mengkilaunya fasilitas dan dermawannya perusahaan itu kepada seluruh pejabat dan karyawannya. Sementara, di luar lingkungan atau yang dekat bersinggungan, jauh panggang dari api. Masyarakat hanya menikmati sisa limbah, asap hasil kerja atau bahkan hanya debu kendaraan pengangkut hasil tambang dan hasil hutan Riau di depan pekarangan mereka.

Akan sangat berat bagi pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur Riau 2013-2018 mendatang, kalau ikonisasi mensejahterakan masyarakat Riau masih menjadi iming-iming yang utama. Sebab, mensejahterakan masyarakat masih dengan sikap dan pola berpemerintahan yang seringkali menafikan kepentingan masyarakat, akan kembali jauh dari niat dan promosi besar-besaran saat Pilkada datang sebentar lagi. Jangankan besok, hari ini saja sudah banyak tokoh yang mengiming-imingkan kesejahteraan masyarakat Riau jika duduk di kursi BM 1.

Semudah itukah? Tentu kaitan visi dan misi seorang bakal calon gubernur akan sangat ritmik. Banyak korelasi keinginan dan khayalan perbuatan di rangkaian kata yang akan diumbar itu terjalin erat dengan tim berpemerintahannya nanti. Sebab, di era otonomi daerah yang dimantapkan dengan posisi provinsi sebagai regulator dan penyeimbang kebijakan daerah kota dan kabupaten saat ini, jelas tidak sepenuhnya berkuku tajam.

Ada kalanya provinsi terbentur dengan opsional daerah yang telah digariskan di tingkat nasional. Ada kalanya pula provinsi sebagai penampung program dan langsung menjalankannya ke daerah. Kayanya Riau dengan segala persoalan membutuhkan pimpinan daerah, sepasang yang akur, ulet, merakyat dan berwibawa tinggi. Wibawa yang dimaksud, mampu menyatukan persepsi antara kebijakan provinsi dengan kabupaten dan kota, sehingga masyarakat Riau yang dibawahi oleh kebijakan daerah mampu disejahterakan sesuai harapan bersama.

KEMISKINAN

Minimal 14 kriteria keluarga miskin di Indonesia mampu dientaskan. Kriteria yang dinasionalkan ini memang ada sisi kelemahan. Namun, kriteria ini sangat dekat dengan keseharian kita, bahkan ada yang sangat lemah tidak mencapai atau lolos dari satupun kategori ini. Ialah; Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang, jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu/ kayu murahan, jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester.

Berikutnya, tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah, hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam satu kali dalam seminggu, hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun, hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik, sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp.600.000,- per bulan, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ hanya SD, tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp.500.000,- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Boleh jadi, kriteria ini banyak yang tidak sinkron dengan kondisi masyarakat. Ada kalanya, masyarakat berumah permanen tapi susah makan. Ada pula, yang mengkredit sepeda motor, namun hasil pendapatannya sebulan kadang sangat kecil sebab motornya untuk berusaha. Maka definisi keluarga miskin jika disandarkan saja pada kriteria ini maka tentu akan sangat menipis jumlahnya. Miskin materi, miskin optimisme, miskin kegembiraan, miskin harta, miskin kekayaan atau miskin yang mana? Kita harus formulasikan bersama di Riau ini. Tak cukup hanya pemerintah saja.

Secara kebijakan telah mulai berjalan sistemasi pengayaan keluarga kian sejahtera. Seperti kita dengan di Kampar, dicanangkan program zero rumah kumuh. Program ini menampakkan bahwa komitmen kepala daerahnya disesuaikan dengan kebutuhan awal pensejahteraan masyarakat. Tidak ada lagi rumah kumuh, artinya kesejahteraan di segala bidang harus ikut meningkat. Persoalannya, apakah seluruh kepala satuan pemerintahan sepakat dengan program kerja nyata mendukung hal ini?

