PAYAKUMBUH BENTUK TIM MONEV

ATLET YANG BERPRESTASI YANG DIUTUS KE PORPROV XII


PAYAKUMBUH

 

KONI Payakumbuh terus bersiap. Hanya hitungan hari, 61 hari lagi pesta olahraga multi iven ini akan digeber di kabupaten yang telah berusia 171 tahun ini. Selaku wilayah yang berada di dalam lingkup geografisnya, Kota Payakumbuh tetap bersikukuh akan merebut prestasi lebih baik dari Porprov XI Agam sebelumnya.

 

“Sebab itu, siang ini kita bentuk tim monitoring dan evaluasi yang tugasnya mendata kesiapan masing-masing cabang olahraga yang akan berlaga di arena Porprov XII. Jadi atau tidak jadi, pokoknya di tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 ini, kontingen Payakumbuh betul-betul siap tempur!” demikian tekad Ketua KONI Kota Payakumbuh Yunir Yalri didampingi Sekretaris Asril dan Kadiparpora Rida Ananda di Ruang Rapat Disparpora Payakumbuh, Rabu (19/9) kemarin.

 

Peserta rapat yang terdiri dari seluruh pengurus KONI Payakumbuh dan Staf Disparpora mengikuti rapat ini dengan serius. Berargumen beberapa peserta rapat, bahwa monitoring dan evaluasi (monev) dapat membuat terjadi dinamika baru bagi persiapan atlet dan cabang olahraga.

 

Hal ini dijawab oleh Yunir Yalri, bahwa monev bertugas mendata. Sampai di sana. Data lapangan serta data dokumen yang dikumpulkan, nantinya akan dirujuk ke sidang panitia atau kontingen untuk merumuskan atlet yang akan diberangkatkan menuju arena Porprov.

 

Baik Rida Ananda maupun Yunir Yalri, menandaskan bahwa selaku peserta, Kota Payakumbuh kini berebut pengaruh dengan tuan rumah. Limapuluh Kota, menurut keduanya, mempersiapkan diri untuk tampil terbaik. Selaku, daerah tetangga, Payakumbuh tentu mendapat regresi kekuatan tim.

 

Meski tidak disebutkan, regresi apa, namun bisa diterka bahwa kekuatan atlet-atlet yang berkualitas akan diopsi oleh atlet itu sendiri. Atlet akan memilih untuk bergabung di tim tuan rumah atau Payakumbuh.

 

Makanya, tim monev ini disegerakan. Kurang waktu dua bulan lagi, multi iven olahraga prestasi Sumbar ini akan digelar. Raihan 15 emas di Porprov 2010 Agam lalu, hendaknya makin meningkat.

 

1,6 MILYAR

 

Disebutkan Yunir Yalri, bahwa dana hibah di APBD 2012 untuk persiapan Porprov oleh KONI berjumlah Rp1,625 miliar. Dijelaskannya kembali, bahwa untuk rinciannya, dianggarkan buat operasional sekretariat sebesar Rp225 juta, Rp525 juta dana pembinaan, Rp900 juta utk cabor yg bertanding terjadwal.

 

Makanya, KONI Payakumbuh telah menerapkan sistem tidak memberikan anggaran bagi cabor yang pengurusnya tidak lagi definitif. Ditambah anggaran pembinaan tahap kedua, tidak akan diberikan bagi cabang olahraga yang belum menyerahkan pertanggungjawaban tahap pertama.

 

25 cabang olahraga awalnya dibantu untuk persiapan menuju Porprov XII. Namun sebab cabang biliar tidak dipertandingkan, ditambah dua cabang; motor dan terbang layang juga mengusulkan atletnya, maka kini sedang dipertimbangkan.

 

“Kedua cabang ini telah mengajukan proposal. Cabang motor dan terbang layang (aerosport) masing-masing mengajukan ruangan Rp38 jutadan Rp80 juta,” aku Yunir Yalri kepada seluruh peserta rapat pembentukan tim monev KONI Payakumbuh.

 

428 kontingen di 2010 lalu menjadi pelajaran berharga bagi KONI Payakumbuh. Ditekadkan, di 2012, meski lokasinya dekat, namun harus lebih tepat sasaran dan tepat prestasi. Juga dibahas tentang bonus atlet yang meraih emas, jika Porprov sebelumnya Rp8 juta setiap emas.

 

“Membatasi, menakar kemampuan dan kemungkinan emas berdasarkan prestasi. Porprov kali ini tidak boleh asal-asalan. Demi prestasi Kota Payakumbuh,” tukuk Yunir Yalri.