Walau bagaimanapun inilah terobosan. Belum daerah lain dengan segudang inisiasi dan ide cemerlang pembangunan ekonomi kerakyatannya. Ya, sebuah kultus ekonomi yang mengedepankan masyarakat. Jika jeli, tentu banyak sekali peluang program bisa ditelurkan. Tak heran, kini makin keras tempaan pemerintah agar menumbuhkembangkan ekonomi kerakyatan. Berbagai sektor ekonomi kerakyatan mulai dari kerajinan, usaha mandiri, sampai ke perdagangan mikro harusnya sudah mulai sejak lama menjadi fokus pemerintah provinsi.

Sayang, kalau ekonomi kerakyatan ini kembali menjadi tugas pemerintahan baru nantinya. Kembali menjadi visi dan misi para bakal calon kepala daerah di Riau mendatang. Pastinya, ekonomi kerakyatan menjadi komoditi primer setelah mensejahterakan masyarakat. Sayang, masih di angan, belum juga menjadi fokus keberhasilan. Harusnya memang jika mengkritisi, sudah zamannya pemerintah mau berendah hati, beringan tangan, bekerja demi kesejahteraan masyarakat. Sejak dulunya, pemerintah adalah pelayan masyarakat, bukan penghisap darah rakyat.

Sila kelima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan pasal 33 UUD 1945, seluruh kekayaan bumi, air, dan udara dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat, akankah hanya jadi ikon tumbal pencitraan pemerintah saja. Jika memang tidak, tidak pernah ada kata terlambat, saat ini pun bisa dilesakan lagi menjadi kebijakan serius. Melihat Riau kini, memang sudah jauh maju. Jauh meninggalkan citra provinsi tertinggal, hanya terkuras sumber daya alamnya saja. Sudah banyak anak Riau yang kini cerdas dan menjadi pemuncak di nasional dan internasional. Namun, sekali lagi, ini persoalan kebijakan dan realisasi ke hadapan publik. Benarkah sudah pro rakyat?

Tak ayal, yang dibutuhkan Riau kini, calon pemimpin yang berasal dari masyarakat bawah, bersemangat kerakyatan dan paham benar apa keinginan rakyatnya. Tak ulah tim sukses lagi yang mengumpulkan data-data linier kemudian menjadikannya visi dan misi semata. Tak ada lagi itu. Jangan lagi ada yang seperti itu. Sebab, Riau kini butuh semangat, kekuatan sikap dan penampilan nyata di pembangunan kemiskinan masyarakat menjadi kekayaan semua, Riau. Siapa bilang Riau kaya? Kaya bagi sebagian yang bisa cerdas memanfaatkan. Miskin bagi masyarakat yang tak tersentuh kebijakan pencerdasan sehingga mereka bisa sejahtera.

Soal peta-memeta kemiskinan tentu pemerintah lebih paham. Titik-titik mana yang harus diselesaikan, mereka mengerti sangat. Sayang, untuk menyelesaikan simpul kemiskinan ini perlu keikutsertaan seluruh elemen publik, tak hanya pemerintah. Nah, pemerintah sediakan saja kebijakan dan anggaran, siapkan pertanggungjawabannya, kemudian ajak serta elemen publik, kampus, pemuda, kaum adat, simpul ekonomi, perusahaan-perusahaan dengan CSR yang mengena, maka akan terhimpun kekuatan besar ekonomi pro rakyat itu. Namun, kalau seperti selama ini, masih jalan sendiri-sendiri, ya tunggu saja, alamat makin tumbuh kemiskinan di sela kekayaan yang di Riau ini. Entah kalau iya? ***

*Dodi Syahputra, Panam Pekanbaru, Riau, Mei 2012

PAYAKUMBUH SEGERA RUBAH FUNGSI KUBU GADANG

JOSRIZAL: BANGUN STADION SEPAKBOLA BERTARAF NASIONAL


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum usai membuka Musorkot KONI Payakumbuh, Sabtu, 21 April 2012.