 

DODI SYAHPUTRA

 

 

 

 

IPUAH DAN CORAN RINGSEK AKIBAT ANGIN

TERNAK WARGA TERTIMPA POHON, MATI

 

LIMAPULUH KOTA

 

Terjangan puting beliung kembali menghantam Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Situasi terberat dihadapi oleh Kecamatan Lareh Sago Halaban. Angin kencang saat hujan, Selasa (18/9) sore lalu menghantam. Masyarakat ketakutan dan berlarian ke luar rumah yang royong dihantam angin kencang.

 

Jelang maghrib. Warga Jorong Sungai Ipuah dan Jorong Coran, Nagari Sitanang Kecamatan Lareh Sago Halaban kelimpungan.

 

“Kalaulah hujan saja tak mambuat kami ketakutan seperti ini. Angin kencang menghantam keras, kami sangat cemas,” aku salah seorang warga kepada Rakyat Sumbar sore kemarin.

 

Diperoleh informasi sementara bahwa 10 rumah rusak berat, dua ternak sapi warga tertimpa pohon dan mati. Cuaca yang gelap, hujan yang sangat derasnya ditambah dengan angin kencang sungguh membuat warga ketakutan.

 

Pagi tadi, bantuan telah berdatangan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Belum dilaporkan ada korban jiwa.

 

DODI SYAHPUTRA

Menaja Negeri, Minang Dukung Sukses PON

 

Tersiar kabar bahwa akan banyak pergolakan selama PON berlangsung. Ada kelompok masyarakat di Riau yang menolak pelaksanaan PON, menggugat persiapan yang katanya penuh korupsi. Apa pasalnya ini?

 
 

Selaku tamu, kontingen Sumbar tidak memperhatikan hal ini. Sebab, ini di luar tujuan utama. Utamanya adalah raihan 12 emas. Minimal 12 emas. Selayaknya, apapun persoalan hukum dan politik yang terjadi di negeri tuan rumah tidak menganggu konsentrasi atlet dan kontingen untuk memenangkan juara di tiap lomba dan laga.

 
 

Ikatan Keluarga Minang Riau dan Ikatan Mahasiswa Minang Riau Kamis kemarin bersepakat. Puluhan anggota kedua organisasi keluarga Minang itu menaja spanduk dan berorasi di depan kantor PB PON Riau. Tekad rang rantau ini agar PON terus dilangsungkan dengan sukses. Sukses bersama masyarakat Riau.

 
 

Perantau ini adalah warga Riau. PON atau Pekan Olahraga Nasional sudah sejak bertahun-tahun lalu dikomitmenkan dilangsungkan di Bumi Lancang Kuning. Sejak digemakan dengan keras, terakhir di PON XVII 2008 lalu di Kalimantan Timur, Riau seakan jadi magnet nasional. Dari Aceh sampai Papua semuanya menyebut Riau.

 
 

Bumi Melayu yang tak ternama dulunya, kini dikenal dan diagungkan di Indonesia. Pantas saja, setiap minggu ada saja pertemuan olahraga dilakukan. Diikuti pertemuan bisnis dan ekonomi. Tak terbayangkan, Panam yang dulu ladang rumbia itu kini menjadi ladang beton yang berwarna-warni.

 
 

Kontras sekali dengan Yogyakarta, yang warganya mempertahankan tradisi khas warna tradisi yang non kecerahan. Riau kini, telah diwarnai oleh aneka warna. Mobil-mobil mewah bukan lagi pandangan yang aneh di Riau. Bahkan, ketika sampai ke Sumbar, kita hanya melongo dan mendehem. “Ada ya?”

 
 

Komitmen Riau sempat dilanda demam hukum. Meski ini masalah di Riau tetapi telah menasional. KPK bagai telah berkantor di Riau. Telisik yang dikemas pun sampai membuat para pejabat Riau resah. Inilah yang menjadikan pelaksanaan PON banyak tertunda beragam persiapan.

 
 

Laksana Sea Games lalu, waktu itu Presiden RI ambil alih kebijakan dengan Keppres, sedang di PON pencairan dana bantuan pusat dan APBD Rp260 miliar baru disolusikan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Kementerian dan Lembaga dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) tentang Percepatan Persiapan Penyelenggaran PON XVIII tahun 2012 di Riau.

 
 

Tindakan IKMR dan IMMR terhadap keberlangsungan PON Riau patut diapresiasi. Sebab, jika tidak demikian helat akbar olahraga prestasi ini akan dilecehkan dengan beragam tuntutan yang berdasar lain itu. Sukses PON harus memang menjadi fokus utama Riau. Sebab, persoalan personal yang terjadi di ranah hukum tidak bisa menjadi penghalang alek akbar nasional ini.