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama (ki-ka): Wakil Ketua DPRD Payakumbuh H Sudirman Rusma SIP, Drs Maidison, Syaiful SH MHum, Jorizal Zain, Dodi Syahputra, Drs Rida Ananda, Drs Indra.


Walikota Payakumbuh Capt. H. Josrizal Zain SE MM bersama Dodi Syahputra.

 

Lapangan Pacu Kudo Kubu Gadang Payakumbuh, segera berubah fungsi jadi Stadion sepakbola bertaraf nasional. Lalu, gelanggang pacuan kuda akan dipindahkan ke kawasan Payakumbuh Selatan. Planningnya sudah disiapkan oleh Pemko Payakumbuh.

Namun, di Musorkot KONI Payakumbuh, Sabtu pekan lalu itu, Walikota Payakumbuh meminta kepada Ketua KONI Payakumbuh Yunir Yalri serta pengurus yang akan terbentuk nantinya untuk membicarakan ini lebih intens dengan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Payakumbuh.

“Saya pikir tanpa adanya stadion sepakbola yang representif lagi, tentu anak-anak muda Payakumbuh susah untuk menghidupkan sepakbola sebagai olahraga prestasi. Kita paham, sejak lama, dulu Gasliko lalu berkembang di Payakumbuh Persepak adalah ranah pembibitan atlet sepakbola andal,” ungkap Josrizal yang segera meninggalkan jabatan Walikota beberapa bulan mendatang ini.

Tak dapat dipungkiri, lulusan Persepak Nil Maizar, kini telah menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia. Betapa, putra Nunang, Payakumbuh ini berhasil dan mampu menaikkan harkat Sumatera Barat di pentas Indonesia. Pelatih yang bermoto,”Memanusiakan Pemain Sepakbola” ini begitu dihargai tinggi. Lulusan Persepak Payakumbuh.

“Saya, akui, saya berasal dari gemblengan Persepak Payakumbuh. Meski saya lahir di Tanahdatar, saya tumbuh dan besar di Payakumbuh. Payakumbuh telah menjadi kampung dan kebanggaan saya. Jika ada rezeki, saya berniat membangun rumah dan tanah untuk hari tua saya kembali di Payakumbuh,” ujar Nil Maizar usai Shalat Maghrib awal tahun lalu di Wisma Semen Padang, di Indarung.

Nil Maizar juga sangat menyayangkan, Lapangan Poliko kini diubah fungsi. Namun, menurutnya, kepentingan pemerintah dengan keinginan masyarakat kadang harus berseberangan. Solusinya, memang harus dipercepat pembangunan stadion baru di Payakumbuh.

Josrizal Zain sendiri sangat bersemangat saat menyampaikan bahwa olahraga kini telah menjadi trend dunia. Jangan lagi, Payakumbuh hanya nonton bareng di televisi. Sudah harus, stadion representatif didatangi penonton dari luar Payakumbuh, menjadi income daerah dan berguna bagi PAD.

Di hadapan Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum, pengurus KONI Sumbar lainnya, Ketua DPRD Payakumbuh, Ketua dan pengurus cabang-cabang olahraga di Payakumbuh, serta pengurus KONI Payakumbuh, Josrizal kian bersemangat.

“Ya, begitulah. Di Eropa sana, sepakbola telah menjadi lahan hidup dan kayanya berbagai bentuk usaha. Stadion, kaos, bola, sekolah sepakbola, penyewaan lapangan, serta kepelatihan dan berbagai bentuk usaha sepakbola lainnya. Payakumbuh harus bisa!” Josrizal Zain bersemangat.(dod)

SENAM MASIH MENUNGGU DINAS PU

PORPROV DIPACU, SEKRETARIAT HADIR

 
 

— DODI SYAHPUTRA —

 


 
 

Limapuluh Kota terus bersiap. Alek Porprov XII kian dekat. Tak heran, kini, persiapan demi kesiapan dilakukan. Tak hanya panitia inti, para pengurus cabang olahraga pun dilibatkan untuk kematangan.

 

Ketua Umum Panpel, Asyirwan Yunus memimpin kembali rapat di ruang sidang Bupati Limapuluh Kota, Rabu (18/4) pagi kemarin. Asyirwan Yunus, menyebut selaku tuan rumah, harus berbenar-benar.

 

Lima cabang olahraga; panahan, menembak, senam, sepak takraw dan dayung menjadi pembicaraan intens. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama peserta rapat persiapan Porprov yang juga dihadiri Wakil Ketua I Don Ardonis, Wakil Ketua II drH Armen, Wakil Ketua III Emrizal Hanas dan Wakil Ketua IV N Ben Yuza, diperoleh kata sepakat.

 

Untuk cabang panahan dilaksanakan di lapangan Kompi C Tanjung Pati, Menembak di Lapangan Tembak Komplek PU Koto Panjang, Dayung di Batang Sinamar Taram, Sepak Takraw di lapangan SMA 1 Payakumbuh.

 

Sementara, masih terkendala pembicaraan tentang cabang senam. Menurut informasi, sebab pengurus cabang ini tidak hadir dalam rapat mesti telah diundang, Gedung Serba Guna di Kompleks Kantor Bupati di Payakumbuh memiliki kelayakan luas dan fasilitas dasar.

 

“Hanya saja, Pak Wabup. Sampai hari ini, meski telah disurati oleh KONI Limapuluh Kota, pihak PU belum memeriksa kelayakan sejak setahun lalu. Tentu, tanpa analisa kelayakan dan rehab gedung, tidak bisa kita tetapkan. Sementara, opsi kita di Gedung M Yamin Payakumbuh, sistem sewa,” ujar Sekretaris Umum Panpel Zulhikmi Dt Rajo Suaro.

 

SEKRETARIAT

 

Menunda, sebentar pembicaraan tentang senam, segera setelah Asisten I Don Ardonis menyurati PU, Sekretariat pun diambil putusan. Semula, memang Ketua KONI mengusulkan AlKautsar dengan sistem sewa atau sistem nego. Namun, peserta rapat lainnya berkeyakinan bahwa lokasi Sekretariat harus bebas gangguan, mandiri dan betul-betul memfasilitasi kepanitiaan secara keseluruhan.

 

Memang, awalnya juga diusulkan oleh Zulhikmi, bekas kantor Samsat di Singa Harau. Mengingat lokasinya yang jauh dari akses jalan utama, maka dibatalkan. Akhirnya, simpulan Asyirwan Yunus didukung peserta rapat lainnya, serta kesigapan Don Ardonis, disepakati untuk memindahkan seluruh elemen DPKA ke Kantor Bupati Lama dan Satpol PP ke Kantor Bupati Baru.

 

“Kantor Satpol PP yang di Tanjung Pati kini, segera sampai Sabtu depan, telah menjadi Sekretariat Panpel Porprov Sumbar XII. Kita tidak mau menunggu-nunggu lagi. Ini adalah ajang pembuktian keseriusan Limapuluh Kota,” ujar Asyrwan Yunus.

 

EVENT PROVINSI

 

Secara hakikat dan tubuhnya, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), jelas event olahraga prestasi miliknya provinsi. Limapuluh Kota, tetap selaku tuan rumah dan panitia pelaksana kegiatan. Sampai hari ini pun, tim pengarah tetap adalah KONI Sumbar.

 

Ditanyakan ke Panpel, sampai hari ini belum ada konfirmasi lanjutan dari KONI Sumbar tentang SC yang akan menjadi sandaran setiap matriks kegiatan yang dilakukan oleh Panpel yang memang baru sekali ini sejak 171 tahun umur kabupaten. Limapuluh Kota, punya keterbatasan sumber daya pengetahuan tentang step program yang sesuai dan terkini. Ini harus diakui.