 
 

PON sendiri boleh jadi milik Riau. Namun 240 juta warga Indonesia berharap sangat untuk menyaksikan, melihat, mendengar dan mengetahui prestasi atlet daerahnya. Termasuk Sumbar yang tetangga 6 jam saja dari Riau. Kini, mau kontingen atau tidak kontingen, banyak warga Sumbar yang bergerak ke Riau hendak menyaksikan perkembangan prestasi atletnya.

 
 

Inilah olahraga. Sebuah desain hidup yang menyehatkan, memprestasikan dan menghidupkan ekonomi. Olahraga kini telah menjadi sistem hidup yang tak bisa dipisahkan. Biar hanya menonton saja, namun eksplorasi emosi di tepi lapangan dan spirit suporter menjadikan banyak orang bersedia begadang sampai pagi demi menonton tim sepakbolanya di depan televisi.

 
 

Makanya, tidak disangsikan lagi yang dilakukan IKMR dan IMMR itu bagian spirit olahraga yang harusnya juga didukung oleh seluruh masyarakat Sumbar. Organisasi rantau ini secara haq pun telah menginstruksikan untuk mendukung kontingen Sumbar di setiap arena. Insya Allah, Sumbar Emas di tangan kita.

AKREDITASI, SIBUKKAN KONTINGEN

 

PEKANBARU

 

WAKIL KETUA UMUM I KONTINGEN PON SUMBAR, SYAIFUL SH MHUM BERAKTIFITAS DEMI SUKSES KONTINGEN DI RIAU


 

2012, tampaknya tahun baru bagi otomatisasi data atlet, pelatih, ofisial dan kontingen seluruh provinsi di Indonesia. Termasuk tuan rumah Riau, harus mendirikan Kantor Bidang Akreditasi sendiri yang mengurus kesahihan kepesertaan atlet, pelatih, ofisial dan kontingen. Seluruh kontingen provinsi se-Indonesia, belum lagi wartawan media dan pengurus KONI Pusat sampai daerah, cabang olahraga serta tamu ditangani di kantor ini.

 

Terbayangkan, bagaimana kesibukan di hari-hari terakhir pengurusan legalitas pemegang identitas diri (ID). Termasuk Sumbar, harus berkali-kali dicocokkan ulang, dijemput dan dikirimkan data ulang, direvisi, diimbuh dan dikurangi. Kesibukan ini dilakoni oleh Wakil Ketua Umum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum dan Anggota Bidang Humas Dodi Syahputra. Memang, antrian tak beraturan, petugas akreditasi yang sibuk alang kepalang, server data yang loading lama alias lola menjadi kendala.

 

“Menghimpun dan mempersiapkan penyambutan perantau, serta upacara di Pekanbaru telah kita selesaikan. Urusan akreditasi ini jika kita biarkan tanpa kita kawal, akan membuat seluruh persiapan kita menjadi hancur. Sebab, atlet untuk berlaga harus memiliki ID Card agar teregistrasi di lapangan. Ofisial dan kontingen pun demikian,” ujar Syaiful SH MHum menanggapi persoalan kesibukan tambahan yang melelahkan ini.

 

Teknologi dan sistem baru. Sistem ID Card teregistrasi ini tampaknya masih baru bagi beberapa daerah. Sehingga, banyak yang harus mengulang data, melampirkan kelengkapan dan sebagainya. Bukan tidak dipungkiri juga di Akreditasi Panpel sendiri terlihat petugas belum memuaskan kinerja dan kemampuannya.

 

Inilah yang membuat Sumbar ikut terbawa rumit. Untungnya, keuletan dan gigihnya Wakil Ketua I Kontingen Sumbar Syaiful SH MHum mengawal langsung proses akreditasi ini membuat petugas ikut sigap bekerja.

 

“Kalau tidak dikawal, akan lambat urusan kita ini. Kalau lambat lagi, akan tidak bisa berlaga. Tidak ada yang salah, yang salah hanya komunikasi dan eksekusi kita dan panpel yang belum matching sempurna,” ujar Syaiful SH MHum dengan bijaksana.

 

SUMBAR JUMAT PAGI

 

Rencana awal tidak berubah. Kabar dari ranah Sumbar menyebutkan pukul 7 pagi hari Jumat, kontingen akan berangkat bersamaan. Sementara itu, ada beberapa bagian kontingen yang telah berangkat duluan ke arena. Seperti futsal dan sepakbola. Masing-masing telah tiba di Tembilahan dan Kampar.

 

Seluruh kontingen direncanakan dilepas Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dipimpin Wakil Gubernur Muslim Kasim. Bus-Bus dan mobil itu akan rehat siang di Rumah Makan Sederhana Pangkalan, Limapuluh Kota.