 

Beberapa solusi, dalam rapat panpel diungkapkan oleh pemerhati olahraga, Dodi Syahputra. Menurutnya, yang Ketua Umum Pengprov Triathlon Indonesia Sumbar ini, Limapuluh Kota harus segera mengundang segenap event organizer untuk menawarkan pointer event yang bisa digarap oleh EO.


“Event Organizer, bukan saja penyewaan tenda atau sewa sounsystem. EO itu luas cakupan kerjanya. Misalnya, panpel punya pointer event untuk cabang olahraga pencak silat. Pendanaan ada 10, butuhnya 22. Maka, EO ditawarkan untuk mengelola mencari sponsorship dan donasi serta melaksanakan pointer ini. Panpel memberikan ruang untuk komitmen branding sponsor bagi EO,” ujar Dodi Syahputra memberikan ide.

 

Lalu, tentang pemuda Limapuluh Kota, sebagaimana disampaikan oleh Waka Medprom KONI Sumbar, Agusmardi, seyogyanya Limapuluh Kota, membentuk kelompok-kelompok kerja (Pokja) Porprov. Sehingga, keterlibatan pemuda menjadi sektor andal selaku tenaga pendukung di sukses Porprov nantinya.

 

Apapun itu, panpel ternyata telah siap dengan pemondokan dan akomodasi. Seluruh daftar pemondokan, sekolah-sekolah dan fasilitas pendukung lainnya telah tertata. Tinggal lagi, penyempurnaan fasilitas MCK. Pendanaan untuk ini pun sudah tersedia di Dinas Pendidikan. Syukurlah.(***)

YUNIR YALRI KEMBALI PIMPIN KONI PAYAKUMBUH

JOS: BISNIS OLAHRAGA MENDUNIA

PAYAKUMBUH, HALUAN


Drs, Maidison menyampaikan presentasi olahraga prestasi Indonesia.


Wako Payakumbuh bersama pengurus KONI Sumbar dan KONI Payakumbuh.


Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum menyampaikan sambutan.


Walikota Payakumbuh H Josrizal Zain SE MM dan Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum.

Suara sebanyak 18 usulan menjadi pengesahan terpilihnya kembali Drs Yunir Yalri menjadi Ketua Umum KONI Kota Payakumbuh periode 2012-2016. Jumlah suara sebanyak 24 usulan nama itu, hanya berlebih 3 untuk Syaiful Rahman (FPTI) dan 2 Mediar Indra (PSSI), satu suara abstain.

Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Payakumbuh berlangsung dengan semangat keolahragaan di Aula Lantai III Balaikota Payakumbuh, Sabtu (21/4) lalu. Meski sempat alot di pembahasan beberapa pasal tata tertib pemilihan, namun akhirnya diperoleh kesepakatan bersama.

Seluruh peserta Musorkot yang di pembukaan berjuumlah 111 peserta itu, berduyun-duyun penuh suasana kekeluargaan mengucap selamat ke Yunir Yalri. Salah satu pasal tata pemilihan yang menyatakan bahwa tidak diberikan hak dipilih bagi pejabat struktural dan pejabat fungsional mengunci kesempatan beberapa nama yang mengapung.

Namun, pilihan sidang Musorkot KONI Payakumbuh oleh banyak pihak dirasa tepat. Sontak Walikota Josrizal Zain dan Wakil Walikota Syamsul Bahri mengucapkan selamat kepada Yunir Yalri. Tokoh yang tekun dan bertekad kuat untuk olahraga prestasi di Payakumbuh ini, kini mengemban amanah yang cukup berat mensukseskan Payakumbuh di Porprov XII.