 

Di rumah makan yang baru milik Datuak Aco itu akan dilayani seluruh kontingen dengan menu makan siang Rumah Makan Sederhana yang khas dan enak.

 

Sampai di Pekanbaru, gandang tasa dan silek galombang menanti. Hup ta, hup ti, Muslim Kasim akan dinanti Basrizal Koto. Basko yang Ketua IKMR ini telah mempersiapkan segenap persiapan di kediamannya yang luas di jalan Diponegoro, Pekanbaru.

 

Adismar Amnur ditunjuk bersama oleh seluruh keluarga Minang di Riau untuk menjadi ketua penyambutan urang Awak di rantau Riau. Sekreris panpel penyambutan Marjoni Hendri mengatakan Riau akan menjadi rumah sendiri bagi para atlet dan kontingen Sumbar.

 

DODI SYAHPUTRA

Riau Membangun dari bawah, Sumbar dari Atas


Oleh Dodi Syahputra

 

Jika saja penafsiran kita singkat, barangkali judul di atas akan asal bunyi. Tetapi, penulis memaksudkannya bahwa pembangunan yang biayanya dibebankan ke anggaran negara, sugguh berbeda bumi dan langit antara dua provinsi jiran ini. Riau terus memburu beragam bentuk pembangunan infrastruktur dari APBD yang dipenuhi asal bagi hasil kekayaan daerahnya, sedangkan Sumbar dari DAU dan DAK nya.

 

Barangkali ini akan menjadi wajar saja tidak perlu dikedepankan, kalaulah tidak kita kaji soal kemauan dan kenyataan bahwa masyarakat Riau sekarang justru berpandangan lebih maju. Masyarakat Riau kini setiap hari selalu mengkritisi pemerintahnya menyoal pelayanan publik yang timpang. Maka itu, pelayanan publik segera menjadi acuan pembangunannya.

 

Kalau di Sumbar, jika boleh membandingkan, saya saja ditekan agar jangan banyak menuntut dan menukilkan tuntutan warga saya. Sebab, pembangunan di Sumbar rupanya, lebih porsi dari iba pusat, lewat program bantuan ini dan itu. Janggal sekali kiranya membandingkan presentase pembangunan antar dua daerah yang berdekatan, bersinggungan dan hampir sama tipe masyarakatnya ini.

 

Riau kini jangan dipandang dua tahun lalu, atau bernostalgia dua puluh tahun lalu. Jauh sangat. Karena, masyarakat Riau kini sudah begitu partisipatif terhadap setiap bentuk perubahan. Jika dulu kita sebut, warga Sumbar itu kritis, kini kritisnya warga Riau lebih kental dan padat berisi. PON yang mau dikembang saja, rumitnya minta ampun, sampai-sampai mengantar pejabat dan anggota dewan ke kursi pesakitan.

 

Anjing menyalak, kafilah tetap jalan. Pelaksnaan PON tidak terganggu oleh derap langkah aparat penegak hukum di Riau. KPK datang, PON tetap jalan. Inilah hebatnya, prosedur tetap sudah ada, tinggal dijalani saja. Meski dalam aplikasi banyak hal yang tersendat, namun dianggap bukan kendala berarti.

 

Bicara Kota Pekanbaru saja, marawa merah-kuning-hijau khas Melayu diletakkan di setiap rumah, kedai, toko, ruku, kantor, bahkan rumah sakit jiwa. Semua mawara ini, setiap hari tiga kali sehari dijagai oleh petugas khusus yang bolak-balik, mondar-mandir di Pekanbaru memperhatikan dan memperbaiki letak yang jelek. Luar biasa.

 

Setiap penyusunan anggaran dilakukan di DPRD, tentu jumlah rupiah APBD yang akan dibagi menjadi program publik terjadi ketimpangan. Bedanya, di Riau ketimpangan bahwa ada proporsi pembagian program dan program pembangunan fisik yang harus dipatuhi.

 

Sedang di Sumbar, anggaran selalu berstrategi defisit. Inilah beda yang harus kita sadari bahwa Riau membangun dari bawah, dari hasilnya sendiri, bahkan kurang. Sumbar membangun dari atas, lebih banyak program bantuan pusat yang artinya bergantung kepada bantuan hasil daerah lain, termasuk Riau.

 

Tidak baik membanding-bandingkan. Namun, kalau terus dibiarkan akan menjadi bumerang tersendiri. Coba saja, nostalgia lama bahwa Malaysia berguru ke Indonesia, kini malah jadi pameo bahwa Indonesia menjadi pemasok buruh ke negeri jiran ini. Malaysia terus belajar dan berubah, sedang kita seperti tak berubah-ubah.

 

Membandingkan Riau dengan Sumbar agak menyakitkan hati. Pertumbuhan pembangunan yang luar biasa, disentil oleh perantau, ada yang bilang saat pulang Lebaran lalu, tak banyak yang berubah. Sumbar masih hijau, belum terberdayakan.

 

Lalu siapa yang salah? Tak ada. Mungkin nasib Sumbar untuk menjadi tuan rumah PON hanya akan tersimpan di buku besar aspirasi rakyat. Sumbar akan terus menjadi peserta PON dengan memboyong kontingen ratusan orang kemana-mana di Indonesia, Sabang sampai Merauke, tanpa pernah menjadi tuan rumah multiiven nasional ini. Entah kalau tidak?

 

DODI SYAHPUTRA

ALEK SAMBUTAN, DUKUNG SUMBAR

WAKETUM I SYAIFUL SEOPTIMIS PERANTAU


 


Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum di Kantor Akreditasi PB PON melakukan verifikasi data akhir untuk identitas kontingen Sumbar -12


Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum di Kantor Akreditasi PB PON melakukan verifikasi data akhir untuk identitas kontingen Sumbar -13


Waketum I KONI Sumbar Syaiful SH MHum tengah berada di Kantor Ikatan Keluarga Minang Riau – IKMR Pekanbaru – Sabtu

PEKANBARU

 

Kontingen Sumatera Barat siap memboyong emas di arena Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau. Tekad kuat ini bahkan ditunjukkan tidak hanya oleh masyarakat Sumatera Barat, namun juga para perantau Minang yang ada di Riau. Sebab ini, Wakil Ketua Umum I Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Sumatera Barat Syaiful SH Mhum bersama anggota bidang humas Dodi Syahputra bergesa menemui perantau Minang di Riau sejak beberapa hari yang lalu.

 

“Kami telah menemui dua organisasi besar rantau, Ikatan Keluarga Minang Riau dan Persatuan Keluarga Daerah Pariaman. Menyusul kepada organisasi rantau lainnya, yang akan menyambut kedatangan kontingen Sumbar di Riau, mulai 7 September mendatang,” ujar Syaiful.

 

Selain menemui perantau, juga dilakukan verifikasi data kembali untuk kepentingan lisensi kontingen di Kantor Bidang Akreditasi PB PON. Memang agak melelahkan, namun, akhirnya terselesaikan urusan akreditasi seluruh kontingen dengan rapi. Akreditasi ini sangat diperlukan nantinya bagi kontingen; atlet, pelatih, ofisial, sekretariat sampai tamu VIP. Sebab, di identitas kepesertaan ini juga diterakan fasilitas serta keleluasaan gerak yang diberikan.

 

Khusus untuk wartawan media, baik yang beserta dengan kontingen maupun berangkat atas perintah media masing-masing, sebelumnya telah memberikan data lengkap serta telah diakreditasi lebih lanjut. Menurut Kepala Urusan Pelayanan Media PB PON, Nurul Huda, dalam waktu dekat kelengkapan identitas wartawan akan diselesaikan secara serentak. Wartawan tulis, cetak, online, radio, televisi, online dan lainnya.

 

Riau sendiri sudah komit untuk menggelar hajatan resmi ini ulai 9 September 2012. Tentang pembukaan oleh Presiden RI yang diundur 2 hari, menurut panitia sendiri tidak jadi persoalan. Semua telah diatur rapi, sehingga tidak ada jadwal pertandingan yang tertindih begitu berarti.

 

PERANTAU OPTIMIS

 

Perantau Minang di Riau, seluruhnya menunjukkan optimisme Sumbar mampu menebas target 12 emas. Novaldi Herman, salah seorang mahasiswa asal Padang di Universitas Riau mengaku selalu mengikuti perkembangan persiapan Sumbar. Menurutnya, Sumbar memiliki rising star, kelebihan mental dan fisik atlet, serta tekad yang luar biasa untuk menggaet prestasi terbaik.

 

“Untuk cabang-cabang olahraga andalan Sumbar, saya yakin target 12 emas bisa direbut. Ditambah, cabang olahraga lainnya yang akan memunculkan atlet-atlet luar biasa,” ujar Novaldi yang aktif di kampus. Mahasiswa ini berkampung di Sungai Limau Padangpariaman.

 

Tak hanya itu, persiapan untuk menyambut atlet Sumbar yang akan berlaga di Bumi Lancang Kuning juga tak main-main. Para perantau telah mempersiapkan lebih dari sekadar kalungan bunga. Pesta meriah penyambutan juga disusun dengan rapi. Kontingen yang akan dipimpin langsung Gubernur Sumbar H Irwan Prayitno, Wakil Gubernur H Muslim Kasim, Ketua KONI H Syahrial Bakhtiar dan tim lainnya tentu tak menjadi asing di Riau nantinya.