“Insya Allah bisa. Tentu, kembali harus didukung komitmen yang sama kuat dari tim pengurus yang akan kita rampungkan segera,” aku Yunir Yalri usai menerima ucapan selamat bergiliran dari seluruh peserta Musorkot.

Ketua Umum KONI Sumbar yang diwakili Wakil Ketua I, Syaiful SH MHum mengatakan salut untuk KONI Payakumbuh. April 2008 dilantik, tepat pula April 2012 melakukan Musyawarah. Syaiful berkata hal ini perlu menjadi catatan baik bagi pengurus olahraga lainnya.

Di hadapan Walikota Payakumbuh, Capt H Josrizal Zain SE MM, Syaiful dengan baik menyampaikan bahwa jelang PON di Riau dan Porprov di Limapuluh Kota, saat ini Sumbar sedang bersemangat tinggi.

“Untuk itu, KONI Kota Payakumbuh ke depan, harus meningkatkan spirit olahraga lebih tinggi. Jika nanti di Desember 2012, tentu akan digunakan venues-venues cabang tertentu. Ini akan menghidupkan dan meramaikan ekonomi Kota Payakumbuh yang tak akan bisa dipisahkan dengan histori Limapuluh Kota,” ujar Syaiful yang dekat dengan seluruh kalangan di Payakumbuh ini.

Syaiful SH MHum sejak lama telah menamcapkan sejarah kinerja yang baik di Payakumbuh. Maka tak heran, banyak insan olahraga langsung menyambutnya sejak menginjakkan kaki kembali selaku petinggi KONI Sumbar.

Ketua Umum KONI Payakumbuh 2008-2012, Yunir Yalri mengatakan pengurus yang didemisionerkan saat ini telah bekerja dengan optimal. Meski ada beberapa bidang yang tidak aktif, namun secara partisipatif ditutupi dan disukseskan oleh pengurus lainnya.

Hasilnya, di Porprov XI lalu, Payakumbuh berhasil meraih 15 emas di ajang Sumbar ini. Tentunya, hasil ini seimbang dengan usaha dan upaya keras seluruh pengurus KONI Payakumbuh.

KONI MITRA

Wako Payakumbuh Josrizal Zain mengakui bahwa KONI adalah mitra pemerintah. Makanya, olahraga prestasi menjadi pilot organize yang menyemangati kehidupan masyarakat.

“Sesuailah antara visi Payakumbuh, yang meningkatkan SDM masyarakatnya dengan olahraga yang membina mental serta kesehatan. Olahraga dengan SDM yang sportif menjadikan multi warna,” ujar Josrizal Zain yang mantan Ketua Umum Perkemi (Kempo) Sumbar ini.

Olahraga kini menurut Josrizal Zain yang punya pengalaman tinggi, berkunjung ke hampir semua negara di dunia, mengatakan industri olahraga tengah meledak. Meski, di dalam negeri baru memulai, namun cerminan di Eropa betapa olahraga menjadi sumber pendapatan yang tinggi kini sangat menggiurkan bagi unit-unit usaha.

Josrizal pun menyatakan salutnya untuk KONI Sumbar yang dipimpin Syahrial Bakhtiar saat ini. KONI Sumbar, selain diwakili oleh Syaiful SH MHum, juga Drs Maidison dan Dodi Syahputra. Sesuai dengan tatib pemilihan ketiganya juga memberikan suara dalam pemilihan tersebut.

Sidang pun kemudian dibagi dalam tiga bagian. Sidang pembahasan tatib yang berlangsung cukup hangat dipimpin oleh Maharnis Zul. Sidang Pertanggungjawaban dipimpin oleh Tri Venindra. Sidang komisi-komisi dipimpin oleh Syaiful Rahman.(dod/snt)

17 SISWA SMP 1 BARU KEMBALI DARI MALAYSIA

 


KETUA KOMITE SMPN 1 PAYAKUMBUH, IR MEDIAR INDRA SAAT LAWATAN KE PERAK MALAYSIA MELIHAT DEKAT SEKOLAH DI SANA

 