 

“Kita akan sambut Sumbar di Riau seakan datang di kampung sendiri. Kami, para perantau akan menggelar helat besar bagi kontingen Sumbar!” tekad para perantau yang berkumpul di kawasan Nangka, Pekanbaru.

 

PON menjadi ikon besar bagi Riau. Sebab PON telah banyak perkembangan dan perubahan ekonomi terjadi. Selama masa persiapan empat tahun berjalan, sekian banyak pula ekonomi kerakyatan kian muncul di Riau. Ekonomi kerakyatan ini sebagiannya dikemudikan oleh warga Minang di rantau Lancang Kuning ini.

 

DODI SYAHPUTRA

MUSLIM KASIM, HARUSKAH TURUN TANGAN?

PORPROV XII SUMBAR DI LIMAPULUH KOTA, 12 DESEMBER 2012

 

OLEH: DODI SYAHPUTRA


“Tak perlu saya yakinkan lagi. Kita sudah buktikan, bahwa iven olahraga akan membawa kedahsyatan bagi ekonomi lokal. Khususnya di Limapuluh Kota selaku tuan rumah, pemerintahnya harus yakin bahwa masyarakat akan ikut tersejahterakan.”

 

Ungkapan Wakil Gubernur Sumbar usai berbuka puasa di Rumah Dinas Bupati Limapuluh Kota di Labuah Basilang Payakumbuh beberapa waktu lalu, itu diungkapkannya dengan semangat tinggi. Mantan Ketua Umum Porprov XI Sumbar ini sangat yakin dengan pernyataannya ini. Bersama Ketua KONI Sumbar yang juga Kadispora Sumbar Syahrial Bakhtiar bersama rombongan safari Ramadhan ke Akabiluru, akhir pekan lalu.

 

Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim mengatakan untuk masalah apapun ada jalan keluarnya. Asalkan, panitia mau mendiskusikannya dengan pihak provinsi. Sebagaimana komitmen seluruh kepala daerah, untuk Porprov XII tahun 2012, maka seluruh kabupaten dan kota ‘badoncek’ atau beriur Rp50 juta sampai Rp100 juta masing-masingnya untuk pelaksanaan Porprov di Limapuluh Kota.

 

Tanpa dan tidak menyebut bantuan provinsi secara materi, Muslim Kasim dengan sumringah, juga menyebut bahwa akan tumbuh dan berkembang putaran dan pusaran ekonomi di Limapuluh Kota saat Porprov.

 

“Bayangkan, ribuan atlet, pelatih dan ofisial dari berbagai daerah di Sumbar akan memanfaatkan transportasi, makanan, penganan, minuman, oleh-oleh, serta beragam kebutuhan dasar hidup di saat Porprov. Masyarakat, sudah seharusnya melihat ini sebagai peluang untuk menjual produk unggulan, serta jasa terkait dengan iven ini nantinya.

 

Muslim Kasim melihat semangat masyarakat Limapuluh Kota dengan gelaran 30 cabang olahraga plus 2 cabang eksebisi nantinya akan bertempat di sebaran kecamatan-kecamatan yang lokasinya hampir merata namun terjangkau transportasi dan komunikasi. Publik, sudah harus agresif menilik kemungkinan lokasi berjualan, strategi penjualan dan lainnya.

 

Ibarat pameran, di Porporov nantinya orang akan belanja secara porsi besar. Oleh-oleh pakaian, misalnya minimal 2 pasang akan diborong oleh satu orang. Galamai atau bareh randang, khas Luak Limopuluah, akan dibawa pulang, dibeli para atlet atau pelatih dan kontingen dalam jumlah besar.

 

Perputaran ekonomi olahraga inilah yang menjadikan ikon bisnis tersendiri di bidang ini. Sport bussines. Begitu besarnya perputaran uang di segmen ini, tetapi selalu menguntungkan semua pihak. Tidak kalangan elitenya saja. Masyarakatnya juga.

 

POLEMIK

 

Menyoal polemik kepanitiaan yang kini banyak kosong dan ditinggalkan pejabat yang pindah tugas dan daerah, menurut Wagub Muslim Kasim, disinilah letak komunikasi itu berada. Mestinya, Panpel lewat Ketua Umum terus melaporkan hal ini ke Gubernur atau ke KONI Sumbar, selaku steering comitte.