SEKOLAH DI PERAK MENAMPILKAN ORCHESTRA DALAM MENYAMBUT 17 SISWA SMPN 1 PAYAKUMBUH
SEKOLAH DI PERAK MENAMPILKAN ORCHESTRA DALAM MENYAMBUT 17 SISWA SMPN 1 PAYAKUMBUH

KETUA KOMITE SMPN 1 PAYAKUMBUH, IR MEDIAR INDRA SAAT LAWATAN KE PERAK MALAYSIA MELIHAT DEKAT SEKOLAH DI SANA
KETUA KOMITE SMPN 1 PAYAKUMBUH, IR MEDIAR INDRA SAAT LAWATAN KE PERAK MALAYSIA MELIHAT DEKAT SEKOLAH DI SANA

 

 

 

PAYAKUMBUH, HALUAN

 

17 murid SMPN 1 Payakumbuh, menghilang seminggu lamanya. Kemana mereka? Inilah yang terjawab kemarin di sekolah. Ternyata, sesuai program sekolah 17 siswa bersama 3 orang guru, bersama Komite Sekolah melakukan lawatan ke Malaysia 2-7 April lalu.

 

Perak-Ipoh-Kuala Lumpur-Singapura. Menjadi titik perjalanan para siswa, guru dan komite SMPN 1 Payakumbuh. Studi Banding dan Konsultasi Pendidikan ke Sekolah Dasar, SMP dan SMA Putra Jaya, Slim River, Star (Skolai Tengku Abd Razak) SK Raja Permaisuri Bainun dan SK Marian Convent yang peringkat 1 se Provinsi Perak.

 

Komite SMPN 1 Payakumbuh, Mediar Indra menyebutkan saat berada di Malaysia bersama 4 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki, didampingi Wakil Humas Awalismi, Wakil Sarana Prasarana Syofwarni, dan majelis guru diwakili oleh Silrahmi, Yulianis dan Fadli Gunawan.Tujuan keberangkatan menjajaki kemungkinan kerjasama di bidang kurikulum pendidikan sekolah (Sister School) dengan mengadopsi kurikulum sekolah luar negeri khusunya sekolah di Ipoh Perak Malaysia.

 

Rombongan mengakhiri kunjungannya ke Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur Malaysia.

 

“Status SMPN 1 Payakumbuh yang Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) menuju SBI menuntut sekolah paham dengan sistem pendidikan terbaik di luar negeri. Untuk perbandingan terbaik, kami kunjungi dan rintis kerjasama dengan Malaysia,” ujar Mediar Indra.

 

Sekolah setingkat SMP di Negeri Perak Malaysia seperti SMK Putra Jaya Presint, SMK Agama Slim River, Fully Boarding School Tuanku Abdul Ipoh (STAR), Sekolah Kebangsaan Raja Permaisuri Bainun Ipoh dan Sekolah Kebangsaan Marian Convent, membuka mata dan pengalaman terbaik tentang sistem pendidikan internasional yang berbudaya lokal, Malaysia.

 

“Selama kunjungan kami didampingi langsung utusan Jabatan Pelajaran Negeri Perak (Kementrian Pendidikan Negeri Perak) Encik Safuan Bin Rabaai. Setiap sekolah yang dikunjungi memberikan sambutan yang sangat meriah dengan menampilkan pertunjukan-pertunjukan luar biasa dari siswa di sana. Mulai dari pertunjukan Orkestra, Choral (Bercerita Berirama), Tarian, dan Choir Sekolah, serta Nasyid Islami.

 

“Selain melihat langsung kelebihan dan kehebatan sekolah-sekolah internasional langsung di negaranya, kita juga saksikan betapa budaya Barat dan Islam digabung dalam kebudayaan Melayu yang sopan dan beradab. Inilah mutu dan kelebihan utama yang kita saksikan di Malaysia,” papar Mediar Indra penuh yakin.