 

“Soal SK atau surat keputusan gubernur kan bisa direvisi segera. Jika, memang dibutuhkan dan penting, keputusan terbaik harus segera kita ambil. Komunikasi terus harus dilakukan. Setiap perkembangan dan kendala, sehingga bisa kita atasi bersama,” ungkap Wagub bersama Ketua Umum KONI Sumbar di dekat Bupati Alis Marajo yang berposisi sebagai penanggung jawab Porprov XII.

 

Sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi, akan menimbulkan kebanggaan, menimbulkan multiplier effect, kesejahteraan masyarakat. Muslim Kasim menyatakan bahwa seluruh aparatur pemerintahan di Limapuluh Kota, Kepolisian serta aparat lainnya, hendaknya gigih memperlihatkan semangat sukses Porprov ini.

 

“Olahraga itu semangat. Spirit. Tanpa itu, niscaya jiwa sukses olahraga tidak terbentuk,” Muslim Kasim mengingatkan.

 

ROMBAK PANPEL

 

Memang, ibarat sumpah, tekad tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 itu bukan hanya dianggukkan oleh tuan rumah semata. Seluruh Kepala Daerah, KONI kabupaten dan Kota serta seluruh masyarakat olahraga di Sumbar sudah komitmen di tanggal itu. Kalau memang ada desahan minta diundur oleh beberapa kalangan, itu jelas di luar komitmen awal.

 

Makanya, disebabkan 109 hari lagi, waktu untuk mempersiapkan pembakaran obor utama multi iven se-Sumbar ini, tak ayal panitia pelaksana, seluruhnya harus kian berpacu. Tak bisa, dibicarakan di meja rapat saja. Harus betul-betul turun ke lapangan, mempersiapkan alat, program, model, kesiapan teknis, kesiapan pendanaan, kesiapan lain-lain. Sejak hari ini, saya bilang, panpel harus benar-benar solid demi jayanya prestasi olahraga.

 

O, soal terkait atau tidaknya sukses Porprov dengan sukses jabatan para pejabat yang menduduki kepanitiaan inti, tidak masuk pikiran saya. Selaku penggiat olahraga, sebagaimana disebutkan oleh UU Olahraga Nomor 3 Tahun 2005, saya pantas uring-uringan kalau panpel tidak serius. Tidak bertekad kuat sekuat tekad Bupati Alis Marajo menerima estafet bendera dari Wagub Muslim Kasim di 2010 di Lubuak Basuang, Agam.

 

Sekenaan dengan kepanitiaan yang timpang, ada pejabat yang sudah pindah atau tidak tepat lagi di posisinya, gampang saja. Menurut Muslim Kasim tinggal diajukan revisi kepanitiaan. Provinsi, KONI Sumbar tentu akan segera melegalisasi. Namun, kalau komunikasinya saja sudah berjarak, jauh, dan ragu-ragu, bagaimana Limapuluh Kota yang sudah berumur 171 tahun, baru kali ini berkesempatan menggeber multi iven bertaraf Sumatera Barat.

 

Soal pendanaan, harusnya juga dipacu. Riau yang berkasus korupsi penganggaran fasilitas PON jangan dijadikan alasan ketakutan. Maka, jujur dan komunikasikan setiap tindakan ke publik. Komunikasikan setiap kebijakan ke lembaga yang sepadan. Jangan berpikir, bertindak dan jemu di atmosfir panitia sendiri.

 

Toh, Muslim Kasim sendiri dengan sedikit tegas, membelalakkan matanya, mengataan setiap kabupaten dan kota sudah menganggarkan iuran, julo-julo, urung rembuk anggaran Porprov. Setiap kabupaten dan kota kata mantan Bupati Padangpariaman ini sudah sepakat Rp50-100 juta.

 

Kalau begitu, sudahkah tuan rumah atau Panitia Pelaksana melaksanakan tindakan administratif. Menyurati. Berkomunikasi. Jikapun di Provinsi sudah ada onggok anggarannya, kalau tidak diminta oleh panpel mana mungkin dikucurkan? Nah, jawabannya, tindakan administratif belum pernah dilaksanakan.

 

Saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa Panpel tidak bisa 100 persen bisa. Bisa melaksanakan setiap tindakan persiapan, pelaksanaan, pengawasan dan aksesoris kegiatan, sempurna. Jika tidak, tentu ada tempat bertanya. Sudahkah panitia pelaksana Porprov yang seluruhnya pejabat dan tokoh Limapuluh Kota itu berkomunikasi secara intensif atau menempatkan petugasnya untuk menjaring input-input?

 

Ah, posesif kalau saya sepertinya pesimis. Tapi, saya sangatlah optimis. Optimis sebab Porprov adalah bagian sukses saya selaku penggiat olahraga. Tak harus pandai berolahraga, penggiat olahraga diharuskan peduli dan sadar tentang prestasi olahraga. Itu saja!