 

Rombongan SMPN 1 Payakumbuh pun disambut dengan formalitas. Dijamu dengan makanan-makanan khas di sana serta beberapa makanan yang lazim ditemui di Sumatera. Cindera mata mulai dari pajangan, majalah sekolah dan baju berlogo sekolah masing-masing menjadi oleh-oleh yang berharga bagi guru, murid dan komite SMPN 1 Payakumbuh.(dod)

LAPINDO PINDAH KE PANGKALAN

TELAH ANCAM PANEN PETANI

PANGKALAN, HALUAN


 


Para petani di Nagari Pangkalan, mengeluhkan kondisi aliran air irigasi ke persawahan mereka. Kian hari kian keruh dan dipenuhi lumpur.

“Bagaimana mau bertanam dengan baik, kalau air penuh lumpur dan tanah. Kami, menyiangi sawah beralir air penuh lumpur sehingga sampai panen, kami tidak mendapatkan hasil sawah yang optimal. Kini kian menyusut hasilnya,” ujar Yusfit Yunus petani di Jorong Pasar Baru Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Limapuluh Kota, kemarin di lokasi pertanian mereka.

Menanggapi, keluhan-keluhan petani ini, Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Pangkalan akhirnya memilih turun langsung ke lapangan, Kamis (5/4) kemarin. Ternyata, tidak hanya petani sawah yang kini resah, petani ikan pun mendapatkan nasib tragis dari aliran air dari sungai Sigian yang berubah berlumpur.

3 Jorong, Lubuak Tabuan, Pasar baru dan Tigo Balai, di Pangkalan ini kini terancam gagal panen. Investasi untuk bertanam sawah dan bibit ikan sudah puluhan juta rupiah. Makanya, Bamus Pangkalan dipimpin oleh Khairul bersama anggota Alfianto SH, Azhar, D Roy Datuak M Sinaro, Erizon, Mursyida RY, Yusmalena dan Anwar melihat langsung ke lapangan.

Didampingi juga oleh Kaur Pembangunan Erdinal dan Sekretaris walinagari Nurhasanah, mereka menilik langsung dan menyerap aspirasi petani.

Ditemukan, ternyata endapan lumpur yang mengaliri irigasi tersebut mencapai ketinggian 30 cm sampai dengan 40 cm tingginya. Yusfit Yunus kepada Walinagari dan anggota bamus yang hadir mengatakan lumpur tersebut datang mengaliri saluran irigasi ini setelah adanya kawasan Galian C di hulu sungai.

“ini sangat meresakan petani sawah dan ikan karena berdampak airnya sangat kumuh sekali sehingga menghambat pertumbuhan ikan dan juga dengan adanya lumpur lama-kelamaan akan dapat menyumbat saluran irigasi ini,” tutur Yusfit sambil memperlihatkan endapan lumpur di saluran irigasi.

Kenyataan ini, ditanggapi oleh Bamus untuk segera diproses. Bamus yang setara DPRD di tingkat Nagari memiliki hak pengawasan dan koreksi kebijakan pemerintah nagari. Makanya, Bamus pun segera akan membuat ulasan berikut rekomendasi ke pemerintah nagari dan direferensikan juga ke Camat dan Bupati.

“Masyarakat kita butuh penyelamatan. Kalau kita biarkan ini berlarut-larut, justru pokok ekonomi warga yang bertani dan bertambak ikan akan pudar,” tegas Ketua Bamus Khairul didampingi 11 anggota Bamus usai meninjau lokasi.

Tinggi saluran irigasi yang disaksikan itu, 80 cm. Namun, kondisinya kini, jika masuk ke dalam saluran itu terbenam kaki 30 sampai 40 cm. Jika hari hujan air akan merembes keluar melampaui tembok irigasi karena ketebalan lumpurnya, sehingga menggenangi lingkungan sekitar .(dod)