 

DODI SYAHPUTRA

HADIRKAN KEDAHSYATAN EKONOMI

PORPROV XII SUMBAR DI LIMAPULUH KOTA, 12 DESEMBER 2012


OLEH: DODI SYAHPUTRA

 

 

“Tak perlu saya yakinkan lagi. Kita sudah buktikan, bahwa iven olahraga akan membawa kedahsyatan bagi ekonomi lokal. Khususnya di Limapuluh Kota selaku tuan rumah, pemerintahnya harus yakin bahwa masyarakat akan ikut tersejahterakan.”

 

Ungkapan Wakil Gubernur Sumbar usai berbuka puasa di Rumah Dinas Bupati Limapuluh Kota di Labuah Basilang Payakumbuh itu diungkapkannya dengan semangat tinggi. Mantan Ketua Umum Porprov XI Sumbar ini sangat yakin dengan pernyataannya ini. Bersama Ketua KONI Sumbar yang juga Kadispora Sumbar Syahrial Bakhtiar bersama rombongan safari Ramadhan ke Akabiluru, akhir pekan lalu.

 

Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim mengatakan untuk masalah apapun ada jalan keluarnya. Asalkan, panitia mau mendiskusikannya dengan pihak provinsi. Sebagaimana komitmen seluruh kepala daerah, untuk Porprov XII tahun 2012, maka seluruh kabupaten dan kota ‘badoncek’ atau beriur Rp50 juta sampai Rp100 juta masing-masingnya untuk pelaksanaan Porprov di Limapuluh Kota.

 

Tanpa dan tidak menyebut bantuan provinsi secara materi, Muslim Kasim dengan sumringah, juga menyebut bahwa akan tumbuh dan berkembang putaran dan pusaran ekonomi di Limapuluh Kota saat Porprov.

 

“Bayangkan, ribuan atlet, pelatih dan ofisial dari berbagai daerah di Sumbar akan memanfaatkan transportasi, makanan, penganan, minuman, oleh-oleh, serta beragam kebutuhan dasar hidup di saat Porprov. Masyarakat, sudah seharusnya melihat ini sebagai peluang untuk menjual produk unggulan, serta jasa terkait dengan iven ini nantinya.

 

Muslim Kasim melihat semangat masyarakat Limapuluh Kota dengan gelaran 30 cabang olahraga plus 2 cabang eksebisi nantinya akan bertempat di sebaran kecamatan-kecamatan yang lokasinya hampir merata namun terjangkau transportasi dan komunikasi. Publik, sudah harus agresif menilik kemungkinan lokasi berjualan, strategi penjualan dan lainnya.

 

Ibarat pameran, di Porporov nantinya orang akan belanja secara porsi besar. Oleh-oleh pakaian, misalnya minimal 2 pasang akan diborong oleh satu orang. Galamai atau bareh randang, khas Luak Limopuluah, akan dibawa pulang, dibeli para atlet atau pelatih dan kontingen dalam jumlah besar.

 

Perputaran ekonomi olahraga inilah yang menjadikan ikon bisnis tersendiri di bidang ini. Sport bussines. Begitu besarnya perputaran uang di segmen ini, tetapi selalu menguntungkan semua pihak. Tidak kalangan elitenya saja. Masyarakatnya juga.

 

POLEMIK

 

Menyoal polemik kepanitiaan yang kini banyak kosong dan ditinggalkan pejabat yang pindah tugas dan daerah, menurut Wagub Muslim Kasim, disinilah letak komunikasi itu berada. Mestinya, Panpel lewat Ketua Umum terus melaporkan hal ini ke Gubernur atau ke KONI Sumbar, selaku steering comitte.

 

“Soal SK atau surat keputusan gubernur kan bisa direvisi segera. Jika, memang dibutuhkan dan penting, keputusan terbaik harus segera kita ambil. Komunikasi terus harus dilakukan. Setiap perkembangan dan kendala, sehingga bisa kita atasi bersama,” ungkap Wagub bersama Ketua Umum KONI Sumbar di dekat Bupati Alis Marajo yang berposisi sebagai penanggung jawab Porprov XII.

 

Sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi, akan menimbulkan kebanggaan, menimbulkan multiplier effect, kesejahteraan masyarakat. Muslim Kasim menyatakan bahwa seluruh aparatur pemerintahan di Limapuluh Kota, Kepolisian serta aparat lainnya, hendaknya gigih memperlihatkan semangat sukses Porprov ini.

 

“Olahraga itu semangat. Spirit. Tanpa itu, niscaya jiwa sukses olahraga tidak terbentuk,” Muslim Kasim mengingatkan.

 

DODI SYAHPUTRA